DaerahLayanan Publik

Blunder TPA Putri Cempo Jadi Pelajaran, Solo Kini Fokuskan Pengolahan Sampah Sejak dari Rumah

×

Blunder TPA Putri Cempo Jadi Pelajaran, Solo Kini Fokuskan Pengolahan Sampah Sejak dari Rumah

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi memaparkan persoalan sampah terkait kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Surakarta (Dok : terasdepok.com)

SURAKARTA — Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta mengambil langkah tegas dan strategis dalam merespons insiden kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo. Peristiwa tersebut menjadi momentum krusial bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan.

Ke depan, fokus utama pembenahan tidak lagi bertumpu pada hilir, melainkan digeser secara masif ke hulu dengan melibatkan peran aktif masyarakat serta aparat tingkat kelurahan demi menciptakan sistem tata kelola lingkungan yang jauh lebih tangguh dan berkelanjutan di masa mendatang.

Baca Juga : Walikota Depok Buka Sayembara Berhadiah Rp1 Juta untuk Warga yang Menangkap Pembuang Sampah Sembarangan

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menjelaskan bahwa perubahan paradigma ini mendesak dilakukan guna menekan volume sampah secara signifikan sebelum dikirim ke TPA. Melalui koordinasi intensif bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pemkot berkomitmen memperketat seleksi sampah, membekali warga dan petugas kelurahan agar mampu melakukan pengolahan awal secara mandiri di lingkungan masing-masing.

“Nanti kita sampaikan bagaimana petugas kelurahan dan masyarakat bisa memproses sampah di hulu. Kita tetap akan lebih selektif ketika sampah masuk di TPA,” ujar Respati saat memberikan keterangan kepada awak media di Balai Kota Surakarta, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga : Emak-emak Depok Sulap Sampah Kresek Jadi Dekorasi Rumah Bernilai Jual

Mata Rantai Penumpukan Sampah

Transformasi kebijakan ini menandai babak baru pengelolaan kebersihan di Kota Solo. Selama ini, pola penanganan sampah cenderung bersifat konvensional dengan mengandalkan sistem end-of-pipe. Yaitu di mana seluruh beban pembuangan bertumpu sepenuhnya di lokasi akhir pemrosesan tanpa adanya penyaringan awal yang memadai.

Dengan strategi baru ini, pemkot berupaya memutus rantai penumpukan sampah sejak dari sumber utamanya, baik dari lingkup rumah tangga, kawasan komersial, pasar tradisional, maupun berbagai fasilitas publik yang ada di seluruh wilayah kota.

Keterlibatan masyarakat dan petugas kelurahan diposisikan sebagai garda terdepan dalam ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Pemkot Surakarta menyadari bahwa tanpa partisipasi aktif dari akar rumput, upaya mitigasi risiko lingkungan dan pencegahan insiden serupa di masa mendatang akan sulit terwujud secara optimal.

Baca juga : Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi, Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok

Edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah akan digalakkan secara berkesinambungan.  Termasuk penguatan infrastruktur tingkat lokal seperti bank sampah dan unit pengolahan kompos mandiri.

Langkah preventif ini diharapkan mampu membentuk budaya baru yang ramah lingkungan di tengah masyarakat Surakarta. Melalui kolaborasi erat antara pemerintah dan warga, tata kelola persampahan kota diharapkan menjadi lebih mandiri. Juga aman serta berwawasan lingkungan jangka panjang.***

(Ns/Dprs)

Tinggalkan Balasan