Islami

Bekal Menghadapi Kematian 

×

Bekal Menghadapi Kematian 

Sebarkan artikel ini
Gambar ilustrasi

Oleh: Buya Hasfar

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Kematian adalah Kepastian

Kematian adalah sebuah kepastian yang akan dialami setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kekayaan, maupun kedudukan. Ia dapat datang kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)

Ayat tersebut menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak terlena oleh kehidupan dunia. Sebab, kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Karena kematian dapat datang tanpa pemberitahuan, seorang muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya mempersiapkan kebutuhan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Setidaknya ada lima bekal penting yang perlu kita persiapkan.

1. Bertekad Meninggal dalam Keadaan Islam

Keimanan merupakan bekal paling mendasar dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga iman dan berusaha istiqamah menjalankan ajaran Islam hingga akhir hayat.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, jangan menunda taubat dan jangan menunggu hari tua untuk memperbaiki diri. Selagi masih diberikan kesempatan hidup, gunakanlah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Menjadikan Takwa sebagai Bekal Utama

Dalam perjalanan dunia, manusia membutuhkan berbagai bekal. Demikian pula dalam perjalanan menuju akhirat.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa bukan sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, menjaga lisan, menjaga hati, serta berbuat baik kepada sesama merupakan bagian dari ketakwaan.

3. Memperbanyak Infak dan Sedekah

Harta yang kita miliki pada hakikatnya hanyalah titipan Allah SWT. Selagi masih diberikan kesempatan hidup, manfaatkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.

Allah SWT berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini mengingatkan bahwa ketika ajal telah tiba, manusia akan berharap diberi kesempatan kembali ke dunia untuk melakukan amal saleh.

Karena itu, jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi. Kebaikan sekecil apa pun, apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, tidak akan sia-sia.

4. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Kehidupan seorang muslim hendaknya senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul agar kamu diberi rahmat.”
(QS. Ali ‘Imran: 132)

Ketaatan dapat diwujudkan melalui ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, menjaga salat, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, menolong sesama, serta menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang Allah SWT.

5. Menyelesaikan Utang dan Segala Tanggungan

Selain hubungan dengan Allah, manusia juga memiliki kewajiban terhadap sesama.

Utang, amanah, dan hak orang lain merupakan perkara yang harus diselesaikan selagi masih diberikan kesempatan hidup. Karena itu, marilah kita berusaha melunasi utang, mengembalikan hak orang lain, menunaikan amanah, serta meminta maaf apabila pernah melakukan kesalahan.

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika dia dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 280)

Jangan Menunggu Ajal untuk Berubah

Sering kali manusia merasa masih memiliki banyak waktu. Kita berkata, “Nanti saja bertaubat.” “Nanti kalau sudah tua.” “Nanti kalau sudah kaya.” “Nanti kalau urusan dunia sudah selesai.”

Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan waktu hidupnya akan berakhir.

Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua. Kematian tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Kematian juga tidak menunggu seseorang menyelesaikan seluruh rencana hidupnya.

Karena itu, jangan menunggu ajal untuk mulai berubah. Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai. Jangan menunggu sakit untuk mulai beribadah. Dan jangan menunggu kematian datang untuk mempersiapkan bekal akhirat.

Setiap hari yang masih diberikan Allah SWT adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mari kita jadikan setiap hari sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat iman dan ketakwaan, memperbanyak sedekah, menjaga hubungan dengan sesama, serta menyelesaikan segala kewajiban.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah SWT.

Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Rumah dan kendaraan tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.

Yang akan menjadi bekal adalah iman, takwa, amal saleh, dan kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.

Semoga Allah SWT memberikan kita umur yang penuh keberkahan, hati yang senantiasa dekat dengan-Nya, kekuatan untuk berbuat amal saleh, serta husnul khatimah ketika tiba saatnya kembali menghadap-Nya.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, melapangkan kubur kita, memberikan keselamatan di dunia dan akhirat, serta mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh dan bertakwa di dalam surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Editor : Suratmnin Ragil

Tinggalkan Balasan