Indonesiana

Viral Poster Panjat Pinang Jelang 17 Agustus, Realita Beratnya Kondisi Ekonomi Rakyat Saat Ini

×

Viral Poster Panjat Pinang Jelang 17 Agustus, Realita Beratnya Kondisi Ekonomi Rakyat Saat Ini

Sebarkan artikel ini
Poster panjat pinang berbicara kritik sosial yang viral di media sosial (Sumber : harianesia.com)

JAKARTA | Terasdepok.com – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, sebuah poster ilustrasi bertema lomba panjat pinang viral di media sosial.

Poster tersebut menarik perhatian publik karena tidak sekadar menggambarkan tradisi lomba khas perayaan kemerdekaan, tetapi juga menyelipkan kritik sosial mengenai kondisi ekonomi dan perjuangan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.

Poster bertajuk “Dulu Hanya Sekadar Lomba, Kini Menjadi Kenyataan” itu menampilkan dua gambaran yang kontras.

Di sisi kiri, sejumlah warga terlihat mengikuti lomba panjat pinang. Tubuh mereka digambarkan penuh lumpur dan saling menopang untuk mencapai puncak. Berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, hingga tabung gas elpiji 3 kilogram digambarkan sebagai hadiah yang harus diraih.

Baca Juga : Kirab Merah Putih Bandar Lampung, PNIB : Jaga Persatuan dengan JASMERAH dan JASHIJAU

Sementara di sisi kanan, sejumlah orang berpakaian rapi tampak duduk di bawah tenda bernuansa merah putih. Mereka digambarkan tengah bertepuk tangan dalam suasana seremonial.

Kontras tersebut menjadi pesan utama poster. Tradisi panjat pinang yang selama ini identik dengan permainan dan hiburan rakyat diposisikan sebagai metafora perjuangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam narasi yang menyertai poster tersebut disebutkan bahwa panjat pinang dahulu hanya menjadi perlombaan dalam perayaan kemerdekaan. Namun, simbol itu kini dianggap menggambarkan realitas kehidupan sebagian masyarakat.

“Untuk mendapatkan hak yang paling dasar, rakyat dipaksa bergotong royong, saling menopang, jatuh, bangkit, lalu berjuang tanpa henti demi sekadar menyambung hidup,” demikian narasi yang tercantum dalam poster.

Poster itu juga menyindir kondisi ketika masyarakat masih harus berjuang menghadapi tekanan ekonomi, sementara sebagian pihak dinilai lebih sibuk dengan kegiatan seremonial dan saling memberikan pujian atas pencapaian tertentu.

Panjat Pinang Jadi Simbol Kritik Sosial

 

Baca Juga : Semarak HUT RI ke-81, Desa Gladagsari Gelar Gebyar UMKM “Dari Desa untuk Negeri”

Panjat pinang merupakan salah satu permainan tradisional yang lazim digelar dalam rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan.

Peserta biasanya harus bekerja sama dan saling menopang untuk mencapai puncak batang pinang yang telah dilumuri bahan licin. Berbagai hadiah kebutuhan sehari-hari biasanya ditempatkan di bagian atas sebagai bentuk penghargaan bagi peserta yang berhasil mencapai puncak.

Dalam poster yang beredar di media sosial tersebut, makna permainan itu kemudian digeser menjadi simbol perjuangan ekonomi.

Barang-barang seperti beras, minyak goreng, gula, dan elpiji 3 kilogram bukan lagi sekadar hadiah lomba. Melainkan digambarkan sebagai kebutuhan dasar yang harus diperjuangkan masyarakat.

Viral dan Memicu Perdebatan

Kemunculan poster tersebut memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian pengguna menilai ilustrasi itu mampu menggambarkan keresahan masyarakat mengenai biaya hidup dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga : Presidium Napol Tapol 2014-2024 Minta Presiden Lakukan Rehabilitasi pada Momentum Kemerdekaan RI ke 81

Di sisi lain, poster tersebut juga menjadi bahan perdebatan karena menggunakan simbol perayaan kemerdekaan untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial ekonomi.

Terlepas dari perdebatan tersebut, penggunaan simbol panjat pinang menunjukkan bahwa budaya populer dan tradisi masyarakat masih menjadi salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial.

Hingga berita ini ditulis, identitas pembuat poster tersebut belum diketahui secara pasti. Poster serupa telah beredar melalui sejumlah platform media sosial dan aplikasi percakapan.

Poster itu pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang perlombaan 17 Agustus, tetapi juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas. Yaitu : Ketika kebutuhan dasar menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan susah payah, apakah semangat gotong royong masih menjadi simbol kemerdekaan atau justru cermin beratnya kehidupan rakyat?**(S.Ragil)

Tinggalkan Balasan