Seni dan Budaya

“Anda adalah Saya”: Pesan Toleransi Dosen Unila I Wayan Mustika Menggema Lewat Film Ageman

×

“Anda adalah Saya”: Pesan Toleransi Dosen Unila I Wayan Mustika Menggema Lewat Film Ageman

Sebarkan artikel ini
Dr. I Wayan Mustika, S.Sn., M.Hum.

LAMPUNG — TERASDEPOK.COM – Pesan keberagaman dan toleransi kembali dihadirkan melalui karya perfilman. Film Ageman, karya audio visual yang digarap talenta muda Lampung, mengangkat refleksi tentang keberagaman, kerukunan antarumat beragama, serta bahaya intoleransi dan radikalisme.

Salah satu sosok yang menarik perhatian dalam film tersebut adalah Dr. I Wayan Mustika, S.Sn., M.Hum. Akademisi sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Seni Tari FKIP Universitas Lampung (Unila) itu turut tampil sebagai pemeran tokoh agama Hindu.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, peneliti, serta pembina kegiatan kemahasiswaan, Wayan menerima tantangan untuk tampil di depan kamera. Perannya tidak sekadar menjadi bagian dari alur cerita, tetapi sekaligus membawa pesan filosofis yang berkaitan erat dengan nilai kemanusiaan dan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Dalam film Ageman, karakter yang diperankan Wayan berhadapan dengan dua tokoh utama, Aluna dan Zaskia. Keduanya dikisahkan melakukan perjalanan untuk mencari pencerahan dan jati diri di tengah berbagai ujian, termasuk persoalan intoleransi.

Salah satu bagian yang menjadi inti pesan karakter tersebut adalah ketika Wayan menjelaskan konsep Tat Tvam Asi, sebuah ajaran dalam filsafat Hindu yang secara harfiah bermakna “Itulah Kamu” atau “Kamu adalah Itu”.

Menurut Wayan, filosofi tersebut mengandung pesan mendalam mengenai kesamaan hakikat manusia.

“Bentuk makna mendalam dari ajaran ini adalah ‘Anda adalah Saya’, bahwa percikan jiwa (Atman) dalam diri kita pada dasarnya sama dengan jiwa semesta,” tutur Wayan.

Konsep tersebut mengajarkan manusia untuk melihat orang lain sebagai bagian dari dirinya. Dengan demikian, menyakiti orang lain pada hakikatnya juga berarti menyakiti diri sendiri. Sebaliknya, membantu dan berbuat baik kepada sesama merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan bersama.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan tema besar Ageman, yakni bagaimana manusia mampu melewati sekat perbedaan agama, suku, budaya, maupun latar belakang untuk membangun kehidupan yang damai.

Film ini disutradarai Jasper Lance Piscasio dan terinspirasi dari perjalanan hidup Ken Setiawan, mantan tokoh radikal yang kemudian memilih kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ken Setiawan juga terlibat sebagai produser dalam proyek film tersebut.

Pesan inklusivitas yang dibawa Ageman mendapat apresiasi dari Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada.

Firsada menilai film tersebut memiliki pesan penting bagi masyarakat, khususnya dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman Indonesia.

“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan saling menghargai di tengah keberagaman suku, budaya, serta agama,” ungkap Firsada.

Ia berharap pesan yang disampaikan melalui film Ageman dapat mendorong masyarakat untuk semakin memahami pentingnya menjaga persatuan serta menutup ruang bagi tumbuhnya intoleransi dan radikalisme.

“Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” lanjutnya.

Kehadiran Wayan dalam film tersebut mempertemukan dunia akademik dengan seni dan perfilman. Pesan Tat Tvam Asi yang dibawanya menjadi salah satu refleksi bahwa keberagaman tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh.

Melalui perpaduan cerita, akting, dan pesan kemanusiaan, Ageman tidak hanya diarahkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang perenungan tentang bagaimana masyarakat Indonesia dapat memeluk perbedaan dengan saling menghormati dan penuh kasih.(Ken)

 

Tinggalkan Balasan