Cerpen

Harga Sebuah Jasa

×

Harga Sebuah Jasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi masa kuliah mahasiswa

Cerpen : Dahono Prasetyo

Demi menuruti keinginan bapak, kuputuskan untuk berangkat. Ke sebuah kota bernama Jakarta yang sarat dengan hal hal tak terduga bagi kami warga desa yang juga sarat dengan prasangka baik dan juga buruk.

“Bapak sudah pegang 3 alamat lengkap rumahnya. Ini langsung dari pemiliknya. Pak Haryono, Pak Budiman dan Pak Bambang” kata bapak yakin sambil mengacungkan buku agenda kecil.

Aku menjawab dengan anggukan sambil memasukkan HP di saku seusai SMS Ratih sekedar berpamitan beberapa ke luar kota hari. Dia aku anggap wanita setia ke-dua setelah almarhum ibuku. Sejak masuk SMA kami berpacaran hingga kami lulus tahun kemarin. Ratih kemudian mengajar di Pesantren milik Kepala Desa kami, sedangkan aku sibuk membantu kios pupuk dan pertanian milik bapak yang telah menghidupi kami sekeluarga.

Sore itu kereta ekonomi bergerak perlahan meninggalkan stasiun membawa kami ke Jakarta.

“Bapak memang belum cerita sepenuhnya sama kamu tentang mereka yang akan kita temui di Jakarta nanti” kalimat bapak memecah kesunyian dialog kami di tengah suara kereta dan bunyi besi beradu.

“Katanya mereka itu teman-teman kuliah bapak dulu?” sambungku.

“Iya, cuma bedanya mereka selesai kuliahnya sedangkan bapak cuma mentok sampai semester 2. Bapak keburu menikah dengan ibumu almarhum, kakekmu dulu juga tidak setuju bapak kuliah karena biayanya yang besar. Ya sudahlah, akhirnya bapak keluar dan kerja di pabrik tebu”

“Waktu itu bapak kerja dulu atau nikah dulu sama ibu?” tanyaku memancing kenangan masa lalunya.

“Ya tetep kerja dulu, 3 bulan setelah itu baru melamar ibumu” jawab bapak tanpa berpikir panjang, pertanda begitulah kenangan sesungguhnya.

“Kita dulu satu almamater meski beda jurusan. Pak Haryono di Fakultas Sospol, Pak Bambang di Ekonomi dan Pak Budiman di Pertanian sama seperti bapak.” lanjut bapak sambil mengeluarkan sebuah map dari tas koper kesayangannya.

Aku lihat di dalam map ada kartu ujian SIPENMARU lengkap dengan fotonya. Warnanya sudah pudar namun foto dan tulisan masih terbaca, sepertinya bapak tahu cara menyimpan kertas dengan rapi dan tahan lama. Kartu ujian itu tersimpan rapi di dalam plastik mika dan diantara plastik dipisahkan selembar kertas putih.

“Itu kartu ujian siapa,Pak?” tanyaku penasaran.

Baca Juga : Apakah Bohong Itu Dosa?

“Kartu ujian SIPENMARU 3 teman bapak itu. Inilah awal sejarah karir mereka”

”Awal sejarah karir bagaimana maksudnya?” tanyaku tambah penasaran.

“Ini rahasia kita ber-4. Dulu waktu Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, bapak yang jadi Jokinya” jelas bapak sambil senyum menyimpan arti.

“Joki ujian maksudnya” tebakku.

“Iya. Bapak yang masuk mengerjakan soal soal ujiannya. Jaman bapak dulu, materi ujiannya terbilang susah untuk ukuran kita lulusan SMA. Pak Budiman dan Pak Haryono ujian mengerjakan sendiri nggak lulus, setelah bapak yang ngerjakan tahun berikutnya langsung lulus dan kuliah di jurusan yang dipilihnya. Lha kalo Pak Bambang 3 kali ujian yang tahun ke 3 nya bapak jokinya akhirnya lolos. Mereka sekarang sudah jadi orang penting di Jakarta. Pak Haryono jadi anggora DPR, Pak Bambang baru saja di angkat jadi Staff Ahli Menteri dan Pak Budiman jadi Pejabat di Departemen Pertanian Pusat” jelas bapak dengan antusias.

Kalimatnya menggebu penuh penekanan. Aku akhirnya faham arti senyum beliau ketika menyebut ke 3 nama sahabatnya itu.

“Artinya bapak merasa punya andil besar dalam karir kesuksesan mereka, gitu” ucapku ringan.

Baca Juga : Jakarta dalam Dua Tata Surya

“Lha ya pasti to?? Kalau mereka nggak kuliah di Universitas Negeri terbaik itu mana bisa jadi orang penting di negeri ini? Awalnya kan dari seleksi ujian masuknya”

“Oo..begitu to? Trus waktu itu bapak dibayar berapa untuk jadi Joki?” tanyaku tanpa basa basi.

“Yah tidak usah bapak sebutkan jumlahnya, tapi jaman segitu sekali ujian lolos bapak bisa beli motor baru” jawab bapak berusaha menyederhanakan kronologisnya.

Kereta masih riuh menembus malam. Lelaki teguh di sebelahku sudah terlelap di bukan posisi tidur. Duduk dengan kepala menyandar di kaca kereta yang dilapisi lipatan handuk penahan benturan goyangan kereta kami. Aku sendiri sengaja tidak berusaha tidur. Fikiranku dari tadi membayangkan sesuatu yang terjadi 20 tahun yang lalu.

Dari cerita bapak tentang masa masa itu, beberapa fenomena anak muda tahun 90-an hingga kisah percintaan mahasiswa yang tak kutemui di sinetron jaman sekarang. Bapakku waktu muda terbilang cerdas untuk ukuran teori pelajaran. Pergaulannya juga luas.

Beberapa sahabat seusianya yang tinggal di luar kota sering singgah di rumah kami, ngobrol seharian di pinggir sawah, setelah itu pulang dengan beberapa pelukan akrab mereka yang sempat kusaksikan.

Dan pagipun terasa lain setibanya kami di kota Jakarta.

Baca Juga : Membedah Hukum di Ketiak Kekuasaan

“Kita ke alamat rumah Pak Bambang saja dulu. Katanya sih gak jauh dari stasiun Pasar Senen ini” kata bapak seusai kami sarapan di warteg ujung stasiun.

“Kalau sesuai alamat, daerah Cikini memang sekali naik Bis dari terminal depan itu pak”

“Kita naik Taxi aja, gak enak berkunjung ke rumah pejabat naik bis yang belum tentu langsung sampai depan rumah beliau” sergah bapak sesampai kami di pinggir jalan. Aku hanya mengangguk.

Di depan pintu gerbang rumah mewah taxi yang kami tumpangi berhenti. Alamat sesuai dengan jelas. Seorang satpam penjaga gerbang tinggi itu menyambut kami dengan gaya selidik.

“Selamat pagi. Bapak mau bertemu siapa”

“Saya Pramono dan ini anak saya Tulus, mau bertemu Pak Bambang. Sampaikan saja saya sahabat kuliahnya dari Jogja” jawab bapak sopan sedikit berwibawa.

“Bapak sudah ada janji sebelumnya?” tanya Satpam itu tegas.

“Belum sih, makanya saya sengaja datang pagi pagi sebelum beliau berangkat ke kantor”

“Iya, tapi Pak Bambang kalau jam segini masih bersama keluarganya, biasanya tidak bersedia diganggu sebelum ada janji” kilah Satpam itu lagi.

“Tolong kamu telpon Pak Bambang sekarang, bilang saja saya Pramono sahabatnya mau silaturrahmi” sergah bapak gak kalah berkilah. Satpam itu akhirnya mengalah.

Dia menghubungi tuannya lewat telepon di ruang jaga. Beberfapa saat Satpam muda itu terlihat berbicara.

“Silahkan pak, ini Pak Bambang dari dalam rumah mau bicara sama bapak” kata Satpam sambil menyodorkan gagang telepon.

“Assalamu’alaikum, mBang ini aku Pramono dari Jogja. Aku sudah di depan rumahmu” kata bapak berbicara di telepon.

Beberapa saat bapak berbicara dengan nada gembira. Basa basi sahabat lama muncul dari dialog berbatas kabel telepon itu. Tak lama kemudian telepon diserahkan ke Satpam yang menunggu pembicaraan bapak.

Satpam itu berbicara seolah sedang mendengarkan perintah dari tuannya. Pintu gerbang dibuka, kamipun masuk dan dipersilahkan menunggu di sebuah saung bambu samping kolam ikan. Rumah mewah itu dikelilingi kolam ikan aneka jenis dengan air jernih terlihat asri siapapun yang memandangnya.

“Bapak tunggu di sini dulu, nanti Pak Bambang akan menghubungi lagi” kata Satpam itu mulai ramah.

Baca Juga : Mengapa Pejabat Korupsi Walau Sudah Kaya? Ini Penyebabnya

“Iya, tadi katanya ggak lama dia akan turun sekalian berangkat kantor” jawab Bapak.

Aku tak memperdulikan dialog mereka selanjutnya, asik menikmati ketakjubanku pada bentuk rumah bertingkat di depanku sekarang.

Setengah jam berlalu kami duduk masih dengan posisi santun di lantai kayu saung ini, ketika datang seorang wanita setengah baya yang aku tebak dari dandanannya adalah pembantu rumah tangga. Dia membawa nampan berisi beberapa makanan, roti dan 2 cangkir teh untuk kami.

“Silahkan dinikmati seadanya ya. Pak Bambang pesan bapak berdua menunggu disini dulu” kata wanita itu sopan.

“Iya bu, kita juga gak berani menunggu di dalam tanpa ijin. Di sini juga nyaman sambil lihat ikan” jawabku sedikit terkantuk kantuk efek tidak tidur semalam.

Dan 1 jam berlalu lagi. Posisi kami di saung itu sudah mulai kurang santun. Bapak sudah menyelonjorkan kaki dengan punggung bersandar di tiang saung. Aku sendiri sudah setengah terlentang dengan satu tangan yang masih menyangga kepalaku. Kami mulai jenuh menunggu dan masing masing punya pertanyaan yang sama. Mengapa lama sekali kalo sekedar turun keluar dari rumah ke saung kami. Hampir 2 jam kami disini.

“Gimana ini pak? Jangan jangan Pak Bambangnya sudah berangkat ke kantor?” tanyaku mengingatkan.

“Berangkat kantor gimana? Mobilnya aja masih parkir disitu. Kita dari tadi disini gak melihat ada orang keluar to?” jawab bapak logis. Kepalanya mulai terangguk angguk menyusul rasa kantukku yang sudah duluan. Akupun ikut terangguk untuk kekonyolan pertanyaanku tadi.

Tak lama berselang wanita pembantu itu datang menghampiri kami lagi.

“Pak maaf, ada pesan dari Pak Bambang, bapak berdua bisa datang lagi besok pagi. Tadi bapak buru buru berangkat ke kantor, ada rapat mendadak”

“Sudah berangkat kantor, dari tadi saya nunggu disini kok saya nggak lihat berangkatnya?” tanya bapak heran.

“Iya tadi Pak Bambang keluar lewat pintu utara. Yang disini pintu selatan” jelas pembantu itu sambil menyerahkan selembar amplop putih.

“Ini titipan dari Pak Bambang untuk bapak. Selamat pagi pak, saya masuk ke dalam dulu, nanti kalo perlu apa apa langsung ke satpam saja.” lanjut pembantu sambil berbalik masuk ke rumah tanpa menikmati keheranan kami yang sedang terjadi bersamaan.

“Pak, sepertinya kawan bapak lagi sibuk, maklum pejabat” kataku.

“Wah terlalu, kenapa nggak bilang dari tadi kalau nggak bisa nemuin? Ini lagi amplop apaan?” kata bapak terlihat sedikit kecewa. Kemudian dibukanya amplop putih itu. Aku lihat ada beberapa lembar uang seratus ribu dan sepucuk surat. Bapak membacanya sebentar.

“Ini penghinaan, dia pikir aku kesini mau minta sedekah? Ayo le, kita keluar aja. Ini duit kasih ke Satpam, bilang suruh kembalikan ke majikannya” kata bapak sambil berjalan keluar.

Pos satpam dilaluinya tanpa menengok, tinggal aku yang masih sibuk menjalankan perintah bapak tentang amplop isi uang tadi. Pagi ini kami awali dengan sedikit rasa kecewa.

“Kita sekarang ke alamat kantornya Pak Budiman saja. Jalan Gatot Subroto kav 45 Lantai 4” bapak berkata sambil memberhentikan taxi yang kebetulan melintas di ke arah kami.

Sebuah gedung bertingkat dengan pengamanan super ketat kami masuki. Kami digeledah habis habisan. Tas ranselku di keluarkan isinya, entah apa yang dicari petugas keamanan gedung ini. Tas bapakpun tak luput digeledah. Kami faham dengan peraturan yang baru saja mereka jelaskan, hanya yang membuat kesal adalah mengatur ulang susunan isi ranseku seusai diperiksa.

1 jam terlewati bersama petugas keamanan gedung hingga sampailah kami di di lantai 4 gedung pemerintahan ini. Seorang pegawai wanita muda menyambut kami dengan ramah. Wajah bapak terlihat ikut ramah pertanda ada yang sedikit melegakan hatinya.

“”Bapak Pramono ya? Silahkan menunggu sebentar , Pak Budiman sedang ada meeting staff” kata pegawai yang kutebak dari penampilan layaknya sekretars pribadi. Dia mengantar kami ke salah satu sudut ruangan dimana terdapat kursi sofa lumayan mewah untuk ukuran kami.

“Kalo Pak Budiman ini orangnya tidak sombong, dia pernah datang ke rumah kita seusai Lebaran tahun kemarin. Nanti kamu bisa menilainya sendiri” kata bapak sedikit menyembunyikan kebanggaannya padaku.

Kira kira lewat sepeminuman teh kami menunggu saat seorang lelaki gemuk berpakaian dinas menghampiri kami.

“Pram.. Pramono… apa kabar? Sampai juga akhirnya kamu kesini” sapa pria itu yang kutebak adalah Pak Budiman. Posisi duduk bapak yang membelakangi kedatangannya sempat membuat terkejut atas sapaan itu.

“Eh, Bud.. Alhamdulillah kita bisa bertemu lagi” jawab Bapak sambil berdiri. Merekapun berpelukan hangat layaknya sahabat karib. Aku hanya senyum turut merasa nyaman dengan suasana ini.

“SMSmu sudah aku terima kemarin. Ini anak sulungmu itu? Aku pasti bantu, nanti surat lamarannya kasih ke sekretarisku tadi biar diproses dan segera dapat rekomendasi ke daerah” jelas Pak Budiman.

Aku ingat niat bapak mengajakku ke Jakarta salah satunya adalah meminta rekomendasi untuk bisa bekerja di Departemen yang dibawahi Pak Budiman. Surat sakti dari pusat menurut Bapak menjadi salah satu solusi ampuh menembus persaingan lowongan pekerjaan sebagai Pegawai Pemerintahan di kota kami. Aku sendiri berharap demikian.

“Ya semoga saja ada sedikit perbaikan status sosial di keluargaku,Bud. Aku cuma ngurus sawah dan pupuk, tidak bias berbuat banyak selain berdagang. Kalau anakku nanti masuk ke lingkungan birokrasi yang lebih jelas, siapa tahu bisa berbuat banyak untuk kemajuan desa kami” kata Bapak menambahkan alasan logikanya.

“Iya itulah yang juga aku harapkan,Pram. Tidak semuanya harus ke Jakarta. Di daerahpun bisa lebih fokus berbuat sesuatu. Dan masalah bantuan mesin pertanian yang pernah kita bicarakan dulu, aku sudah tanda tangani SOPnya. Untuk kotamu aku serahkan distribusinya di Koperasi yang kamu kelola. Pokoknya aku percaya sepenuhnya pada kemampuan kalian mengelola bantuan yang aku rencanakan”

“Sungguh kemuliaan bagimu dan berkah bagi kami. Kita yang seusia sekarang sekedar menanam kebaikan, biarkan kaum muda dan anak anak kita yang merawat,menjaga sekaligus menikmati hasilnya” lanjut Bapak dengan kalimat bijaknya. Aku bisa merasakan kedalaman kata katanya.

“Oke, Pram. Sebelumnya minta maaf , aku masih ada beberapa meeting dengan staff. Istirahatlah dulu, kalian semalam pasti kurang tidur. Aku sudah pesan 1 kamar di hotel sebelah untuk kalian. Nanti aku suruh sekretarisku antar kesana” kalimat penutup Pak Budiman mamaksaku membayangkan suasana istirahat yang sesungguhnya. Dialog perpisahan dua sahabat tak sempat kusimak dalam lagi.

“Kita sholat Dhuhur dulu, setelah itu bapak mau tidur sebentar. Nanti jam 4 bangunin Bapak. Kita siap siap ke rumah Pak Haryono” pesan Bapak sesampainya kami di kamar hotel yang kutebak pasti berbintang 4.

“Inggih pak” jawabku sambil meneruskan ketikan sms untuk Ratih, mengabarkan keadaan kami yang sebaik ini.

“Tih..kami lagi istirahat di hotel mewah dan gratis lagi. Cuma aku takut bangun sore karena keenakan tidur. Nanti jam setengah 4 kamu miscall bangunin aku ya?” smsku sedikit merajuk.

Di tempat tidur, kudengar bapak sudah mendengkur kelelahan masih dengan sarung dan baju koko seusai Sholat tadi. Siang ini kami terlelap dengan nyaman.

“Alamatnya jalan Sriwijaya Nomer 40 pak” kataku pada sopir yang mengantar kami ke rumah Pak Haryono. Sebuah mobil sedan disediakan Pak Budiman untuk jalan jalan atau keperluan silaturrahmi kemanapun tujuan kami.

Sungguh kami serasa menjadi tamu istimewa di kota Jakarta yang orang bilang penuh dengan kesombongan para penghuninya. Selembar kebanggaan kusimpan pada sosok Bapak yang masih dihargai oleh para sahabatnya. Mereka orang orang yang pernah berhutang jasa, meski itu hanya pada seorang Joki ujian SIPENMARU.

Mobil kami berhenti di sebuah rumah mewah perpagar tinggi. Jalan dan nomer rumah tepat sesuai dengan catatan alamat. Masih sekitar jam 7 malam saat namun rumah gedongan berlantai 2 itu terlihat remang remang. Hanya beberapa sudut rumah yang diterangi lampu. Aku merasa ada sesuatu yang lain.

“Alamatnya sih benar pak, tapi sepertinya tidak ada penghuninya. Bapak tadi sempat telpon atau sms dulu nggak?” tanyaku pada bapak yang juga terlihat heran.

“Sudah bapak hubungi, tapi nomernya tidak aktif. Coba kamu tanya dulu sama orang di warung” kata Bapak. Sebuah warung rokok tepat di seberang rumah kudatangi. Beberapa orang yang sedang berada di warung itu sempat kulihat memperhatikan kedatangan kami dari tadi.

“Assalamu’alaikum,pak. Numpang tanya, rumah Pak Haryono benar yang itu ya?”

“Mas dari mana?” tanya lelaki penjaga warung. Pertanyaanku ternyata dijawab dengan pertanyaan juga.

“Saya dari Jogja, kerabatnya Pak Haryono”

“Ya betul itu rumah Haryono, tapi sudah kosong hamper sebulan. Mas nggak baca tulisan yang di temple di pintu gerbang?” jawab seorang lelaki lain disebelahnya.

“Oh iya saya nggak perhatikan pak, ya sudah terima kasih pak. Assalamu’alaikum” lanjutku sambil bergegas menemui Bapak yang terlihat melambaikan tangan dari depan pintu gerbang.

Bapak terlihat berdiri mematung memandangi sebuah kertas putih lebar yang ditempel tepat ditengah pintu gerbang besi.

“Kita balik ke Hotel saja, besok kita pulang ke Jogja. Tujuan kita ke Jakarta sudah selesai” ucap Bapak lirih sambil berjalan menuju pintu mobil.

Aku belum sempat menjawab, masih menyelesaikan membaca tulisan, mengulanginya demi meyakinkan apa yang aku lihat : “BANGUNAN INI DISITA OLEH NEGARA – Tertanda : Komisi Pemberantasan Korupsi”

Kalimat di tulisan itu benar benar mengisi ruang di kepalaku. Dalam perjalanan ke hotel aku dan bapak tak berbicara suntuk dengan pertanyaan di kepala kami masing masing. Di Televisi dan Koran sering aku lihat berita korupsi yang marak. Laporan penyitaan barang bukti rumah,tanah, mobil, rekening dan harta kekayaan tersangka korupsi tidak kurang hebohnya dengan kasus korupsi yang terjadi. Aku merasakan ada kekecewaan dari raut wajah bapak yang tak bisa diungkapkan .

“Sahabat bapak ada yang jadi tersangka korupsi juga” ucapku dalam hati. Malam ini kami kembali gundah.

3 bulan berlalu. Aku masih menunggu Bapak di samping tempat tidurnya, menyuapkan beberapa sendok bubur. Sudah sebulan bapak jatuh sakit. Stroke ringan dan radang lambung menghilangkan semangat hidupnya.

Sepulang kami dari Jakarta ada emosional bapak yang berubah tidak seperti biasanya. Sering melamun dan telat makan. Beberapa dialog nasehatku tak berani kulanjutkan, karena ternyata justru menambah kekecewaan beliau. Aku sendiri sudah melupakan berkas lamaran pekerjaan yang kutitipkan pada sekretaris Pak Budiman dulu. Sampai hari ini tak ada balasan. Dan rencana distribusi bantuan alat pertanian juga sudah dilupakan warga desa kami dengan sedikit memaklumi ketidak jelasan informasi yang terlanjur bapak sebar luaskan.

Kami dan juga aku sudah selayaknya menyimpan rapat beberapa cita cita yang harus bergantung kepada orang lain. Menyederhanakan cita cita kadang jauh lebih berarti daripada mengejarnya tak faham arah mana pasti.

Cepat sembuh,Pak. Itu cukup untuk membahagiakan kita. ***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan