DEPOK – terasdepok.com | Banyak orang yang bingung saat melihat sperma di bawah mikroskop. Bentuknya yang gesit, punya ekor yang bergoyang, dan terlihat sangat “berambisi” mencapai sel telur membuat kita bertanya-tanya: Apakah mereka itu makhluk hidup mandiri seperti bakteri, atau sebenarnya bagian dari organ kita saja? Mari kita bedah secara biologis apa identitas asli si “perenang ulung” ini.
Bukan Makhluk Hidup Mandiri
Secara sains, sperma bukanlah makhluk hidup (organisme) yang berdiri sendiri. Sperma diklasifikasikan sebagai Sel Kelamin (Gamet).
Bedanya apa? Makhluk hidup seperti bakteri atau manusia bisa bereproduksi sendiri, makan, dan tumbuh besar. Sementara sperma tidak bisa membelah diri menjadi dua sperma, tidak butuh makan (mereka membawa bekal energi sendiri), dan tidak bisa bertahan hidup selamanya. Sperma lebih tepat disebut sebagai sel hidup yang memiliki misi tunggal.
Si “Kurir” Pembawa Pesan Rahasia
Bayangkan sperma sebagai sebuah flashdisk biologis yang punya mesin pendorong. Kepala: Berisi “data” berupa 23 kromosom (setengah dari kode genetik ayah). Di ujungnya ada bagian bernama Akrosom yang berisi enzim kuat untuk “meledakkan” dinding sel telur yang keras.
Bagian Tengah: Ini adalah “mesin” yang penuh dengan Mitokondria (pabrik energi). Di sinilah bahan bakar dibakar agar ekor bisa terus bergerak.
Ekor (Flagelum): Berfungsi sebagai baling-baling untuk mendorong sperma maju melawan arus di dalam rahim.
Misi “Bunuh Diri” demi Kehidupan
Sperma adalah salah satu sel paling tangguh sekaligus paling rapuh. Dari jutaan yang dikeluarkan, mereka harus melewati lingkungan asam di area kewanitaan yang bisa membunuh mereka dalam sekejap.
Mereka hanya punya waktu sekitar 3 sampai 5 hari untuk bertahan hidup di dalam tubuh wanita sebelum energinya habis. Begitu satu sperma berhasil masuk ke sel telur, misinya selesai. Ia melepaskan ekornya, memberikan datanya, dan “melebur” menjadi bagian dari calon manusia baru (zigot).
Fakta Unik: Mereka Punya “Indera Penciuman”
Penelitian menunjukkan bahwa sperma memiliki reseptor kimia yang mirip dengan indera penciuman. Mereka tidak punya mata, tapi mereka “mencium” jejak sinyal kimia yang dikeluarkan oleh sel telur (proses ini disebut Chemotaxis). Itulah kenapa mereka tahu persis ke mana arah tujuan mereka di dalam kegelapan. (Dpras)
Sumber Ilmiah:
Alberts, B., et al. (2002). “Molecular Biology of the Cell: Sperm.”
Publicover, S., et al. (2007). “Sperm chemotaxis: the role of Ca^{2+} signaling.”
Gerton, G. L., & Villamarzo, N. J. (2014). “The Biology of Sperm.”





