Redaksional

Siapa Slamet Gundul, Bromocorah yang Menginspirasi Lagu ‘Sugali’ Iwan Fals

×

Siapa Slamet Gundul, Bromocorah yang Menginspirasi Lagu ‘Sugali’ Iwan Fals

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Grafis Residivis Slamet Gundul (Foto Kolabs : Grafis-terasdepok)

Namanya beken di berbagai kota. Kisah aksinya santer terdengar di banyak telinga, tak jarang merepotkan aparat. Menginspirasi penyanyi legendaris Iwan Fals dan mengabadikannya menjadi sebuah lagu berjudul “Sugali”

Dialah Slamet Gundul si bramacorah

“Tangkap Slamet Gundul, hidup atau mati!” begitu perintah menyambar dari mulut Direktur Reserse Mabes Polri, Brigjen Koesparmono Irsan, dikutip dari laporan majalah Tempo edisi 15 Juli 1989. Komando itu bukan hanya tertuju pada segenap jajaran Reserse Polri di Jawa, tetapi juga melanglang hingga Bali, Nusa Tenggara, Lampung, dan Sumatra Selatan.

Bahkan, Polda Jawa Tengah sampai rela menjanjikan hadiah Rp5 juta bagi anggotanya yang berhasil membawa Slamet Gundul.

Belum ada kilah tingkah seorang buron yang mampu menggodok amarah sang brigjen sampai meletup-letup. Pada dekade ’80-an, jarang sekali sekelas Mabes Polri memaklumatkan perintah keras hanya untuk membidik bramacorah.

Karena sang buron lahir di Malang, perintah itu juga menggerayami dinding Polda Jawa Timur saat Irsan dimutasi menjadi kepala pada 1989. Seolah-olah, titian Slamet Gundul menjadi alasan sang brigjen harus berpindah dinas.

Slamet Gundul bernama asli Supriadi. Namun, identitasnya sering berubah-ubah. Kadang Slamet Santoso, tapi di lain waktu dan tempat dikenal sebagai Samsul Gunawan. Di lingkaran kengkawannya, dia kerap disapa Nyo atau Gundul. Ciri khas potongan plontos membuatnya akrab dipanggil demikian.

Banyak yang menilai mukanya jauh dari sosok sangar. Pipinya tembam, berhidung lebar, dan tanpa lipatan kelopak mata. Sunggingan senyumnya begitu polos dengan deretan gigi putih mengilat. Kalau-kalau orang tak mengenalinya, sudah barang tentu tak ada yang menyangka dia buronan kelas satu Orde Baru.

Baca Juga : Indonesia Peringkat Kedua Kejahatan Online Scam, Ini Penyebabnya

Preman Ibukota

Meski lahir di Malang, titian karier Slamet sebagai buron berhulu di Jakarta. Dia telah merintis gembong kriminalitas sejak usia remaja.

Slamet dikenal sebagai bos kawanan garong spesialis nasabah bank, setidak-tidaknya pada 1980-1990.

Keluar masuk bui baginya sudah rutinitas. Dia bukan kriminal yang alergi terhadap jeruji lapas.

Slamet pernah ditahan sebulan di Polres Jakarta Utara akibat mencongkel kendaraan bermotor dan menodong nasabah bank. Pernah juga ia menghabiskan delapan bulan di Polres Jakarta Selatan dan empat bulan di Polda Metro Jaya. Namun, pengapnya udara kurungan laksana gelanggang tempatnya digembleng. Berpindah-pindah sel makin mematangkan pengalamannya.

Selama sewindu malang melintang bergumul gelapnya sindikat pencurian, Slamet tercatat sudah 55 kali menciptakan rekor perampokan. Sasarannya para nasabah bank dan orang-orang kaya pada zamannya.

Jumlah rampokannya di tahun 1989 saja sudah terlampau gila. Dia menggondol Rp159,5 juta. Bilamana dikonversi ke kurs mata uang terkini, jumlahnya bisa mencapai puluhan miliar.

Seorang juragan tembakau di Kendal pernah kena ulah Slamet hingga merugi senilai Rp23 juta. Di lain waktu, juragan ikan jadi korban sampai tekor Rp40 juta. Ia juga pernah menyikat nasabah prioritas BCA Peterongan sebesar Rp28,5 juta serta merampas Rp34 juta dari karyawan PT Nyonya Meneer Semarang. Bahkan, brankas di Universitas Islam Sultan Agung senilai Rp34 juta raib karena aksinya.

Modus operandi Slamet tak hanya menyelimuti kerasnya ibu kota. Slamet Gundul juga melebarkan gembong kriminalnya di Semarang, Malang, Surabaya, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Legitimasinya menguat di mana-mana, di kalangan polisi, preman, sampai rakyat biasa.

Menurut laporan majalah Tempo edisi 16 Mei 1990, nama Slamet Gundul bahkan sempat “dipinjam” preman lainnya, Supriyanto. Dia membajak sebuah truk bermuatan 27 koli kain sarung senilai Rp80 juta di Pati pada Mei 1990. Supriyanto mengancam sopir omprengan yang mengendarainya, Usman, dengan mengaku sebagai Slamet Gundul.

Akan tetapi, modus itu segera disadari polisi sebagai muslihat. “Karena informasi yang kami terima, pelakunya Slamet Gundul [hanya mau] garong nasabah bank,” ucap Kapolwil Pati, Kolonel Pranoto. Apalagi, ketika Supriyanto diringkus dan didesak, dia mengaku tak kenal dengan Slamet Gundul yang asli.

Baca Juga : Ribuan Motor Ilegal di Gudang Siap Ekspor Digrebeg Polisi

Lolos Penyergapan Polisi

Temaramnya lampu SPBU Pandansimping, Klaten, berubah jadi sorot cahaya yang berbinar-binar. Di bawahnya terparkir sebuah mini bus Daihatsu. Napas mesinnya masih hangat, seperti kembang kempis dada yang baru saja dipacu lawatan panjang.

Seorang juru kemudi turun. Walidi alias Jarot namanya. Dia merogoh saku, mengeluarkan rupiah, lalu membayar bensin, berlagak seperti pelanggan biasa yang singgah. Namun di dalam, lima komplotan yang diboncengnya itu bukan nama-nama biasa: Slamet Gundul, Waluyo, Kentut, Bagyo, dan Sugeng.

Belum sampai bensin terisi, sekonyong-konyong dari arah jalan raya, menyembul kendaraan lain dengan tergesa-gesa. Seseorang meloncat keluar dan berteriak, “Saya dari polda!”

Penelusuran membuktikan bahwa orang itu adalah kiriman dari Unit Sidik Sakti dari reserse Polda Jawa Tengah.

Jarot langsung lari tunggang langgang tanpa aba-aba. Karoseri truk jadi tempatnya bersembunyi. Namun sial, sang kenek menyadari posisinya dan langsung melontarkan seruan.

Dor! lima peluru bersarang tepat di jantungnya. Polahnya mandek, suaranya tak terdengar lagi.

Di dalam mobil, kepanikan berjejal menembus tempurung kepala seperti deretan penumpang tanpa karcis.

Dua letupan timah panas kembali menghunjam udara.

Bagyo bergegas kabur dari jendela, tetapi dua peluru bersarang di pahanya menghentikan langkah. Waluyo dan Kentut melintasi tembok pembatas sisi selatan SPBU dan menghilang menerobos sawah. Slamet dan Sugeng bedol ke utara, memilih kemelut jalan raya dan padatnya perumahan sebagai penghambat sementara. Semuanya berpencar, kecuali Bagyo. Dengan segera polisi pun meringkusnya.

Kesialan turut membayangi Sugeng. Seorang warga, Sudrisno, memergoki dari dalam rumah dan tanpa basa-basi langsung menangkapnya. Dia dilumpuhkan bukan dengan senjata, tetapi dengan bogeman yang mengarah ke tengkuk.

Namun, nasib Slamet berbeda. Sekalipun peluru polisi telah mengoyak pahanya, dia masih kuat lari. Dia merampas sepeda seorang bocah, menyelinap dalam gelap, hilang tanpa bekas.

Sejak itu, nama Slamet Gundul makin sohor dan menggegerkan seantero Nusantara.

Polisi dibuat mati-matian mengejar dirinya, menahun. Laki-laki bertato naga dan wanita di lengan itu selalu berhasil lolos, licin bak belut.

Insiden di SPBU Pandansimping itu hanya satu dari sekian pelarian mulusnya.

Baca Juga : Legenda Suara Rakyat Virgiawan Listanto

Sebelumnya, polisi pernah menggerebek Slamet di kontrakannya di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Nahas, hanya istrinya yang keluar, sedangkan Slamet berhasil mengelabui pengepungan dengan melompati tembok yang membatasi antara kamar mandinya dan dapur tetangga. Dia membajak metromini yang tengah dicuci, lalu kabur.

Slamet juga lihai menggunakan senjata api. Di SPBU Pandansimping, dia berhasil lolos karena polisi yang mengejar ditembaknya tepat di lengan. Di Jakarta Timur, dia menembakkan pistol colt berpeluru kaliber 32 dan 38 ke segala arah seolah meracau sehingga polisi jadi kehilangan jejak.

Bahkan pelariannya setelah membegal Rp10 juta gaji karyawan CV Bambu Gading di Kampung Bali, Jakarta Pusat, menewaskan Letnan Dua Soewito. Polisi itu roboh karena peluru Slamet tembus satu sentimeter di bagian bawah mata kanannya.

Kendati pelarian di Jakarta pada 1987 itu berhasil menangkap dirinya bersama Jarot dan Sahut, serta Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis ketiganya masing-masing tiga tahun penjara, mereka berhasil kabur lagi.

Saat hendak masuk mobil pengawal, petugas yang menggelandang mereka didorong dan jatuh. Slamet dan Jarot cabut dengan sepeda motor, dan polisi hanya dapat mencengkeram Sahut.

Akhir Kisah Pelarian

Dunia, betapa pun luasnya, selalu punya batas bagi pelarian. Bramacorah seperti Slamet tak pernah benar-benar pergi. Dia hanya menunda waktu hingga menjelang operasi terakhir.

Keberadaan Slamet terendus di Surabaya pada 16 Juni 1991. Mulanya, polisi menangkap tujuh terduga perampok bersenjata api di Pasar Turi, yang salah satunya bernama Supriadi. Akan tetapi, Supriadi dilepas lantaran tak ada bukti.

“Kamu Poniman, ya?” tegur polisi dengan ramah. Itu hanyalah modus untuk mengorek lebih dalam agar terduga perampok itu mengakui identitas aslinya. Sebabnya, Poniman adalah nama teman kecil Slamet Gundul, dan polisi sudah mencurigai gelagatnya lantaran terbirit-birit menuju Jalan Krembangan Bhakti, Morokrembengan.

“Lo, pak ini gimana. Kan saya sudah bebas,” jawab Supriadi kepada Kanit Resmob Polwiltabes Surabaya, Kapten Oerip Soegianto. Namun kilah itu tak mempan dan Supriadi tetap dijebloskan ke mobil.

Benar saja, insting polisi tak meleset. Laki-laki berbadan kekar dengan tinggi 160 sentimeter itu memang betul Slamet Gundul yang melegenda.

Segera dia diperiksa di tiga wilayah kepolisian berbeda: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Dia dijaga super ketat dan diterbangkan ke Jakarta menumpang pesawat Cessna.

Usai penyelidikannya membuahkan hasil, Slamet Gundul mendekam di LP Cipinang, Jakarta Timur, pada akhir 1991.

Perkara yang mampu menyudutkannya bukan semata perampokan dan pencurian, tetapi penemuan sebuah granat di tempat persembunyiannya di Surabaya.

Hukum yang memberatkan penahanannya adalah pasal kepemilikan dan penggunaan senjata api. Jaksa Sabirin mendakwa Slamet dengan pasal perampokan (pasal 365 KUHP) dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

“Saya merasa kejahatan saya ini biasa-biasa saja,” celotehnya enteng. “Tapi saya sekarang sudah kapok dan tak ingin meloloskan diri lagi,” tambahnya.

Hukuman penjara 10 tahun harus dijalaninya. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai keberadaan Slamet Gundul. Jika dia masih hidup kini berusia 60 tahunan.(Prst)

Sumber : Detik.com

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan