Berita Nasional

Buka Kongres X, Izedrik Emir Moeis Serukan Kebangkitan Ideologi Marhaenisme

×

Buka Kongres X, Izedrik Emir Moeis Serukan Kebangkitan Ideologi Marhaenisme

Sebarkan artikel ini

JAKARTA TETASDEPOK.COM– Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenis periode 2022–2026, Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya penguatan ideologi Marhaenisme, konsolidasi organisasi, pendidikan generasi muda, dan pengembangan kebudayaan dalam sambutannya pada pembukaan Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.(28/10/2026)

Izedrik menyampaikan bahwa Gerakan Pemuda Marhaenis memiliki perjalanan sejarah panjang sejak 1947. Meskipun sempat mengalami dinamika dan masa sulit selama puluhan tahun, organisasi tersebut kini kembali berupaya memperkuat konsolidasi dan menghidupkan gerakan ideologis di kalangan generasi muda.

Ia juga menceritakan pengalamannya bergabung dengan organisasi ketika masih berusia sekitar 18 hingga 20 tahun. Perjalanan panjang tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberadaan organisasi sekaligus menjaga kesinambungan perjuangan ideologis Marhaenisme.

Izedrik turut mengenang proses membangun kembali Gerakan Pemuda Marhaenis bersama sejumlah rekan pada 1996. Upaya tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali organisasi setelah melewati masa ketika aktivitas dan konsolidasi kepengurusan tidak berjalan optimal.

Konsolidasi Organisasi Menjadi Prioritas

Izedrik menjelaskan, konsolidasi menjadi salah satu tantangan penting dalam membangun kembali Gerakan Pemuda Marhaenis. Keberadaan kepengurusan di sejumlah daerah perlu diperkuat agar organisasi dapat menjalankan program secara berkesinambungan.

Ia mengapresiasi upaya pengurus pusat menghimpun perwakilan daerah dalam rangka memperkuat struktur organisasi, termasuk melalui pembentukan dan pengaktifan kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) serta Dewan Pimpinan Cabang (DPC).

Menurutnya, konsolidasi bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif menjelang kongres, melainkan membangun fondasi agar organisasi dapat menjalankan peran ideologis dan sosialnya secara lebih luas.

Ia berharap Kongres X menjadi momentum untuk memperkuat persatuan internal, memperluas jangkauan organisasi, dan menyusun langkah strategis bagi perkembangan Gerakan Pemuda Marhaenis ke depan.

Pendidikan Marhaenisme bagi Generasi Muda

Selain konsolidasi, Izedrik menyoroti pentingnya pendidikan ideologi Marhaenisme. Ia menilai pemahaman generasi muda terhadap pemikiran dan nilai-nilai Marhaenisme perlu dibangun kembali melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, ia menyebut buku karyanya yang berjudul Marhaenisme dan Visi Sosialisme Indonesia. Buku itu menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan pemikiran Marhaenisme dan gagasan sosialisme Indonesia kepada masyarakat.

Namun, menurutnya, pendidikan ideologi tidak cukup hanya dilakukan melalui buku atau diskusi akademis. Diperlukan metode kreatif agar gagasan tersebut lebih mudah dipahami generasi muda, termasuk melalui media visual, komik, dan pendekatan kebudayaan.

Izedrik menekankan bahwa nilai dasar Marhaenisme dapat diperkenalkan melalui pesan sederhana, antara lain menolak kesewenang-wenangan, memperjuangkan pengentasan kemiskinan, serta melawan korupsi.

Pendekatan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami lebih dalam pemikiran Marhaenisme, termasuk konsep keadilan sosial dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Pengembangan Kebudayaan dan Kajian Ideologi

Izedrik juga menegaskan pentingnya pendidikan dan pengembangan kebudayaan sebagai program organisasi. Ia menyebut berbagai kegiatan telah diupayakan dalam dua tahun terakhir, meskipun pelaksanaannya masih menghadapi keterbatasan pendanaan dan mengandalkan semangat gotong royong.

Ia berpandangan bahwa dinamika pemikiran politik dan ekonomi dunia terus berubah. Karena itu, kajian mengenai sosialisme, liberalisme, demokrasi, dan berbagai aliran pemikiran politik perlu terus dikembangkan untuk memahami tantangan zaman.

Menurutnya, pemikiran para tokoh seperti Adam Smith, Thomas Jefferson, Karl Marx, Friedrich Engels, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel dapat mMasenjadi bahan kajian untuk memahami perkembangan teori ekonomi, politik, serta dinamika masyarakat.

Ia mendorong kalangan intelektual dan pengkaji ideologi di lingkungan organisasi untuk terus memperdalam kajian tersebut tanpa meninggalkan prinsip dasar perjuangan Marhaenisme.

Mengingatkan Pentingnya Sejarah Bangsa

Dalam sambutannya, Izedrik turut menyinggung perubahan geopolitik dunia dan dampaknya terhadap perekonomian, termasuk potensi kenaikan harga bahan bakar minyak serta tekanan terhadap nilai tukar mata uang.

Ia mengingatkan bahwa perubahan situasi internasional dapat menimbulkan konsekuensi luas bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, pemahaman terhadap perkembangan global perlu berjalan beriringan dengan kesadaran sejarah dan kepentingan nasional.

Izedrik juga mengajak generasi muda untuk mempelajari sejarah Indonesia secara kritis, termasuk berbagai peristiwa politik yang meninggalkan dampak kemanusiaan mendalam.

Ia menyinggung peristiwa 1965 dan pentingnya mengkaji latar belakang, aktor, serta dampak peristiwa tersebut. Menurutnya, sejarah tidak seharusnya dilupakan, tetapi perlu dipelajari secara terbuka agar generasi berikutnya memperoleh pemahaman yang lebih utuh.

Ia turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pengakuan terhadap penderitaan korban dalam sejarah bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks kemanusiaan dan perlunya bangsa Indonesia menghadapi masa lalunya secara jujur.

Berharap Gerakan Pemuda Marhaenis Semakin Berkembang

Menutup sambutannya, Izedrik menyampaikan apresiasi kepada para tokoh, pengurus, dan seluruh pihak yang telah mendukung proses konsolidasi organisasi.

Ia berharap Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat organisasi, memperluas pendidikan ideologi, serta mengembangkan kegiatan kebudayaan secara berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari terbentuknya kepengurusan, tetapi juga dari kemampuan menjalankan program yang bermanfaat bagi masyarakat dan menanamkan nilai-nilai Marhaenisme kepada generasi muda.

Melalui kongres tersebut, Gerakan Pemuda Marhaenis diharapkan semakin mampu memperkuat perannya dalam memperjuangkan keadilan sosial, menolak kesewenang-wenangan, mengentaskan kemiskinan, dan membangun kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda.***(S.Ragil)

Tinggalkan Balasan