DaerahRedaksional

Sampah Berserakan Usai Acara Pengajian Haul di Solo, Netizen Pertanyakan Kesadaran dan Akhlak

×

Sampah Berserakan Usai Acara Pengajian Haul di Solo, Netizen Pertanyakan Kesadaran dan Akhlak

Sebarkan artikel ini
Minimnya kesadaran berbuah sampah berserakan usai gelaran Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di kawasan Pasar Kliwon, Solo, Minggu (4/10/2026) jadi sorotan publik (Foto Dok : radarjogja)

Solo — Terasdepok.com — Pemandangan tak sedap tertangkap video usai gelaran Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di kawasan Pasar Kliwon, Solo, Minggu (4/10/2026).

Unggahan video yang memperlihatkan tumpukan sampah sisa gelaran Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi itu mendadak viral di media sosial dan memicu beragam respons dari warganet.

Acara keagamaan yang berlangsung dari 30 September hingga 4 Oktober 2026 tersebut menyisakan tumpukan sampah basah dan kering yang berceceran di sepanjang jalanan lokasi kegiatan pasca-acara berakhir.

Dalam rekaman video yang beredar, tampak sejumlah peserta terkesan acuh tak acuh melihat kondisi sampah yang berserakan.

Baca Juga : Blunder TPA Putri Cempo Jadi Pelajaran, Solo Kini Fokuskan Pengolahan Sampah Sejak dari Rumah

Mereka tetap asyik berswafoto dan lalu lalang melintasinya begitu saja tanpa mempedulikan kebersihan sekitar.

Viral di Media Sosial

Kondisi tersebut mendulang kecaman publik setelah akun X @fjrwo… mengunggah rekaman situasi di lokasi pada Minggu (4/10/2026).

Unggahan tersebut disertai tulisan kritis, “Rasul ga ngajarin haul, tapi menjaga lingkungan,” dengan penanda lokasi Haul Solo 2026 Pasar Kliwon.

Unggahan itu lantas menyedot perhatian netizen dan memicu diskusi hangat di kolom komentar.

Salah satu tanggapan datang dari akun @MasUmbi… yang menyayangkan kurangnya kesadaran menjaga kebersihan dari para pengunjung.

“Ini salah satu kenapa muslim dipandang kurang. Gw setuju dengan acara itu dan gw juga pernah ikut, acaranya bagus. Tapi gua ga setuju dengan kebiasaan yang seenaknya sendiri jadi ngotorin tempat orang kayak gitu. Semoga banyak peserta yang menjadi lebih baik kedepanya,” tulis akun tersebut.

Baca Juga : GP Ansor Depok Gelar TOT, Gandeng Pesantren Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah

Sampah Orang Beriman

Salah seorang pegiat media sosial memberikan ulasan panjang yang cukup menyita perhatian publik. Dikutip dari akun FB @dimassupriyanto yang diberi judul “Sampah Orang Beriman” :

Pemandangan itu sungguh menyedihkan. Tumpukan sampah berserakan sehabis acara pengajian.

Orang orang yang beriman itu meninggalkan sampah dan membawa sampah.

Meninggalkan plastik, kertas, bekas bungkusan atau pengganti tikar, dan membawa sampah mental, sampah pikiran, sampah kebiasaan. Sampah itu melekat di kepalanya di hatinya dan dibawa ke mana saja, bahkan dibawa ke ranjang tidurnya.

Baca Juga : Walikota Depok Buka Sayembara Berhadiah Rp1 Juta untuk Warga yang Menangkap Pembuang Sampah Sembarangan

Jika menguatkan iman yang diinginkan oleh umat yang rajin mengaji, bukankah kebersihan bagian dari iman?

Bukankah mereka bagian dari masyarakat yang menginginkan lingkungan bersih, kota bersih dan pemerintah bersih?

Bagaimana bisa mereka – tanpa rasa bersalah – tanpa rasa malu – membuang sampah sembarangan ?

Tanggung Jawab Pemerintah atau Kesadaran

Warga menyalahkan pemerintah kota yang tak menjaga kebersihan kotanya, sementara warga tak berubah, dengan mentalitas joroknya.

Ini paradok bangsa. Mereka menuntut pemerintah bersih, tapi mereka sendiri kotor. Menuntut pemerintah tertib, tapi mereka sendiri semrawut.

Mereka mengikuti aturan agama, sedang mereka sendiri menerabas ajaran agama.

Seorang aktifis berteriak garang, “Kita diminta sehat di tengah pemerintahan yang sakit!”.

Baca Juga : Surya, Pemilah Sampah Berhasil Memenangkan Pilkades Langsung di Desa Mekarwangi, Bukti Demokrasi Rakyat Masih Ada

Padahal yang terjadi sebaliknya, “Pemerintah dituntut sehat di tengah masyarakat yang sakit!”

“Para pemimpin seharusnya meniru Jepang. Jika malu mengundurkan diri atau harakiri”

Maaf, apakah rakyatnya juga sama seperti rakyat Jepang, punya rasa malu dan disiplin?

Mereka ingin pejabat hidup bersih, sedangkan warga masih suka menyogok. Pemerntah dituntut tertib, sedangkan masyarakat masih suka melanggar aturan.

Dan celaka, mereka beragama, mengaji, tekun menyimak ceramah pendakwah – tapi meninggalkan sampah di mana mana. Hanya beberapa menit setelah pengajian!

Saya membayangkan pendakwah yang tampil di mimbar pulang dengan lega dan bangga karena umatnya berkumpul mendengarkan tausiahnya. Bagaimana jika dia juga melihat video umat yang diceramahi olehnya meninggalkan sampah sebegitu rupa?

Baca Juga : Emak-emak Depok Sulap Sampah Kresek Jadi Dekorasi Rumah Bernilai Jual

Mereka datang ke pengajian buat apa sebenarnya? Warga yang beragama dan tak beragama, yang taat maupun ingkar sama sama berharap pada kebersihan lingkungan, tapi orang yang mengaji dengan tanpa rasa bersalah, membuang sampah di sembarang tempat.

Dan mereka berharap mendapat hidayah, berkah dan masuk surga? ***

Sumber : radarjogja

(Dprs/erl)

Tinggalkan Balasan