Terasdepok.com | Perusahaan rokok raksasa yang menguasai 50 persen pangsa pasar lokal mendadak banting stir. Djarum Grup Kudus milik keluarga Hartono ekspansi ke bisnis “gizi” yang sedang naik daun.
Kabupaten Brebes Jawa Tengah ditetapkan oleh PT Global Dairi Bersama -anak perusahaan Djarum Grup- sebagai lokasi pengembangan sapi perah. Tidak tanggung-tanggung, lahan seluas 710 hektar dipersiapkan untuk peternakan dan pengembangbiakkan 36.000 sapi perah.
Perusahaan yang selama puluhan tahun menghasilkan triliunan rupiah dari menjual asap sekarang sedang merintis bisnis baru dari menjual susu. Ini bukan anomali bisnis, tapi jeli menyelinap celah sempit bisnis hulu hingga hilir.
Kondisi industri susu di Indonesia sedang tidak bertuan. Dalam artian belum ada pemain besar yang mengolah potensi lokal. Hanya ada para importir yang nyaman memonopoli kebutuhan pasar dengan memainkan harga.
Data statistik terungkap bahwa produksi susu lokal hanya mampu menyediakan 20 persen kebutuhan Nasional. Artinya sebanyak 80 persen Indonesia masih mengimpor susu dari Australia dan New Zaeland dengan nilai Rp12,8 Triliun per tahun. Atau setara dengan volume 257.300 ton susu.
Baca Juga : Target KUR 296 Triliun, Kementerian UMKM Realisasikan 39,3 Persen di Bulan Mei
Peternak lokal kalah, atau lebih tepatnya dikalahkan, untuk bersaing bisnis importir. Pasalnya sapi perah terbaik hanya dihasilkan dari makanan yang terbaik pula, yaitu jagung dan kedelai. 2 bahan tersebut kita masih mengandalkan impor juga untuk kebutuhan manusia, bukan sapi.
Impor jagung rata-rata 3,8 Triliun per tahun. Sementara kedelai lebih fantastis lagi dengan 23 Triliun per tahun belanja 2,6 juta ton bahan baku tempe dan kecap tersebut.
Tata kelola pangan di Indonesia jika melihat data akan lebih banyak mengelus dada daripada rambut. Negara agraris dengan kesuburan tanah yang membuat negara lain iri, justru memilih membeli daripada menanam sendiri.
Lahan pertanian lebih fokus ditanami sawit yang bernilai energi bahan bakar. Pernah ada program Food Estate dengan 2 juta lahan, namun pada akhirnya hanya jadi catatan cerita petualangan.
Perputaran Ekonomi
Kembali ke persoalan peternakan sapi. 36.000 ekor sapi butuh makan tiap hari. Jangan pernah membayangkan Djarum akan mengambil kuota impor jagung dan kedelai manusia untuk makan sapi.
Pemda Brebes dan wilayah sekitarnya sudah mempersiapkan lahan petani plasma untuk menanam jagung dan kedelai khusus supply ke peternakan. Djarum menjamin hasil panen kedua komoditas itu tidak keluar di pasaran, agar tidak mengganggu bisnis rente importir. Semua diserap langsung di peternakan seberapapun hasilnya.
Mereka akan merangkul 5.000 petani lokal untuk menanam jagung dan kedelai sebagai pakan. Ada 8.000 peternak lokal yang bisa dilibatkan. Ada rantai pasokan berskala besar yang terdampak.
Satu peternakan terintegrasi skala ini bisa menciptakan sekitar 13.000 tenaga kerja. Jika dikalikan UMR Brebes sekitar Rp2,4 juta/bulan artinya ada Rp31 miliar uang beredar per bulan atau Rp374 miliar per tahu.
Ada potensi pajak besar juga terjadi di Brebes.
Djarum Grup cukup peka membaca peta ekosistem yang belum digarap. Peternakan sapi perah yang terintegrasi tidak hanya berbicara tentang susu. Hasil dari susu sapi murni bisa berupa, keju, yogurt dan hasil turunannya yang diproduksi dalam satu pabrik.
Dengan puluhan ribu sapi perah diprediksi akan menghasilkan 180 ribu ton susu murni per tahun. Jika diolah menjadi susu olahan siap minum akan menghasilkan 900 ribu ton susu. Dengan asumsi susu olahan mengandung 20 persen susu murni.
Supply Program MBG
Program MBG yang dicanangkan Pemerintahan butuh pasokan susu lokal dalam skala besar. Kebutuhan susu sebagai menu gizi program MBG mencapai 3,3 juta ton per tahun. Pasokan susu Djarum Grup untuk MBG Nasional masih jauh dari cukup.
Meskipun demikian untuk kebutuhan MBG di Jawa Tengah langkah awal proyek terintegrasi Djarum Grup patut diapresiasi. Rencananya Djarum Grup akan membuat peternakan sejenis di tiap propinsi besar.
Dengan kebutuhan sebesar itu mengapa konglomerat sekelas Djarum masih enggan menginvestasikan bisnisnya ke berbagai daerah? Ada satu alasan cukup masuk akal di mata para pebisnis sekelas Djarum.
Meskipun menyerap anggaran 268 Triliun per tahun, MBG adalah model proyek bisnis politik. Pergantian kekuasaan bisa memicu pergantian kebijakan beserta proyek proyek turunannya. Tidak ada yang bisa menjamin 2029 proyek MBG akan terus berjalan atau berganti proyek lain.
Dari bisnis racun beralih fokus ke gizi itu politis juga. Tidak selamanya Djarum identik dengan rokok. Perusahaan perlahan merubah image, dari rokok ke bisnis strategis lain. Termasuk membeli klub sepak bola Italia Como yang baru saja lolos Liga Champion.***
Penulis : Dahono Prasetyo
Editor : Erlangga Bhumi
Foto Grafis : Giek









