Pendidikan

Tri Dharma Jadi Kompas Gerakan, Qoomarudin Ingatkan Arah Kepemimpinan BEM UNIWARA

×

Tri Dharma Jadi Kompas Gerakan, Qoomarudin Ingatkan Arah Kepemimpinan BEM UNIWARA

Sebarkan artikel ini

TERASDEPOK.COM, PASURUAN – Ketua BEM Universitas PGRI Wiranegara (UNIWARA) periode sebelumnya, Muhammad Qoomarudin, mengingatkan pentingnya kepemimpinan mahasiswa yang memiliki tujuan jelas, berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi kampus dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam momentum Serah Terima Jabatan (Sertijab) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIWARA di Pasuruan, Selasa (21/10/2026). Pergantian kepemimpinan itu diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat arah gerakan dan keberlanjutan organisasi mahasiswa.

Qoomarudin menegaskan bahwa mahasiswa tidak seharusnya hanya disibukkan oleh rutinitas akademik, program kerja organisasi, maupun aktivitas berbicara dalam forum. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memiliki tujuan hidup, kesadaran kritis, dan komitmen untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Jangan sekadar kerja, kerbau pun bekerja. Jangan sekadar belajar, gajah pun pintar. Jangan sekadar ngomong, Prabowo pun ngomong. Jadi, jadilah manusia yang memiliki tujuan, hidup yang bermakna, dan mampu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar,” ujar Muhammad Qoomarudin.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas mahasiswa harus memiliki makna dan arah yang jelas. Kesibukan organisasi perlu diiringi dengan pengembangan kapasitas intelektual, keberanian menyampaikan gagasan, serta kemampuan menerjemahkan pemikiran menjadi tindakan nyata.

Tri Dharma sebagai Landasan Gerakan Mahasiswa

Dalam konteks kepemimpinan mahasiswa, Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi landasan penting yang perlu diterapkan dalam setiap gerakan organisasi.

Pendidikan dan pengajaran harus mendorong mahasiswa menjadi pribadi yang berpengetahuan dan berintegritas. Penelitian dan pengembangan perlu memperkuat budaya berpikir kritis serta menghasilkan kajian yang relevan dengan persoalan masyarakat. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat menjadi bentuk nyata tanggung jawab sosial mahasiswa.

Qoomarudin memandang BEM tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana program kerja, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan kepemimpinan, serta mengawal persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mahasiswa dan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Dampak program, keberlanjutan kegiatan, transparansi pengelolaan organisasi, dan manfaat yang dirasakan menjadi hal penting dalam mengevaluasi kepemimpinan.

Sertijab Jadi Momentum Evaluasi dan Inovasi

Serah terima jabatan BEM UNIWARA menjadi penanda peralihan tanggung jawab dari kepengurusan lama kepada kepengurusan baru. Momentum ini sekaligus membuka ruang bagi pengurus baru untuk melanjutkan program yang bermanfaat, mengevaluasi kekurangan, dan menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan mahasiswa.

Kepengurusan baru diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai prinsip yang diterapkan dalam kebijakan organisasi, agenda advokasi, kegiatan intelektual, hingga program pengabdian sosial.

Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak berhenti pada pelaksanaan agenda rutin, tetapi juga mampu membangun hubungan yang lebih erat antara kehidupan akademik dan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, kepemimpinan mahasiswa memiliki makna ketika gagasan diwujudkan menjadi kerja nyata. Jabatan memang memiliki batas waktu, tetapi tanggung jawab intelektual dan sosial mahasiswa tetap melekat, bahkan setelah masa kepengurusan berakhir.

Tri Dharma Perguruan Tinggi pun diharapkan terus menjadi kompas gerakan mahasiswa dalam membangun pengetahuan, mempertajam nalar kritis, dan menghadirkan pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penulis: Putri Amelia
Sekretaris Kabinet BEM UNIWARA

Tinggalkan Balasan