Wonosobo — Dinginnya udara Wonosobo seolah tak terasa di tengah semarak Tunas Bumi Fest 2026. Aroma kopi dari puluhan stand pelaku kopi Wonosobo berpadu dengan riuh pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, menjadikan kawasan festival di Alun-Alun Wonosobo sebagai ruang pertemuan yang hidup.
Di antara deretan stand tersebut, Joglo Nawasena Cafe And Resto di stand nomor 24 tampil dengan konsep berbeda. Dengan mengusung tema go green, stand tersebut dihiasi ornamen bunga bernuansa hijau dan menampilkan sederet produk kopi Wonosobo, baik arabika maupun robusta.
Tak sekadar menjadi tempat memajang produk, stand Joglo Nawasena justru berkembang menjadi salah satu titik nongkrong dan interaksi pengunjung selama festival berlangsung.
Tunas Bumi Fest 2026 sendiri diinisiasi GMPP bersama Yayasan Jagat Tunas Bumi (Jatubu) dalam rangka memperingati HUT ke-3 Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP). Kegiatan yang berlangsung 8–10 Agustus 2026 itu tidak hanya menghadirkan stand UMKM dan kopi. Tetapi juga memadukan hiburan, kebudayaan, diskusi kebangsaan, pemberdayaan ekonomi, penguatan kelompok dan komunitas, hingga pengembangan sektor pertanian serta pemasaran.
Salah satu magnet utama festival adalah Festival Kopi. Sebanyak 40 stand kopi dari berbagai pelaku kopi Wonosobo hadir di sisi barat panggung utama dengan membawa produk unggulan masing-masing.
Panitia juga menyediakan 20.000 kopi gratis yang dapat dinikmati pengunjung dengan menukarkan voucher yang telah dibagikan. Semarak festival semakin lengkap dengan sejumlah kompetisi, seperti Fun Manual Brew, Fun Tubruk, dan Creative Stand Competition.
Dari Kopi, Berlanjut Menjadi Ruang Silaturahmi

Stand Joglo Nawasena menawarkan suasana yang membuat pengunjung tidak sekadar datang, melihat-lihat, kemudian pergi. Meja dan kursi yang tersedia di teras depan stand menjadi ruang kecil untuk duduk, berbincang, menikmati kopi, sekaligus mengamati denyut festival.
Nampak dua standing banner informasi mengenai agenda live music Joglo Nawasena ditempatkan di pojok kiri depan stand juga menjadi bagian dari strategi komunikasi. Banner tersebut seakan menyapa siapa saja yang melintas dan secara tidak langsung memperkenalkan berbagai aktivitas yang berlangsung di Joglo Nawasena.
Menariknya, pengunjung yang datang pun berasal dari latar belakang yang beragam. Pelajar, mahasiswa, komunitas, ibu-ibu arisan, kalangan sosialita hingga pejabat terlihat membaur dalam suasana festival.
Keragaman tersebut menjadi gambaran bahwa kopi bukan lagi sekadar minuman. Kopi telah berkembang menjadi medium untuk membangun percakapan, mempertemukan komunitas, membuka jejaring dan menciptakan peluang.
Hal itulah yang juga dirasakan Irham Haros, Marketing Communication Nawasena. Ia menyampaikan apresiasi kepada Mantep Abdul Ghoni, yang dikenal sebagai Kakornas GMPP sekaligus Ketua Umum Jatubu, atas terselenggaranya Festival Kopi dalam rangkaian Tunas Bumi Fest 2026.
“Kegiatan ini telah mengisi kekosongan event kopi di Wonosobo setelah beberapa saat para pegiat kopi tidak ada kegiatan pameran. Acara ini tentu menggairahkan perkopian Wonosobo dan berdampak positif bagi perkopian Wonosobo ke depannya,” ujar Irham.
Menurutnya, festival seperti ini penting untuk menjaga ekosistem kopi Wonosobo agar terus bergerak. Bukan hanya bagi pelaku usaha kopi, tetapi juga petani, komunitas, pelaku UMKM, kedai, hingga masyarakat yang menjadi bagian dari rantai ekonomi kopi.
Marketing Tidak Harus Selalu Berbicara Tentang Produk
Bagi Joglo Nawasena, keikutsertaan dalam festival bukan semata-mata soal menjual atau memperkenalkan kopi.
Joglo Nawasena berkeinginan memperkenalkan dirinya bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi sebagai ruang yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Mulai dari family resto, meeting, wedding, gathering, event hingga transit meal.
“Ini menjadi ajang Marketing Communication dalam mendekati pasar yang lebih luas sekaligus untuk semakin memperkenalkan layanan Joglo Nawasena sebagai family resto, tempat meeting, wedding, gathering, event juga transit meal,” pungkas Irham.
Strategi tersebut tampaknya menemukan momentumnya.
Sejumlah pengunjung yang sebelumnya belum mengetahui bahwa Joglo Nawasena juga menyediakan pilihan kopi Wonosobo mulai menunjukkan ketertarikan setelah melihat langsung stand nomor 24.
Bahkan, muncul celetukan sederhana yang justru menjadi gambaran keberhasilan komunikasi tersebut:
“Oh, ternyata di Joglo Nawasena ada kopi-kopi juga ya.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam dunia marketing, rasa ingin tahu yang muncul secara spontan justru dapat menjadi pintu awal untuk mengenalkan sebuah brand kepada calon konsumen baru.
Dua Jam Nongkrong, Banyak Cerita
Selama kurang lebih dua jam berada di teras stand, suasana yang terlihat menunjukkan bahwa Festival Kopi bukan hanya tentang siapa yang menjual kopi dan siapa yang meminumnya.
Ada interaksi, pertemuan dan cerita, komunitas yang saling mengenal. Pengunjung yang datang sekadar menikmati kopi, tetapi kemudian menemukan informasi tentang kegiatan lain. Ada pula yang baru mengenal Joglo Nawasena setelah mampir ke stand..
Dalam Tunas Bumi Fest 2026 pun menunjukkan bahwa ketika kopi, komunitas, UMKM, budaya dan strategi pemasaran dipertemukan dalam satu ruang. Dan sebuah festival dapat menjadi lebih dari sekadar perhelatan.
Ia bisa menjadi ruang tumbuh bersama. Dan bagi Joglo Nawasena, stand nomor 24 bukan sekadar nomor peserta.
Ia menjadi titik temu antara kopi, komunitas, konsumen dan peluang baru. Maju terus kopi Wonosobo. ***
(Dprs/Erla)



