Pohon Kamper, Bahan Pengawet Mumi yang Terancam Punah Digerus Sawit

×

Pohon Kamper, Bahan Pengawet Mumi yang Terancam Punah Digerus Sawit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi grafis bahan pengawet Mumi di Mesir berasal dari pulau Sumatera (Dok Grafis : terasdepok.com)

Terasdepok.com | Mesir Kuno boleh pamer kemegahan Piramida. Dan Mumi menjadi warisan peradaban yang sangat populer.  Jasad raja-raja bertahan hingga ribuan tahun adalah tehnik pengawetan jasad yang mengagumkan.

Ilmuwan kuno untuk membuat jasad abadi, butuh sebuah bahan yang justru didapat bukan dari tanah sendiri. Para arkeolog menemukan satu jejak rahasia berupa kristal kamper murni di tubuh mumi.

Pohon kamper (Cinnamomum camphora) hanya tumbuh di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sekitar 8.000 km dari piramida Mesir, sebuah cairan yang dikeringkan hasil ekstraksi pohon kamper.

Pohon Kamper dewasa di Sumatra (Foto : Kumparan.com)

Di pantai pesisir Sumatra itulah perdagangan rempah-rempah berpusat di daerah bernama Bandar Barus. Hasil ekstraksi pohon kamper lebih dikenal dengan nama Barus, merujuk dari nama pelabuhan pusat perdagangan.

Baca Juga : Leukocyte-Platelet Rich Fibrin (L-PRF) pada Miringoplasti: Menuju Era Regeneratif Membran Timpani

Catatan Sejarah Perdagangan

Fachruddin Daulay, staf pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, dalam artikelnya yang berjudul ‘Bandar Barus dalam Catatan Sejarah’ menyatakan, Barus pernah termasyhur ke seluruh dunia sebagai bandar dagang yang mengekspor hasil kapur barus yang sangat diminati pasar dunia.

Fachrudin menyatakan terdapat keterangan yang menyebut bahwa kapur barus dari Indonesia pernah digunakan untuk pengawet mumi raja-raja Mesir atau Fir’aun.

Keterangan paling tua mengenai Barus berasal dari abad ke-2 Masehi, berdasar pada kitab ilmu bumi karangan Ptolomeus yang berjudul Geographike Hyphegesis (tahun 160 Masehi).

Disebutkan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa tiba, pedagang-pedagang China, India, dan Arab telah memiliki hubungan dagang dengan pelabuhan Barus.

Bagi orang Sumatra kuno, Kapur Barus bukan cuma komoditas ekspor untuk pengawet jasad raja Mesir. Di tangan para Datu (tabib ahli Batak kuno), getah pohon ini diracik menjadi tawar, dan diramu untuk mengobati penyakit-penyakit mematikan di zaman itu

Baca Juga : Fakta Kuda Laut, Hewan Indikator Air Laut

Tidak menutup kemungkinan tehnik pengawetan jasad menggunakan kapur barus adalah hasil inovasi para Datu. Dipersembahkan untuk Raja Mesir yang ingin abadi.

Butuh waktu minimal 50 tahun untuk Pohon Kamper bisa memproduksi tetesan kristal penghasil bahan langka. Kekayaan flora Nusantara yang mendunia sejak ribuan tahun kini mulai terkikis.

Deforestasi untuk lahan perkebunan sawit di Sumatra mengabaikan jejak sejarah tanah Nusantara. Hilangnya tumbuhan langka yang hanya bisa hidup di Khatulistiwa dan banyak berjasa memberi sumbangsih bagi ilmu pengetahuan dunia.

Lembaga konservasi dunia (IUCN) telah memvonis pohon ini dengan status Critically Endangered (Sangat Terancam Punah). Pohon Barus yang sedang sekarat di tanah sendiri.(Dprast)

Sumber : opini.id dan kumparan.com