WONOSOBO – Siapa sangka udara dingin khas Wonosobo justru berubah menjadi malam penuh kehangatan, tawa, dan nyanyian. Pengunjung satu per satu meninggalkan kursinya, merapat ke depan panggung, bahkan bergantian unjuk suara.
Pemandangan inilah yang mewarnai Musik Hujan Edisi ke-13, kolaborasi KITH Music Studio Record bersama Joglo Nawasena Cafe and Resto, Sabtu (1/8/2026).
Program Live Music Wonosobo yang digelar rutin setiap malam Minggu tersebut kini semakin dikenal sebagai salah satu destinasi hiburan favorit masyarakat. Selain menyuguhkan pertunjukan musik, Musik Hujan juga menjadi ruang berkumpul lintas komunitas, ajang silaturahmi, sekaligus wadah bagi siapa saja yang memiliki hobi bernyanyi.
Pada edisi ke-13, puluhan tamu memadati Joglo Nawasena Cafe and Resto. Di antaranya hadir rombongan guru SDN Sendangmulyo 2 Semarang, Komunitas Nyanyi Bombong Ati, Komunitas Jampi Stress, hingga sejumlah keluarga yang menikmati suasana malam Minggu di Wonosobo.
Acara dengan format SOLO ORGAN oleh seniman senior TAUFIK AKA dibuka oleh Kuat Baskara dengan membawakan lagu karya Heru Kraton berjudul “Telaga Menjer”, yang kemudian dimedley dengan lagu “Goodbye My Love”. Penampilan berlanjut ketika Heru Kraton membawakan lagu hits ciptaannya, “Alun-alun Paseban”, yang langsung mengubah suasana. Para pengunjung berdiri dari kursinya, mendekati panggung, berjoget, dan bernyanyi bersama.
Suasana semakin meriah ketika dua tamu dari rombongan SDN Sendangmulyo 2 Semarang spontan naik ke atas panggung. Mereka membawakan lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” dan “Yang Penting Hepi” yang dipopulerkan Jamal Mirdad. Aksi mereka disambut tepuk tangan dan sorak gembira seluruh pengunjung.
Panggung kemudian menjadi milik bersama. Pak Santo tampil memukau dengan lagu “Walk Away” dan lanjut tampil berduet membawakan lagu “Cinta” Vina Panduwinata, Pak Pinto dan Bunda Cicil menyanyikan “Rindu Terlarang”, disusul Mas Edi dengan “Hati yang Terluka”. Bu Sri Puji membawakan “Pelampiasan” dan “Egois”, Bu Shinta tampil dengan “Jangan Kau Khianati Aku” dan “Kau Telah Berdua”, Bu Nina menyanyikan “Tiada Maaf Bagimu” serta “Buih Jadi Permadani”, Mas Peno dendangkan dangdut berjudul “Cinta dan Air Mata, Bu Lestari membawakan “Tunggulah Kekasih” dan “Rasa Cinta”, Pak Bandi dengan “Kusadari”, Pak Drajat melalui “Jogja Istimewa”, sementara Bu Sri Dadit menutup penampilan dengan “Menghapus Jejakmu”, “Nona Manis”, dan “Satu Saja Pintaku”.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung tanpa jeda hingga pukul 22.30 WIB. Antusiasme penonton tidak surut sampai lagu terakhir selesai dibawakan.
Manajer Joglo Nawasena, Andy Prabowo, mengatakan bahwa Musik Hujan merupakan ruang ekspresi bagi masyarakat yang memiliki hobi bernyanyi sekaligus menjadi tempat bertemunya berbagai komunitas.
Sementara itu, Pimpinan KITH Music Studio Record, Heru Kraton, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan secara rutin setiap malam Minggu sebagai ajang silaturahmi sekaligus tempat latihan vokal yang terbuka bagi siapa saja.
Direktur KITH Music, Bunda Cicil, mengungkapkan bahwa nama Musik Hujan terinspirasi dari Wonosobo yang memiliki curah hujan tinggi. Ia berharap, sebagaimana hujan menyuburkan tanaman, kegiatan Musik Hujan yang terus digelar mampu menumbuhkan semakin banyak talenta musik berkualitas dari Wonosobo.
Marketing & Communication Joglo Nawasena, Irham Haros, menegaskan bahwa konsep Musik Hujan sepenuhnya gratis. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk maupun biaya untuk bernyanyi. Mereka cukup bayar pesanan makanan atau minuman yang tersedia dengan pilihan menu street food berharga terjangkau”.
“Musik Hujan adalah ruang hiburan yang terbuka untuk semua kalangan. Siapa pun boleh datang, bernyanyi, berkumpul, dan menikmati malam Minggu tanpa tiket masuk. Cukup memesan makanan atau minuman. Informasi dan reservasi dapat menghubungi 0812-9537-4911,” ujar Irham.
Dengan konsep yang inklusif, hangat, dan penuh kebersamaan, Musik Hujan di Joglo Nawasena Cafe and Resto kini menjadi salah satu pilihan terbaik untuk menikmati hiburan malam Minggu di Wonosobo. Bukan sekadar live music, tetapi juga ruang lahirnya persahabatan, kolaborasi komunitas, dan panggung bagi siapa saja yang ingin mengekspresikan bakat bernyanyi. (Irhas)







