Penulis : Gagoek INAKER.
Soempah Pemoeda 1928 adalah bentuk kesadaran kolektif yang mensejarah, guna mengubah pengalaman bersama dikarenakan diakibatkan penindasan, kebodohan, dan serta kemelaratan atanama kolonialisme serta hingga menjadi tekad politik untuk membentuk Indonesia sebagai satu komunitas nasional yang besar.
Ikrar itu lahir dari kesadaran kolektif, senasib sepenanggungan atas penderitaan Rakyat, dirumuskan oleh pemuda Indonesia, dan serta secara normatif ditujukan untuk kemerdekaan, keadilan, dan serta kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Kesadaran yang Mensejarah
Sumpah Pemuda bukan sekadar pernyataan cinta tanah air.
>Hal itu adalah momen ketika pemuda dari berbagai wilayah menyadari bahwa nasib mereka saling terhubung dibawah struktur kolonial yang menindas secara politik, membatasi pendidikan, dan serta membiarkan kemiskinan struktural terus berlangsung.
Kesadaran itu mensejarah karena perlu menciptakan perubahan arah, perjuangan yang sebelumnya bersifat kedaerahan berubah menjadi perjuangan nasional.
Pemuda tidak lagi memandang dirinya hanya sebagai orang Jawa, Minang, Batak, Bugis, dan atau Maluku dan sebagainya. Melainkan sebagai bagian dari subjek kolektif bersama bernama Bangsa Indonesia.
Dalam kerangka ini, penindasan, kebodohan, dan serta kemelaratan bukan hanya masalah ekonomi.
Ketiganya merupakan sistem kekuasaan kolonial yang saling menguatkan dimana Rakyat ditekan secara politik, dibiarkan terbelakang dalam pendidikan, dan serta dipertahankan dalam ketergantungan ekonomi.
Sumpah Pemuda menjadi penolakan terhadap kesadaran palsu yang dihasilkan oleh sistem itu.
Secara dimensi Ontologis, Sumpah Pemuda menegaskan keberadaan Indonesia sebagai realitas kesadaran kolektif.
>Frasa Bertanah Air Satu mengubah tanah dari objek eksploitasi kolonial menjadi tanah air, yaitu ruang hidup yang memiliki makna, sejarah, dan serta tanggung jawab bersama-sama.
Berbangsa Satu juga memiliki makna ontologis.
>Hal itu bukan penegasan keseragaman rasial atau etnis, melainkan pembentukan subjek kolektif Indonesia yang melampaui sekat suku, agama, ras, dan serta golongan.
Dengan demikian, Indonesia lahir lebih dahulu sebagai kesepakatan moral dan kesadaran eksistensial sebelum menjadi kenyataan negara pada 1945.
>Sumpah Pemuda menciptakan dasar eksistensial bagi bangsa, Indonesia ada karena warganya memilih untuk hidup bersama dan serta sepakat bulat mengakui satu nasib sepenanggungan.
Secara dimensi Epistemologis, Sumpah Pemuda adalah perlawanan terhadap cara pandang kolonial yang memecah-belah dan serta selalu merendahkan Rakyat.
Pemuda 1928 membangun cara baru untuk mengenal diri, melalui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Rakyat dari berbagai daerah dapat saling berdialog, berpikir bersama, dan serta merumuskan cita-cita nasional.
Bahasa Indonesia dipilih bukan karena jumlah penuturnya paling besar, melainkan karena bersifat lebih egaliter dan serta inklusif sebagai lingua franca.
Pemilihan itu menunjukkan bahwa pengetahuan kebangsaan tidak boleh dikuasai satu kelompok etnis atau kelas sosial elite sahaja.
>Karena itu, kebodohan dalam konteks Sumpah Pemuda bukan sekadar ketidaktahuan individual, melainkan pembatasan akses Rakyat Bersama terhadap pendidikan, informasi, dan serta kesempatan berpikir secara kritis.
Persatuan Bahasa menjadi alat untuk membuka jalan emansipasi pengetahuan kemajuan peradaban dan serta agar segera nyata-nyata berdaya saing global.
Sedang dimensi Aksiologisnya bahwa Sumpah Pemuda mengandung nilai kemerdekaan, persatuan, keadilan, dan serta kemakmuran.
Persatuan bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan prasyarat untuk mewujudkan kehidupan nasional yang berkeadaban dan serta berkeadilan.
Kemakmuran dalam makna ini harus dipahami sebagai kesejahteraan yang dirasakan bagi seluruh Rakyat secara priporsional, bukan hanya dikuasai, dinikmati sekelompok elite, wilayah tertentu, atau pemilik modal.
>Keadilan sosial menjadi ukuran utama, apakah hasil pembangunan benar-benar memperbaiki taraf maupun derajad kehidupan seluruh Rakyat, membuka kesempatan, dan serta melindungi, mengentaskan yang lemah menjadi benar-benar sejahtera.
Dengan demikian, rumusan dari, oleh, dan serta untuk kemakmuran dapat dimaknai sebagai berikut.
>Sumpah Pemuda lahir dari pengalaman kemelaratan dan serta penindasan, dilakukan oleh pemuda dan Rakyat Indonesia sebagai subjek perubahan, serta diarahkan untuk pembebasan dan serta kemakmuran bagi seluruh Rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir kelompok.
Paradoks yang Nyata-nyata Adanya.
Adapun Paradoks nyata tersebut menonjol adalah Satu Bangsa, namun banyak identitas.
Indonesia menegaskan kesatuan bangsa, sementara realitasnya adalah masyarakat yang sangat beragam secara suku, agama, bahasa, dan serta budaya.
Persatuan hanya bermakna bila keragaman diakui, hal mana menjadi berbahaya bila satu ditafsirkan sebagai keseragaman atau dominasi kelompok tertentu.
Paradoks berikut adalah Satu Tanah Air, namun penguasaan sumber daya yang timpang.
Tanah air seharusnya menjadi rumah bersama, namun dalam praktiknya akses terhadap lahan, sumber daya alam, dan serta manfaat pembangunan belumlah selalu merata.
Tanpa keadilan sosial, klaim satu tanah air dapat berubah tlah menjadi penguasaan sumber daya oleh segelintir pihak.
Paradoks selanjutnya adalah satu bahasa, namun kesenjangan pengetahuan.
Bahasa Indonesia berhasil menyatukan komunikasi nasional, namun belum sepenuhnya menjamin kesetaraan akses pendidikan, literasi, teknologi, dan serta informasi.
>Bangsa yang memiliki bahasa bersama masih dapat terpecah oleh jurang pengetahuan dan kesempatan.
>Paradoks terakhir adalah Persatuan Politik yang telah dicapai, namun persatuan yang lain dan serta kesejahteraan yang belumlah tuntas hingga 81 tahun lampau peristiwa pembebasan atau sudah mendeklarasikan kemerdekaannya.
Kemerdekaan telah mengakhiri penjajahan formal, namun kemiskinan struktural, ketimpangan antar wilayah, dan serta ketimpangan kelas masih menjadi persoalan nyata.
Persatuan menjadi rapuh bila kemakmurannya hanya dinikmati sebagian kecil Rakyat.
Konsekuensi Hari Ini
Makna Sumpah Pemuda masa kini menuntut perluasan dari satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menuju dan serta harus segera terwujud satu keadilan sosial.
Persatuan harus diwujudkan melalui penghapusan kemiskinan struktural, pemerataan pendidikan, kesetaraan didepan hukum, perlindungan kelompok rentan, dan serta pemerataan manfaat ataupun kue-kue atas nama pembangunan.
Dengan demikian, Soempah Pemoeda 1928 adalah kesadaran kolektif yang mensejarah karena membebaskan bangsa dari penindasan, kebodohan, dan serta kemelaratan.
Namun, hal itu bukan warisan yang selesai.
Itu adalah janji yang terus menuntut bagi setiap generasi sekaligus pemimpinnya baik formal maupun informal dinegeri beribu pulau, banyak pantai, beratus gunung berapi. Dipertemuan 3 cincin api bumi, berdua musim, digaris katulistiwa untuk memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar menghasilkan kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia.
271o2o26, Padmi Negari Rajajowas
(Dprs/erl)



