Suara Publik

Jakarta dalam Dua Tata Surya

×

Jakarta dalam Dua Tata Surya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi fenomena kehidupan artis dan masyarakat urban di kota Jakarta (Grafis : terasdepok.com)

Jakarta selalu mengajarkan bahwa satu kota bisa memiliki banyak kenyataan. Sejak pagi hari, gerbong KRL sudah sesak. Di siang hari, kadang saya terjejal di tengahnya. Di jalan raya, bus TransJakarta dipenuhi wajah-wajah yang masih mengantuk. Mereka berdesakan, menghitung waktu agar tidak terlambat masuk kantor.

Ekspresi wajah wajah itu beragam tafsirnya. Barangkali mereka sedang menghitung cicilan rumah, uang sekolah anak, harga beras. Memikirkan anak yang sakit atau sulung yang harus pindah sekolah. Sebagian lain kini menjadi rutinitas baru: jangan-jangan bulan depan giliran saya yang terkena PHK. Kena efisiensi. Kontrak kerja tak diperpanjang.

Di saat yang sama, layar telepon genggam mereka menyajikan berita lain. Seorang mantan suami – dikenal sebagai selebritas kondang – dipersoalkan karena nafkah anak sebesar Rp200 juta sebulan.

Saya membaca angka itu berkali-kali, bukan karena tertarik pada perceraian mereka. Rumah tangga orang lain bukan urusan saya. Yang membuat saya terpaku justru angka itu. Dua ratus juta rupiah. Sebulan.

Mendadak saya merasa Jakarta tidak lagi berada dalam satu tata surya. Melainkan dua tata surya. Mungkin lebih juga.

Baca Juga : Apakah Bohong Itu Dosa?

Di tata surya pertama, orang-orang berjuang agar gajinya naik beberapa ratus ribu rupiah – mereka bersama saya berjejalan di KRL. Mereka bersyukur jika masih memiliki pekerjaan. Mereka rela berdiri satu jam di KRL, naik turun ojek, atau jalan bergegas, demi membawa pulang penghasilan yang mencukupi untuk bertahan hidup.

Di tata surya kedua, Rp200 juta menjadi angka yang diperdebatkan sebagai kewajaran. Membayar sopir, pembantu, suster, rumah besar dengan tagiuhan listrik puluhan juta. Keharusan makan di luar, nge-gym, healing dan berwisata.

Padahal, pada jam yang sama, jutaan orang sedang menghitung apakah gaji bulan ini cukup sampai tanggal tua. Mereka tidak sedang memilih sekolah internasional atau klub berkuda – main padel yang lagi ngetren. Mereka sedang memilih: membayar cicilan lebih dulu, atau membeli susu anak.

Ironisnya, kedua berita itu dibaca di layar telepon yang sama.

Baca Juga : Membedah Hukum di Ketiak Kekuasaan

Kompleksitas

Naluri pensiunan saya menerawang . Jika seorang ayah harus mentransfer Rp200 juta setiap bulan, berarti ia mengeluarkan Rp2,4 miliar setahun. Itu baru untuk nafkah anak. Padahal dia masih harus membiayai hidupnya sendiri, membayar pajak, menjaga usahanya tetap berjalan, dan mungkin suatu hari membangun keluarga baru.

Memahami kehidupan artis yang mudah pasang surut pertanyaan kita sederhana. Apakah Pak suami bisa menafkahi Rp.200 juta selamanya, begitu juga Bu Isteri yang merawat anak anak dari perkawinan mereka. Apakah yakin dapat Rp.200 juta seterusnya?

Dunia hiburan mengenal satu hukum yang lebih kejam daripada perceraian yaitu popularitas bisa turun, tanpa pemberitahuan. Boleh jadi 10 tahun terakhir ada di puncak, lima tahun ke depan bisa hilang kontrak dan popularitas amblas. Bagaimana selanjutnya menyediakan Rp200 juta sebulan?

Baca Juga : Siapa Slamet Gundul, Bromocorah yang Menginspirasi Lagu ‘Sugali’ Iwan Fals

Sebagai wartawan pensiunan – dari media cetak, koran harian ibukota, pensiun Maret 2020 lalu – saya hanya bisa tersenyum getir. Perjalanan puluhan tahun meliput kejadian dan peristiwa, saya sering menulis angka ratusan miliar dalam kasus kasus penyimpangan dan korupsi.

Memang ada angka triliunan dalam APBN. Tetapi saya belum pernah melihat saldo Rp200 juta mampir di rekening saya sendiri.

Memang begitulah nasib wartawan: akrab dengan angka-angka besar, tetapi hanya sebagai penonton. Benar, saya kerap dapat penugasan ke luar negeri, terbang ke benua lain – tapi tiket pesawat dan hotel sudah dibooking sekretaris redaksi atau pihak pengundang. Yang diterima di tangan atau transferan di kartu ATM hanya uang makan, uang transport lokal dan uang saku . Hanya beberapa juta rupiah saja.

Fenomena Urban

Inilah wajah Jakarta di hari hari ini. Bukan sekadar kota dengan jurang kaya dan miskin, melainkan kota yang hidup dalam dua tata surya. Yang satu berputar mengelilingi kebutuhan dasar: tagihan, cicilan, bayar bon. Yang lain mengelilingi kemewahan – dari restoran, cafe, mall, liburan ke negeri manca – yang perlahan dianggap biasa.

Saya tidak iri kepada mereka yang mampu mengirim Rp200 juta setiap bulan – juga yang merasa berhal menerimanya. Itu di luar logika saya. Tetapi saya berharap kita tidak kehilangan kemampuan untuk merasa takjub pada sebuah angka.

Sebab ketika Rp200 juta akan terdengar biasa, pada saat yang sama jutaan orang masih bertahan hidup dengan pendapatan yang habis sebelum akhir bulan. Seperti saya.

Penulis : Dimas Supriyanto

Respon (1)

Tinggalkan Balasan