DaerahIndonesiana

Merti Dukuh Getasari Boyolali: Lestarikan Warisan Leluhur dalam Semarak Kirab, Tirto Suci, dan Gunungan Hasil Bumi

×

Merti Dukuh Getasari Boyolali: Lestarikan Warisan Leluhur dalam Semarak Kirab, Tirto Suci, dan Gunungan Hasil Bumi

Sebarkan artikel ini
Merti dukuh di Boyolali

BOYOLALI –TERASDEPOK.COM | Tradisi Merti Dukuh Getasari, RW 02 Desa Gladagsari, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, berlangsung meriah dan penuh makna pada 15–18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

Rangkaian acara dimulai pada Kamis (15/10) sore dengan doa bersama lintas agama di makam desa setempat. Umat Islam, Buddha, Hindu, Katolik, Protestan, hingga penghayat kepercayaan berkumpul dalam harmoni, menunjukkan toleransi dan kerukunan yang kuat di tengah keberagaman masyarakat.

Malam harinya, prosesi pengambilan air Tirto Suci Perwito Sari dilakukan di Kali Kerok, wilayah Dukuh Getasari. Air ini diyakini membawa harapan kesucian niat, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh warga desa.

Usai pengambilan air, dilaksanakan malam tirakatan yang diisi penampilan tari kreasi karya warga setempat. Suasana kebersamaan terasa begitu kental, menjadi pengantar hangat menuju puncak perayaan.

Puncak acara berlangsung Minggu (18/10), dimulai pukul 08.00 WIB dengan kirab budaya dari makam dukuh menuju Balai Desa Lama Gladagsari. Arak-arakan membelah jalan desa dengan penuh semangat dan kegembiraan.

Kirab menampilkan beragam kekayaan seni lokal: Paskibra, pasukan pengiring bergodo, pembawa Tirto Suci, gunungan hasil bumi, drumblek, jaranan anak-anak, Topeng Ireng, seni angguk, kelompok warok, hingga Celeng Gonteng. Semua dipersembahkan oleh warga dari anak-anak hingga lansia.

Setibanya di Balai Desa Lama, prosesi pemercikan Tirto Suci Perwito Sari ke gunungan hasil bumi dilakukan Camat Gladagsari bersama TNI, Polri, dan tokoh masyarakat. Momen ini menjadi yang paling dinantikan oleh seluruh warga.

Tak lama kemudian, warga dengan antusias mendekat dan berebut hasil bumi dari gunungan tersebut sebagai tradisi ngalap berkah. Hasil bumi dipercaya membawa keberuntungan, rezeki, dan harapan baik bagi setiap keluarga.

Gunungan hasil bumi bukan sekadar simbol rasa syukur atas limpahan panen, melainkan juga penghormatan terhadap kerja keras para petani dan keterikatan masyarakat dengan alam.

Usai prosesi gunungan, beragam pertunjukan kesenian tradisional terus ditampilkan. Ini menjadi ruang berharga bagi anak-anak mengenal budaya sejak dini, sementara para tetua mewariskan pengetahuan leluhur.

Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah, anggota DPRD Boyolali, TNI, Polri, serta tokoh masyarakat. Kehadiran mereka memperkuat dukungan agar tradisi ini terus lestari dari generasi ke generasi.

Seluruh rangkaian acara berjalan lancar, tertib, dan penuh kehangatan. Merti Dukuh Getasari bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jati diri yang menyatukan seni, kebersamaan, toleransi, dan rasa syukur dalam satu ikatan.

Semangat inilah yang menjadikan budaya tetap hidup: bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi nilai kehidupan yang terus dijaga dan diwariskan bersama.**(S.Ragil)

Tinggalkan Balasan