Hiburan

Korban Luka Tradisi Ngubek Empang di Depok

×

Korban Luka Tradisi Ngubek Empang di Depok

Sebarkan artikel ini
Tradisi tahunan Ngubek Empang di Depok yang dihadiri ratusan warga (Foto Dok. Infodepok)

Depok – terasdepok.com | Perayaan Lebaran Depok 2026 berubah jadi sorotan setelah tradisi Ngubek Empang di Situ Pondokjaya memakan korban.

Seorang bocah mengalami luka serius akibat tertancap mata kail. Sementara warga lain tersayat pecahan kaca (beling) di dasar situ. 

Di tengah riuh ratusan warga yang berebut ikan di air keruh, seorang bocah berinisial PRH (13), pelajar SMP di Depok, menjadi korban pertama.

Telapak kaki bagian jempolnya tertancap mata kail berukuran besar. Ia mengaku sempat kesulitan keluar dari situ karena kail yang menancap lebih dari satu, sementara kepadatan warga malah melambatkan mengeluh. Dengan bersusah payah pelajar tersebut akhirnya bisa keluar dari empang. 

“Ketancep mata kail waktu ngubek cari ikan. Sempat minta tolong di dalam, tapi susah ke pinggir,” ujar PRH usai mendapat perawatan selanjutnya ke Puskesmas Ratujaya.

Di sana, ia menjalani serangkaian tindakan medis, mulai dari injeksi hingga pencabutan mata kail yang menancap di kakinya.

Namun kejadian tidak berhenti pada satu korban. Seorang warga dewasa juga mengalami luka serius setelah telapak kakinya terayat pecahan kaca di dasar situ. Luka yang cukup dalam membuat korban harus menjalani tindakan penjahitan.

Menurut PRH yang sempat bertemu korban di Puskesmas, jumlah jahitan mencapai enam hingga delapan.

“Darahnya banyak sampai dijahit beberapa kali.” kata PRH.

Peristiwa yang terjadi hampir bersamaan ini menimbulkan pertanyaan mendasar, bagaimana mungkin sebuah acara publik yang melibatkan ratusan orang tidak melalui sterilisasi area dari benda berbahaya?

Padahal, kegiatan yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah , anggota DPRD, serta jajaran aparatur kecamatan dan kelurahan itu jelas memiliki skala besar.

Di Depok acara tradisi Ngubek Empang sebagai promosi warisan budaya sekaligus hiburan rakyat. Namun, tanpa manajemen risiko yang memadai, ia berpotensi berubah menjadi arena bahaya.

Kejadian di Situ Pondokjaya menjadi pengingat keras bahwa euforia budaya tidak boleh mengorbankan keselamatan. Pemerintah kota dan penyelenggara penyelenggara menuntut tidak sekadar hadir secara simbolik, namun memastikan standar keamanan yang nyata di lapangan.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan