Nama nama Pejabat Negara yang tersangkut kasus korupsi makin bertambah. Dari Anggota Dewan, Hakim, Menteri, Pejabat Eselon hingga yang terakhir Kepala Bagan Gizi Nasional, Dadan Hindayana.
Pertanyaan sederhana kita adalah : Mereka sudah kaya dan berkecukupan, tapi mengapa mereka masih korupsi?
Kebanyakan orang menjawab: Karena serakah. Itu tidak salah tapi itu juga tidak sepenuhnya benar.
Pertanyaan yang benar: Apa yang terjadi di dalam kepala seseorang yang sudah kaya tapi masih tetap korupsi? Jawabannya bukan karena serakah. Jawabannya karena otak mereka.
Penelitian dari Universitas California Berkeley Profesor Dacher Keltner membuktikan: Orang yang berkuasa mengalami lonjakan dopamin, yaitu hormon yang sama seperti kecanduan narkoba.
Yang dicari bukan lagi uangnya tetapi sensasi mengambil, berkuasa dan sebisa ,mungkin tidak bisa disentuh hukum.
Baca Juga : Judol, Mesin Penghapus Rejeki Paling Mematikan
Paradoks Kekuasaan
Profesor Psikologi menyebutnya “The Power Paradox.” Orang naik ke posisi tinggi karena mereka dipercaya, rendah hati, dan peduli. Tapi begitu di atas, otak mereka berubah. Empati menurun, rasa benar dan salah melemah.
Mereka mulai merasa di atas aturan. Kekuasaan tidak mengubah orang baik menjadi jahat. Kekuasaan mengungkap siapa mereka sebenarnya.
Seorang koruptor tidak merasa dirinya koruptor. Hampir semua punya pembenaran : Ini untuk keluarga, banyak orang juga melakukannya, saya sudah berjasa banyak, sistem ini yang salah, bukan saya. Otak manusia sangat pandai meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lakukan itu benar.
Penelitian neurosains tersebut menunjukkan analisanya bahwa, semakin banyak uang yang dimiliki seseorang maka semakin sedikit Dopamin yang dilepas untuk setiap tambahan kekayaan.
Artinya uang berhenti terasa tidak memuaskan. Korupsi bukan lagi hanya soal ketamakan, namun menjadi ‘permainan’ yang menyimpan tantangan. Dan yang paling memungkinkan dikorupsi bukan uang perusahaan atau pimpinan mereka, tapi uang rakyat yang ada di sekitar jabatannya.
Banyak yang berpikir: Perberat hukumannya, korupsi akan berhenti. Penelitian dari Duke University oleh Prof. Dan Ariely menemukan fakta bahwa koruptor tidak memikirkan konsekuensi. Bukan karena bodoh, tapi karena Dopamin mengalahkan logika.
Otak yang ketagihan kekuasaan tidak berpikir seperti otak normal. Hukuman berat perlu, tapi hukuman saja tidak akan cukup.
Baca Juga : Kritik Tajam PNIB Atas Korupsi BGN: Alihkan MBG ke Subsidi Warga Miskin
Sistem Busuk
Korupsi tumbuh subur karena sistemnya membiarkan, pengawasan lemah dan transparansi minim. Hukuman tidak sepadan dengan kejahatan dan sudah menjadi perjanjian diantara mereka : Sesama pelaku saling melindungi.
Orang baik pun bisa berubah dalam sistem yang busuk. Sebaliknya, sistem yang kuat bisa membatasi bahkan orang yang niatnya buruk.
Negara Singapura pernah sama korupnya dengan negara Indonesia saat ini. Sampai Perdana Menterinya Lee Kuan Yew memutus satu hal:
Tidak ada yang kebal, tidak ada negosiasi, tidak ada pengecualian untuk orang dalam.
Hasilnya, dari negara pelabuhan miskin di 1965 menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Skor korupsi 84 dari 100.
Jadi mengapa pejabat korupsi meskipun sudah kaya? Ternyata yang mereka kejar bukan materinya. Yang mereka kejar adalah kekuasaan tanpa batas.
Korupsi bukan hanya masalah orang jahat. Korupsi adalah kekuasaan tanpa kontrol. Selama sistem masih memberinya peluang, akan selalu ada orang yang tergoda. Bukan soal sioapa pelakunya, tetapi sebesapa besar peluangnya.
Negara bersih bukan karena manusianya suci, tetapi sistemnya memaksa orang untuk bertindak jujur tanpa harus diancam.
Kekuasaan itu seperti mesin tanpa rem, kalau tidak diawasi, dia akan melaju sejauh mungkin. Dan ketika pengawasan lemah, ketika transparansi tidak jelas, ketika hukum bisa dinegosiasi, maka orupsi bukan lagi risiko. Korupsi adalah sebuah peluang. *** (Prst)
Sumber : Akun IG @alexgerung











