Penulis : Beno Siang Pamungkas
Di balik jeruji besi dan sorotan kamera yang menghakimi, berdiri seorang pria bernama Taufik Hidayat. Media menyebutnya monster, psikopat, dan biadab. Namun, jika kita menelisik lebih dalam ke dalam labirin psikologi kolektif bangsa ini, mungkin kita akan menemukan bahwa Taufik bukanlah anomali.
Ia adalah cerminan wajah asli dari sebuah sistem yang telah lama kehilangan empati. Ia adalah buah matang dari pohon kekuasaan yang akarnya telah lama membusuk di tanah yang seharusnya subur bagi kesejahteraan rakyat.
Kita sering lupa bahwa kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang hari-hari ini menjadi bahasa resmi kekuasaan. Sebelum Taufik mengangkat tangan kepada pacarnya, ia telah bertahun-tahun menyaksikan bagaimana tangan-tangan lain, tangan yang lebih besar, lebih berkuasa, dan lebih berseragam, mengangkat tongkat komando untuk memukul mundur aspirasi rakyat.
Ia melihat bagaimana kebijakan dibuat bukan untuk melayani, melainkan untuk mengeruk. Dalam diam, ia menyerap pelajaran bahwa kekuasaan adalah hak untuk menyakiti, dan bahwa rasa sakit orang lain hanyalah biaya operasional dari ambisi pribadi.
Negara ini, dalam banyak hal, beroperasi seperti rumah tangga yang disfungsional. Ada figur otoriter di puncak yang menuntut loyalitas mutlak sambil menguras isi kulkas bersama segelintir kroninya. Rakyat diminta untuk setia, untuk sabar, dan untuk tidak bertanya ke mana perginya hasil bumi yang melimpah.
Sementara itu, segelintir orang di lingkaran dalam berpesta pora di atas piring emas dan perak hasil korupsi. Taufik, dalam skala mikroskopisnya, hanya meniru dinamika makroskopis. Ia ingin menguasai, ia ingin memiliki, dan ia merasa berhak untuk menyiksa demi mempertahankan ilusi kontrolnya.
Baca juga : Manuver Simbolik Istana di “Kandang Singa”: Membaca Sinyal Politik Prabowo pada Muktamar NU ke 35
Perhatikan bagaimana narasi nasional selama ini diorkrestrasi. Kita diajarkan bahwa pengorbanan adalah mulia. Rakyat dikorbankan demi stabilitas ekonomi, demi proyek mercusuar, demi kepentingan geopolitik elit. Jika negara bisa dengan dingin menghitung nyawa rakyat sebagai angka statistik belaka dalam laporan kinerja, mengapa individu seperti Taufik tidak boleh menganggap pasangannya sebagai objek yang bisa dimanipulasi?
Logika dehumanisasi itu sama; hanya skalanya yang berbeda. Negara mendehumanisasi massa, Taufik mendehumanisasi satu orang. Keduanya berakar pada ketiadaan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kekerasan Domestik
Kekerasan domestik yang dilakukan Taufik bukanlah ledakan kemarahan yang spontan, melainkan akumulasi dari frustrasi struktural yang tidak punya saluran keluar. Ia hidup di dunia di mana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ia melihat koruptor kelas kakap berjalan bebas dengan senyum simpul, sementara pencuri ayam dimassa dengan hukum jalanan bahkan dibakar. Ketidakadilan ini menciptakan rasa impunitas (kebal hukum) yang merembes jauh ke dalam jiwa seseorang.
Jika para penguasa bisa lolos dari jerat hukum atas kejahatan yang jauh lebih besar terhadap jutaan orang, mengapa Taufik merasa perlu takut pada konsekuensi atas kejahatannya terhadap satu orang?
Sistem pendidikan dan sosial kita juga gagal mengajarkan penghargaan terhadap otonomi tubuh. Sebaliknya, kita dibesarkan dalam budaya patriarki yang kaku dan hierarki kekuasaan yang feodal. Atasan boleh membentak bawahan, guru boleh memukul murid, dan suami dianggap pemilik istri.
Taufik adalah produk langsung dari budaya ini. Ia melihat pacarnya sebagai properti semata, dan bukan mitra setara. Persis sebagaimana elite politik memandang wilayah tambang atau hutan lindung sebagai aset pribadi yang sah untuk dieksploitasi tanpa izin moral.
Baca Juga : Islah Bahrawi : Setiap Orang yang Melayangkan Protes dan Diprotes adalah Penyintas
Yang lebih menyedihkan adalah bagaimana masyarakat merespons kasus ini. Kita marah pada Taufik, tapi kita diam pada sistem yang melahirkan Taufik. Kita menuntut hukuman mati baginya, mata ganti mata, tapi kita memberikan standing ovation pada pejabat yang kebijakannya secara tidak langsung membunuh ribuan orang melalui polusi, kemiskinan, dan akses kesehatan yang buruk.
Ini adalah kemunafikan kolektif. Kita membersihkan gejala di permukaan sambil membiarkan penyakit di akar tetap tumbuh subur. Taufik menjadi kambing hitam agar kita tidak perlu menghadapi monster yang sebenarnya yaitu struktur ketidakadilan yang sistemik.
Maskulinitas Toksik
Kasus Taufik juga menyoroti krisis maskulinitas toksik yang diperparah oleh tekanan ekonomi. Dalam sistem kapitalisme kroni, laki-laki dari kelas menengah-bawah sering kali merasa kehilangan agensi mereka. Mereka tidak bisa melawan bos yang menindas, tidak bisa melawan oknum yang memeras dan korup, dan tidak bisa melawan politisi yang munafik. Frustrasi ini kemudian dialihkan ke target yang lebih lemah dan lebih dekat yaitu pasangan intim.
Kekerasan menjadi cara terakhir untuk menegaskan kembali dominasi yang telah dirampas oleh sistem di luar sana. Taufik menyiksa karena ia sendiri sedang disiksa oleh ketidakberdayaan struktural.
Kita harus berani mengajukan pertanyaan yang tidak populer. Apakah Taufik benar-benar jahat, ataukah ia hanya sangat jujur dalam mengekspresikan nilai-nilai yang dianut oleh negaranya? Jika negara mempraktikkan kekerasan struktural setiap hari melalui penggusuran, kriminalisasi aktivis, dan perampasan hak-hak dasar, maka tindakan Taufik hanyalah versi rumahan atau miniatur dari kekerasan negara. Ia adalah mikrokosmos dari makrokosmos yang sakit.
Menghukumnya tanpa mereformasi sistem yang membentuknya adalah seperti memotong rumput liar tanpa mencabut akarnya. Taufik-Taufik lain akan lahir dan tumbuh lagi, mungkin dengan nama yang berbeda.
Solusi atas kasus ini tidak terletak pada penjara yang lebih ketat, melainkan pada restorasi keadilan sosial. Selama Sumber Daya Alam masih dikeruk untuk memperkaya oligarki, selama rakyat masih diperlakukan sebagai sumber daya eksploatif bukan sebagai warga negara yang bermartabat, akan selalu ada Taufik-Taufik baru. Mereka akan muncul dari rahim kemarahan, dibesarkan oleh ketidakadilan, dan dididik oleh impunitas.
Setiap kali kita membiarkan koruptor tersenyum di televisi, kita sedang mengirimkan pesan kepada jutaan Taufik potensial bahwa menyakiti orang lain untuk keuntungan pribadi adalah hal yang wajar.
Baca Juga : Ir Sutami, Bapak Infrastruktur Tanpa Korupsi
Oleh karena itu, melihat Taufik Hidayat sekadar sebagai kriminal biasa adalah kesalahan analitis yang fatal. Ia adalah korban pertama dari sistem yang korup, sebelum ia menjadi pelaku bagi korbannya.
Ia adalah bukti hidup bahwa ketika negara gagal melindungi martabat rakyatnya, rakyat akan saling memangsa. Kebiadaban yang ia lakukan adalah teriakan putus asa dari sebuah masyarakat yang telah kehilangan kompas moralnya karena dipimpin oleh orang-orang yang tidak memiliki nurani.
Mari kita berhenti sejenak dari hujatan buta. Mari kita lihat Taufik bukan sebagai monster asing, melainkan sebagai bayangan kita sendiri.
Jika kita ingin menghentikan kekerasan seperti ini, kita tidak hanya perlu menghukum pelakunya secara adil, tetapi juga harus membongkar panggung tempat drama kekerasan ini dipertontonkan setiap hari oleh para elite. Sampai saat itu terjadi, Taufik Hidayat akan terus ada, bersembunyi di balik nama-nama lain, menunggu giliran untuk meniru tuan-tuannya yang sebenarnya.(*)











