Setiap orang yang melayangkan protes adalah penyintas. Mereka yang diprotes juga penyintas. Protes-memprotes dalam dunia politik adalah praktik “jual beli” yang wajib dimaklumi. Takdir, terutama politik, memang tidak selalu berjalan di satu sisi. Suatu masa mereka yang “didemo” juga pernah jadi “pendemo”.
Ada siklus dalam kekuasaan yang bisa saja tumpang tindih dan berganti atribusi silih berganti.
Demonstrasi mahasiswa yang terjadi belakangan ini tak perlu dijabarkan secara rinci. Ini adalah perputaran yang sudah biasa dalam negara demokrasi. Berserikat dan berkumpul, termasuk bersuara, juga dijamin oleh undang-undang. Karenanya, bahkan presiden pun tak bisa menyalahkan mereka, apalagi “buzzer” robotik yang sekedar menunggu uang beras di setiap awal bulan.
Anak muda yang kemudian berdemonstrasi pun tidak bisa diukur secara metafisika. Mereka adalah reproduksi sejarah yang telah membangun revolusi dan mengubah sistem politik selama berabad-abad.
Baca Juga : Mukhsin Nasir : Negara Jadi Panggung Koruptor, Kita Jangan Diam
Protes anak muda terhadap negara bukanlah soal doktrin atau tradisi, melainkan “instinctus natalis”, naluri kelahiran, meminjam istilah Sigmund Freud.
Jadi, Budiman tidak perlu kecewa terhadap adik-adiknya atas kejadian di Yogyakarta. Budiman juga penyintas. Ini biasa dalam politik.
“Orang-orang tua” juga tidak perlu meradang atas cara Tiyo bersuara, setiap generasi memiliki cara masing-masing agar terdengar.
Whatsoever, kita harus betul-betul menyadari bahwa anak muda yang hari ini turun ke jalan kelak akan menjadi pemimpin di masa depan. Jika nantinya mereka lalai sebagai pejabat, mereka juga akan didemo oleh mahasiswa berikutnya dan bisa diturunkan dari panggung seperti yang terjadi di UGM tempo hari.
Aksi-aksi mahasiswa ini bukan lagi soal reposisi obyek dan subyek, tapi karena hukum alam yang sudah waktunya menuntut pergantian pemain.
Semesta memang selalu berjalan dengan hitungannya sendiri. Hari ini berkuasa, suatu saat bisa terlunta-lunta. Itu sudah biasa. Yang penting jangan pernah menciderai sejarah dengan melacurkan diri demi sesobek blacu dan sekepal nasi.
Itu prinsip untuk merawat harga diri.
Penulis : Islah Bahrawi