Cabang olah raga sepak bola di era Ketua PSSI Erick Tohir menjelma menjadi ajang entertainment. Statuta FIFA yang memperbolehkan negara menaturalisasi pemain dari negara manapun menjadi celah pencarian pemain entertain berseragam Timnas.
Bagi pemain lokal yang kualitasnya “pas-pasan”, kebijakan hiburan olah raga tersebut sekilas mengancam karir mereka. Tapi bagi sponsorship dan produser olah raga, naturalisasi permain adalah bisnis investasi.
Erick paham masyarakat pecinta bola butuh euforia pada setiap laga pertandingan. Kekalahan hanya menjadi kepanjangan tangan rasa penasaran. Selanjutnya menunggu laga berikutnya dengan harap-harap menang yang setidaknya menambah euforia.
Kemenangan Timnas Garuda dalam ajang “mini turnamen” FIFA ASEAN CUP menjadi jawaban sebagaian keraguan atas skema naturalisasi pemain. Sebagian lagi masih mencari jawaban : Mampukah juara tidak di rumah sendiri?
Menjadi semifinalis Piala Asia dan nyaris masuk Piala Dunia 2026 setidaknya menjadi penanda level Timnas bukn lagi sekelas Liga dan Sea Games.
Pemain Naturalisasi
Hasil gerilya tim pencarian pemain keturunan Indonesia tidaklah mudah meyakinkan mereka untuk menjadikannya WNI. Justin Hubner dkk yang sebelumnya menganggap garis keturunan Indonesia hanya jadi catatan keluarga. Mereka menghadapi pilihan hak sipilnya di negara asal ditukar menjadi publik figur pemain bola jika mau menjadi WNI.
Persaingan antar pemain di Eropa sebagai kiblat sepak bola menjadi salah satu pertimbangan penting. Gagal lolos seleksi membela Timnas Belanda di berbagai level usia sudah mereka lewati. Kini mereka mendapat tawaran membela Timnas negara lain tanpa seleksi dengan syarat pindah kewarganegaraan.
Disinilah rasa nasionalisme dan ikatan darah keturunan menjadi penentu perjalanan karir profesional mereka selanjutnya.
Di Indonesia sepakbola sudah berubah menjadi bisnis hiburan. Ole Romeny dkk menemukan dunia baru, tidak hanya passing-heading-dribling. Tapi dielu-elukan sebagai wajah baru reformasi gocek si kulit bundar. Mereka menjadi warganegara kelas 1.
Nasionalisme
Mereka menjadi nasionalis ketika antusias penonton melebihi semangat mereka bertanding. Permainan menjadi lebih atraktif ditonton dan wajah-wajah good looking di kamera ponsel lebih bernilai dari kewajiban menang. Mereka mendadak cinta Indonesia ketika lagu “Tanah Airku” dinyanyikan usai laga pertandingan.
Pertanyaan selanjutnya : Apakah mereka sudah benar-benar menjadi Nasionalis?
Jawabannya : Setidaknya kehadiran mereka telah menyihir rasa nasionalis pecinta bola. Dari yang pesimis pada situasi bangsa, menjadi merasa Indonesia melalui dramatisasi sepakbola.
Investasi Naturalisasi 2027
Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga diperkirakan akan menyalurkan dana sebesar Rp382,40 miliar, Dana sepertiga triliun tersebut mencakup biaya administrasi, pelatihan adaptasi, serta insentif kontrak jangka panjang.
Investasi ini bukan sekadar pengeluaran, melainkan strategi jangka panjang di setiap level umur untuk menambah kedalaman skuad dan mengurangi ketergantungan pada pemain domestik yang masih berkembang.
Rencana plat merah tersebut punya dua implikasi. Menjadi alarm kuat keseriusan PSSI naik kelas di level dunia, namun menjadi mimpi buruk pemain lokal. Bakat lokal bisa masuk Timnas dengan memenuhi standar kualitas dunia yang sudah dijadikan kriteria.
Menjadi Rizky Ridho dan Marcelino Ferdinan baru tidak cukup berbekal skill saja. Setidaknya mereka harus menjadi idola publik sebagaimana layaknya panggung pertunjukan.
Sejarah Indonesia Belanda
Catatan sejarah menorehkan Indonesia pernah menjadi salah satu negara bagian dari Belanda. Pada masa kolonial terjadi siklus penduduk dari Balanda ke Indonesia dan sebaliknya. Peradaban negara yang lebih maju meninggalkan warisan di negara bekas jajahannya. Termasuk juga kultur olah raganya.
Khusus sepak bola kita sedikit bersyukur pernah dijajah Belanda. Naturalisasi pemain asing tidak lepas dari lingkaran kolonialis yang pernah terjadi.
Bahwa kebijakan Politik Etis (Ethische Politiek) atau politik balas budi Pemerintah Belanda kepada Indonesia-lah yang membuat para Pelajar Indonesia bisa menggagas kemerdekaan.
Para pelajar pribumi yang bersekolah dan berpendidikan Balanda mengawalinya dengan membentuk Boedi Utomo. Organisasi pergerakan nasional terbentuk. Mereka belajar berorganisasi dari Belanda hingga mencanangkannya menjadi Sumpah Pemuda.
Begitu pula dalam sepak bola. Indonesia mesti mengimpor talenta sepak bola dari negara kolonialis. Belajar mengorganisasi permainan bola dari Belanda hingga suatu saat bisa merdeka sendiri menjadi sepak bola Indonesia.
Nasionalisme dari sebuah nilai rasa akan menjadi tindakan ketika menemukan obyeknya. Dalam sepak bola, nasionalisme “bersembunyi” dalam jersey berlogo Garuda. Pemain naturalisasi yang mengenakannya mesti punya kebanggaan sudah dianggap menjadi Indonesia.
Merekalah “induk semang” sepakbola Nasional dan kita sementara memang masih masih “anak didik” mereka.
Dalam sepakbola kita bisa belajar sebenar-benarnya sebuah organisasi kolektif bekerja. Bukan belajar dari Parpol***
Penulis : Dahono Prasetyo



