Suara Publik

Ketika Kedatangan Truk BBM Menjadi Dewa Penyelamat Kehidupan di Bali

×

Ketika Kedatangan Truk BBM Menjadi Dewa Penyelamat Kehidupan di Bali

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi Generate AI

Belum pernah terjadi sepanjang sejarah Pulau Bali, masyarakatnya begitu antusias, sumringah, dan bahagia menyambut kedatangan sebuah truk tangki BBM.

Sambutannya tak ubahnya seperti menyaksikan Sang Hyang Betara Guru turun dari kahyangan membawa berkah untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana!

Bedanya, kali ini yang ditunggu bukan turunnya wahyu dari langit, melainkan turunnya bensin dari tangki truk!

Luar biasa!

Di Pulau Dewata, truk pengangkut BBM yang biasanya hanya dianggap kendaraan operasional, mendadak naik kasta menjadi pembawa keselamatan, sumber kebahagiaan, bahkan nyaris menjadi objek pemujaan massal.

Kalau situasinya terus berlanjut, jangan-jangan nanti kedatangan truk BBM harus disambut dengan gamelan, diarak keliling desa, diperciki tirta, dihaturkan sesajen, lalu dilaksanakan upacara mecaru sebelum selang pengisian boleh ditancapkan ke tangki SPBU!

Siapa tahu, setelah itu bensinnya menjadi lebih berkah dan antreannya lebih lancar!

Tetapi, di balik kelucuan ini, ada ironi yang jauh lebih menyakitkan.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, surga pariwisata dunia, dan destinasi yang menghasilkan perputaran uang luar biasa. Namun, ketika pasokan BBM terganggu, kedatangan satu truk tangki saja bisa menjadi peristiwa yang membangkitkan kegembiraan luar biasa.

Lalu, ke mana sebenarnya kita sedang menuju?

Kita membangun hotel, vila, restoran, beach club, dan berbagai tempat hiburan. Kita berlomba menjual keindahan alam, menikmati derasnya arus wisatawan, dan menghitung keuntungan dari setiap peluang bisnis. Uang berputar di mana-mana.

Harga tanah melambung. Properti menjamur. Gaya hidup semakin mahal. Kemewahan dipamerkan seolah-olah itulah bukti keberhasilan hidup.

Tetapi, apa arti kemakmuran jika kebutuhan dasar saja bisa membuat masyarakat gelisah ketika pasokannya terganggu?

Apa arti surga pariwisata jika urusan energi yang begitu penting bagi kehidupan sehari-hari masih bisa menjadi sumber kecemasan?

Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk menghitung uang yang masuk, tetapi lupa menghitung seberapa kuat fondasi kehidupan kita sendiri.

Kita bangga karena Bali mendunia. Kita senang ketika wisatawan datang membawa dolar, euro, dan berbagai mata uang asing. Kita tersenyum ketika bisnis ramai dan omzet meningkat.

Namun, ketika BBM langka, kita baru menyadari bahwa kehidupan modern tidak bisa berjalan hanya dengan uang, popularitas, foto-foto indah, dan slogan pariwisata kelas dunia.

Uang memang bisa membeli bensin, tetapi uang tidak otomatis menjamin bensin tersedia.

Inilah pelajaran yang mungkin lebih berharga daripada seminar tentang investasi, bisnis, dan cara cepat menjadi kaya.

Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang begitu pandai mencari uang, tetapi lupa membangun ketahanan hidup.

Begitu terbiasa dengan kenyamanan, kita menganggap semua fasilitas akan selalu tersedia. Begitu terbiasa dengan keuntungan, kita mengira roda ekonomi akan terus berputar tanpa hambatan.

Sampai suatu hari, ketika satu kebutuhan terganggu, seluruh kenyamanan itu mendadak terasa seperti rumah kartu.

Dan yang paling menarik, dalam situasi seperti ini, kita bisa melihat betapa cepatnya ukuran kebahagiaan berubah.

Kemarin, kebahagiaan mungkin berupa mobil baru, vila mewah, restoran mahal, atau liburan ke luar negeri.

Hari ini? Satu liter bensin pun sudah cukup membuat wajah berseri-seri!

Begitulah manusia ketika kenyamanan yang dianggap biasa tiba-tiba menjadi barang langka.

Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan.

Apakah kita benar-benar sedang menikmati kemakmuran, atau sekadar menikmati kenyamanan selama segala sesuatu masih berjalan sesuai keinginan kita?

Sebab, kemakmuran sejati bukan hanya tentang berapa banyak uang yang bisa kita hasilkan, berapa banyak vila yang bisa kita bangun, atau berapa banyak wisatawan yang bisa kita datangkan.

Kemakmuran juga tentang kemampuan sebuah masyarakat menghadapi gangguan tanpa kehilangan kendali atas kehidupan sehari-harinya.

Dan tentu saja, tentang bagaimana pemerintah memastikan kebutuhan penting masyarakat tidak berubah menjadi barang rebutan setiap kali pasokan bermasalah.

Jadi, kalau besok ada lagi truk BBM memasuki Bali dan disambut dengan wajah-wajah penuh kebahagiaan, jangan buru-buru menertawakan masyarakatnya.

Tertawakan juga ironi yang lebih besar: bagaimana sebuah pulau yang dikenal kaya, indah, dan mendunia bisa begitu bergantung pada kelancaran pasokan kebutuhan yang sangat mendasar.

Karena persoalannya bukan sekadar masyarakat yang bahagia melihat truk BBM.

Persoalannya adalah mengapa kedatangan sebuah truk BBM bisa terasa seperti mukjizat di tengah peradaban yang mengaku modern dan makmur.

Dan kalau suatu hari truk BBM benar-benar disambut seperti kedatangan dewa penyelamat, mungkin kita perlu bertanya:

Apakah kita sedang menyaksikan kebahagiaan masyarakat yang bersyukur, atau sedang menyaksikan sebuah sistem yang membuat kebutuhan biasa terasa seperti berkah luar biasa?

What a story!

BALI: WHERE MONEY MAKES THE WORLD GO ROUND, BUT ONE FUEL TRUCK CAN MAKE THE WHOLE ISLAND SMILE!

Di Bali, uang mungkin membuat dunia berputar. Tetapi ketika BBM langka, satu truk tangki saja bisa membuat seluruh pulau tersenyum***

Oleh: Chris Komari
Global Activist for Democracy
Chairman, Forum Diaspora Indonesia (FDI)

Tinggalkan Balasan