KHOTBAH JUMAT
Disampaikan oleh: Drs.Fathur Rachim MSi
KHOTBAH PERTAMA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا لِمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sesungguhnya takwa adalah bekal paling berharga yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Takwa adalah cahaya yang menerangi jalan hidup kita menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT.
Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkanlah saya menyampaikan materi khotbah dengan judul: “7 PERKARA YANG MERUSAK DAN MEMBINASAKAN KEHIDUPAN”.
Setiap manusia pasti menginginkan hidup yang bahagia, sejahtera, dan selamat. Namun, dalam perjalanan hidup ini, ada banyak rintangan, godaan, dan perbuatan yang jika dilakukan, justru akan menghancurkan kebahagiaan itu, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat jelas dan tegas mengenai hal ini.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ»
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita beriman yang baik-baik melakukan zina.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan panduan penting bagi kita semua. Ada tujuh dosa besar yang saking beratnya dampaknya, disebut sebagai perkara yang membinasakan. Mari kita telusuri satu per satu, agar kita semakin waspada dan menjauhinya.
Pertama: Syirik kepada Allah
Perkara pertama dan yang paling berat dosanya adalah syirik. Syirik adalah menyekutukan Allah, menganggap ada kekuatan lain yang setara dengan-Nya, atau menyembah selain Allah. Ini adalah dosa terbesar yang jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat, maka dosanya tidak akan diampuni.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 48:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”
Berhati-hatilah kita. Syirik tidak hanya berupa menyembah berhala, tapi juga bisa berupa percaya kepada jampi-jampi, perdukunan, atau mengandalkan selain Allah dalam hati yang paling dalam. Ini adalah akar kehancuran iman.
Kedua: Sihir
Perkara kedua yang harus dijauhi adalah sihir. Sihir adalah perbuatan menggunakan kekuatan gaib atau bantuan jin untuk mencelakai orang lain, memisahkan suami istri, atau memanipulasi hati manusia. Islam sangat melarang praktik ini karena merusak akidah dan keharmonisan kehidupan sosial.
Allah mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 102:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”
Orang yang mempelajari, mengajarkan, atau menggunakan sihir telah berbuat dosa besar dan menjauhkan diri dari rahmat Allah.
Ketiga: Membunuh Jiwa yang Diharamkan Allah
Islam sangat menjunjung tinggi nilai kehidupan. Nyawa manusia adalah amanah Allah yang sangat berharga. Membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah kejahatan luar biasa.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32:
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
“Barangsiapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang benar atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.”
Membunuh berarti merampas hak hidup yang telah Allah berikan, dan hukumannya adalah azab neraka yang kekal, kecuali ia bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Keempat: Memakan Riba
Riba adalah pengambilan keuntungan berlebih dalam transaksi utang-piutang atau jual beli yang tidak adil. Riba melahirkan ketidakadilan, kemiskinan struktural, dan permusuhan antarmanusia. Allah dan Rasul-Nya sangat membenci perbuatan ini.
Rasulullah SAW bersabda:
«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ»
“Allah melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, saksi-saksinya, dan penulisnya.” (H.R. Muslim)
Riba tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga menghilangkan keberkahan harta kita. Harta yang berasal dari riba, meskipun banyak, tidak akan membawa ketenangan hidup.
Kelima: Memakan Harta Anak Yatim
Anak yatim adalah golongan yang lemah dan membutuhkan perlindungan. Mengelola harta mereka adalah amanah berat. Memakan, mengambil, atau menguasai harta anak yatim secara zalim adalah dosa besar yang sangat kejam.
Allah SWT menegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 10:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
Harta anak yatim harus dijaga, dikembangkan, dan diserahkan kembali saat mereka dewasa. Mengambilnya sama saja memasukkan api neraka ke dalam perut sendiri.
Keenam: Lari dari Medan Perang
Dalam konteks membela agama, tanah air, dan kaum yang lemah, mempertahankan diri dari serangan musuh adalah kewajiban. Lari dari medan pertempuran saat umat Islam sedang terdesak adalah tindakan pengecut yang melemahkan umat dan melanggar perintah Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 15–16:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ. وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu lari membelakangi mereka. Barangsiapa yang lari membelakangi mereka di saat itu, kecuali berbelok untuk (strategi) perang atau hendak bergabung dengan pasukan yang lain, maka sungguh orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”
Ini mengajarkan kita tentang keberanian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap komunitas Islam.
Ketujuh: Menuduh Wanita Beriman Melakukan Zina
Perkara terakhir yang membinasakan adalah fitnah, khususnya menuduh wanita yang baik-baik dan beriman berbuat zina tanpa bukti yang sah. Tuduhan ini sangat merusak kehormatan, nama baik, dan ketenangan jiwa seseorang.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur ayat 4:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali cambukan.”
Fitnah bisa lebih kejam daripada pembunuhan. Menuduh tanpa bukti akan menghancurkan kehidupan orang lain dan mendatangkan laknat serta azab Allah bagi pelakunya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Itulah tujuh perkara besar yang jika kita lakukan, akan merusak hidup kita di dunia dan menghancurkan masa depan kita di akhirat. Rasulullah memperingatkan kita agar menjauhinya, bukan sekadar mengetahuinya.
Mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah ada di antara perbuatan-perbuatan ini yang masih kita lakukan, meskipun dalam bentuk yang tersembunyi atau dianggap remeh? Mari kita bertaubat, memohon ampunan Allah, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan-perbuatan yang membinasakan ini. Semoga Allah membersihkan hati, harta, dan amal kita agar menjadi amal yang diterima dan membawa keselamatan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا.
Jamaah sekalian,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa yang menjaga kita dari segala larangan-Nya dan mempertemukan kita dengan segala rahmat-Nya.
Setelah kita mendengar peringatan mengenai tujuh perkara yang membinasakan, maka mari kita jadikan ini sebagai pengingat. Kehidupan di dunia ini hanya sementara, namun amal perbuatan akan kekal selamanya di akhirat. Jangan sampai kita merugi hanya karena tergoda kenikmatan sesaat atau kelalaian dalam beriman.
Kita memohon kepada Allah, agar kita dikaruniai pemahaman yang benar, hati yang bersih, dan kekuatan untuk menjauhi segala dosa besar.
Di waktu yang penuh berkah ini, marilah kita menundukkan kepala dan hati, memohon kepada Allah SWT agar Dia mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, dosa para pemimpin kita, dan dosa seluruh umat Islam. Marilah kita berdoa:
اَللّٰهُمَّ يَا رَبَّنَا، اَصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الشِّرْكِ وَالسِّحْرِ وَالْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
Ya Allah, ya Tuhan kami, jauhkanlah kami dari kejahatan syirik, sihir, dan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ دِمَاءَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَعْرَاضَنَا مِنْ كُلِّ مَا حَرَّمْتَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, lindungilah darah, nyawa, harta, dan kehormatan kami dari segala sesuatu yang Engkau haramkan, wahai Tuhan seluruh alam.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَمْوَالِنَا، وَأَبْعِدْنَا عَنِ الرِّبَا وَالْغُلُوْلِ وَأَكْلِ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالظُّلْمِ.
Ya Allah, berkahilah harta kami, jauhkanlah kami dari riba, penipuan, memakan harta anak yatim, dan perbuatan zalim.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ وَالْقَذْفِ وَالْبُهْتَانِ.
Ya Allah, bersihkanlah lisan kami dari kebohongan, ghibah, adu domba, tuduhan palsu, dan fitnah.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا عَلَى نُصْرَةِ الْحَقِّ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَخَاذِلِيْنَ وَالْمُتَوَلِّيْنَ عِنْدَ الْلِقَاءِ.
Ya Allah, teguhkanlah langkah kami untuk membela kebenaran, dan janganlah Engkau jadikan kami orang-orang yang saling meninggalkan atau lari saat menghadapi kebenaran.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ











