Depok — Terasdepok — Kota Depok jauh sebelum lahir pada 1999, menyimpan kisah dan jejak peninggalan masa kolonial yang masih sangat kental hingga sekarang. Tepatnya di Jalan Pemuda Kecamatan Pancoran Mas (Panmas), sejumlah bangunan klasik masih berdiri kokoh di antara pemukiman dan pertokoan modern.
Nyaris tidak terlihat mata, di balik pemukiman dan pertokoan modern itu tersimpan jejak sejarah bekas ‘Istana Presiden Depok’. Dibangun pada 1930-an oleh Johanes Mathijs Jonathans – pemimpin terakhir yang memimpin pemerintahan sipil di kawasan Depok era 1946-1952.
Ketika pagar hitam dibuka jelas terlihat bangunan bergaya Indisch dengan jendela krepyak tinggi, pintu-pintu kayu besar, tembok berwarna krem dan berlantai tegel merah membawa suasana kental khas era zaman dulu.
Jejak Peninggalan
Rumah yang berusia 9 dekade itu kini ditempati Yahya Jonathans, Cucu dari Johanes Mathijs Jonathans yang juga lahir dan besar di rumah tersebut.
“Rumah ini ditinggali oleh keluarga kami mulai dari kakek, ayah, dan saya sekarang penerusnya,” ujar Yahya saat ditemui awak media.
Yahya bercerita bangunan seluas 1.800 meter persegi ini masih orisinil, hanya beberapa bagian yang dilakukan perawatan karena sudah lapuk dimakan usia. Selain itu juga bagian belakang rumah sudah dijual ke pengembang yang kini menjadi kawasan perumahan.
Di halaman rumah itu, Yahya kembali mengingat sosok sang kakek. Sama seperti lansia pada umumnya, Presiden J.M. Jonathans di masa tua sering duduk bersantai di ruang tamu sambil melukis karikatur di selembar kertas yang menjadi hobinya.
“Sosok kakek saya itu orangnya baik suka main dengan cucu-cucunya, suka melukis di kertas biasa sehari-hari aktivitasnya,” katanya.
Kala itu Yahya kecil banyak menghabiskan waktu di rumah bersama hingga sang Presiden Depok berpulang ke Yang Maha Kuasa pada 1973. Karena masih terbilang kecil, Yahya tidak mengetahui bahwa kakeknya merupakan orang terpandang di wilayah tersebut, kala itu.
Baca Juga : Terkuak, Kata Depok Singkatan dari Organisasi Kristen Protestan Pertama dalam Bahasa Belanda
Untuk mengenang sosok J.M. Jonathans, Yahya dan keluarganya masih menyimpan dengan baik barang-barang peninggalan mendiang sang kakek. Seperti tempat tidur, foto-foto, buku-buku, hingga rak dikamar yang ada di dekat teras rumah.
“Kamar ini didesain untuk mengenang kakek, semua barangnya masih kami rawat dengan baik agar yang berkunjung kesini bisa lihat-lihat,” jelas Yahya.
Miliki Sembilan Presiden
Johanes Mathjis Jonathans merupakan Presiden Depok ke-9 atau terakhir yang memimpin Gementee Bestuur van het Land Depok. Sebuah pemerintahan lokal yang bertugas mengelola tanah partikelir peninggalan Cornelis Chastelein sesuai amanat dalam surat wasiatnya.
Baca Juga : Jelajahi Mall Rongsok Depok, Ada Koleksi Pintu Helikopter
Seorang advokat dari Batavia kepercayaan Chastelein menggagas sistem pemerintahan mandiri (zelfbestuur) bagi Depok. Sebab, saat itu terjadi konflik akibat penguasaan tanah, sampai pada tahun 1871 gagasan pembentukan pemerintahan itu akhirnya dimulai.
Koordinator Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Boy Loen mengungkapkan, Presiden Depok waktu dulu itu adalah pemimpin untuk sebuah organisasi Gementee Bestuur van het Land Depok.
Di dalam struktur kepemimpinannya terdapat ketua, sekretaris, bendahara, dan dua orang anggota yang menjalankan organisasi tersebut selama tiga tahun masa satu periode.
“Tugasnya sangat mulia bertanggung jawab atas kesejahteraan Kaum Depok tentang pendidikannya, infrastruktur, keamanan dan lain sebagainya sejak zaman Hindia Belanda,” ungkapnya.
Setelah melewati perdebatan panjang tentang pembentukan organisasi dan calon pemimpinnya, pada 1913 Gementee Bestuur Depok resmi disahkan dan Gerard Jonathans terpilih secara demokratis sebagai Presiden Pertama di gedung pertemuan yang kini menjadi SMA Kasih.
Di bawah Gemeente Bestuur, kesejahteraan masyarakat Depok begitu terjamin. Pendidikan dan ketersediaan pangan digratiskan, bahkan lulusan sekolah di Depok mahir berbahasa Belanda, sehingga mereka mudah diterima bekerja di perusahaan besar seperti De Javasche Bank (kini Bank Indonesia) di Batavia (kini Jakarta).
Baca Juga : Pohon Kamper, Bahan Pengawet Mumi yang Terancam Punah Digerus Sawit
9 Presiden di Depok
Sejak 1913-1952, Depok dipimpin oleh sembilan Presiden yaitu Gerard Jonathans (1913-1921), Martinus Laurens (1921-1926), Andries J. Jonathans (1926-1929), Leonardus Leander (1929-1932), Frederik S. Laurens (1932-1935), G. Loen (1935-1938), Johanes M. Jonathans (1938-1939), Jozef C. Jonathans (1939-19420, dan Johanes M. Jonathans (1946-1952).
Pemilihan Presiden Depok kala itu terbilang cukup demokratis, setiap pengurus Gemeente Bestuur memberikan hak suaranya untuk memilih siapa pemimpin berikutnya. Setiap calon Presiden diajukan langsung oleh warga Kaum Depok, latar belakangnya pun bukan main-main, pendidikan tentu saja harus baik, wawasan luas, dan tidak cacat secara fisik.
Boy Loen menuturkan, setiap akan melakukan proses pemilihan umum (pemilu) calon Presiden Depok selalu diumumkan di koran berbahasa Belanda kala itu di Batavia.
“Sebelum pemilihan atau pergantian pengurus baru, pengurus yang lama melaporkan pertanggungjawaban di masa periodenya. Kemudian calon Presiden baru memaparkan visi misinya terhadap organisasi ini. Setelah itu pemilihan baru dimulai satu orang satu voting yang berlangsung di ruang pertemuan sekarang jadi SMA Kasih,” tuturnya.
“Semua calon Presiden kala itu punya gagasan yang bagus terhadap organisasi ini ke depannya, dan saya katakan pada waktu itu cara berpikirnya hebat karena mereka bersekolah mempunyai pendidikan yang baik,” sambungnya.
Depok dengan lintas sejarah masa lalu menarik untuk disimak menjadi referensi sejarah. Bagaimana sebuah kota dibangun dengan spirit humanis. ***
Sumber : beritadepok.go.id
(Dprst/Ulm)









