Jakarta – Terasdepok.com | Para pendiri bangsa membangun negara bernama Indonesia melalui proses yang panjang. Diawali dari meletakkan pondasi bangsa bernama Pancasila yang akhirnya melahirkan UUD 45.
Kedua produk konstitusi itulah yang kini menjadi penjaga persatuan, kesatuan dan hukum yang mengatur segala sendi kehidupan bangsa.
“Peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni tahun ini menjadi penegasan bahwa derasnya serangan ideologi asing namun kita masih berdiri sebagai bangsa karena masih punya ideologi Pancasila. Jika tak ada ideologi dasar negara Pancasila, maka negara sudah bubar kemarin. Diserang ideologi khilafah dari kelompok sarapatigenah.” jelas AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), Ketua Umum PNIB kepada awaka media yang meminta pendapatanya.
Baca Juga : Gus Wal : Deforestasi di Papua Adalah Bentuk Intoleransi Kepada Alam, Tolak Neo VOC
Memahami Pancasila menurut Gus Wal tidak hanya menghafal kelima silanya. Namun mengamalkan satu persatu silanya sebagai pegangan berpikir dan bertindak.
“Kalau hanya menghafal Pancasila itu kewajiban murid Sekolah Dasar. Mengamalkan dan mengejawentahkan menjadi persyaratan melanjutkan hidup di negara Indonesia dengan 5 sila yang menjadi satu kesatuan tidak bisa dipisahkan. Hanya berpegang sila pertama tapi mengabaikan 4 sila lainnya. Atau mau menerima sila keempat namun mengabaikan sila ketiga” lanjut Gus Wal.
Krisis Multidimensi
Merefleksikan kembali Pancasila tahun ini menurut Gus Wal menjadi bahan introspeksi untuk kehidupan bangsa ke depannya. Krisis multidimensi yang terjadi salah satu penyebabnya karena kita meninggalkan filosofi Pancasila.
“Pelaku korupsi, arogansi dan intoleransi sudah pasti mereka yang melakukan atas dasar ego pribadi dan kelompok. Mereka hanya hafal Pancasila, namun sesungguhnya sedang menghancurkan sendi-sendi negara. Hidup di negara Pancasila namun menggerogoti kedaulatan bangsa. Dan merekalah yang seharusnya diusir dari NKRI ini”. imbuhnya.
Gus Wal dan PNIB menjadi satu-satunya ormas kebhinekaan yang konsisten membumikan Pancasila, merah putih dan kebhinekaan. Dan bermacam aktifitas kebangsaan rutin dilakukan secara mandiri karena kesadaran, bukan pesanan.
“Dengan segala keterbatasan PNIB konsisten menggelar Ngaji Pancasila dan dialog Kebangsaan. Di saat ormas lain sibuk bertransaksi bisnis, kami dengan sukarela patungan menggelar Kirab Merah Putih. Kami tidak merasa paling Pancasilais, namun setidaknya PNIB tidak korupsi, mengintimidasi rakyat atau rebutan konsesi tambang” jelasnya lagi.
“Yang bisa menjaga bangsa ini bukan hanya TNI, namun kita yang peka infiltrasi ideologi asing menyelinap nyata di sekitar kita. Itu ancaman negara yang nyata. Pancasila Harga Mati, Merah Putih tanpa kompromi dan NKRI hebat tanpa korupsi” pungkas Gus Wal.***(RahSav)











