Suara Publik

Injak Kepala Kerbau, Keangkuhan Jokowi dan Legenda Malin Kundang

×

Injak Kepala Kerbau, Keangkuhan Jokowi dan Legenda Malin Kundang

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi Jokowi, Megawati dan ritual injak kepala kerbau di Lampung (Dok. Grafis Terasdepok.com)

Hari ini dinamika politik bertemu simpul momentum simbolis. Upacara pemberian gelar kebangsawanan dari masyarakat adat di Lampung kepada Jokowi, diwarnai dengan prosesi menginjak kepala kerbau.

Salah satu ritual adat Kedaton Keagungan Lampung, memang ada ritual menginjak kepala kerbau. Dalam prosesi adat lampung Pepadun, injak kepala kerbau masuk rangkaian pengesahan, pengakuan status, atau penutup prosesi gelar adat.

Namun persoalannya menjadi politis, ketika prosesi tersebut dilakukan oleh Presiden ke 7 dan juga mantan Petugas Partai PDI Perjuangan, Joko Widodo. Perseteruan politik Jokowi dengan PDI Perjuangan kembali memanas dampak ritual tersebut.

Efek penulisan pemberitaan selalu bersayap, menjadikan sesuatu yang tidak biasa mengalahkan adat dan kebiasan. Para penyelenggara ritual adat yang biasa menginjak kerbau, kini harus rela berbagi viral dengan teka-teki satire kepala kerbau di kaki Jokowi.

Baca Juga : Gelombang Baru Kaum Alit : NASMAR Jadi Rumah Pergerakan Gerbong Nasionalis Marhaenis

Gestur Politik

Dalam gestur Jokowi jelas menyiratkan pesan politis kepada PDI Perjuangan yang masih menempel dalam identitas politiknya. Bahwa lawan politik terberat Jokowi bukan Golkar, Gerindra atau partai-partai Islam. Tetapi PDI Perjuangan yang identik dengan Megawati.

Jokowi ingin merubah sejarah politik dengan menghilangkan PDI Perjuangan. Partai yang secara de facto dan de jure menjadi tunggangan politik hingga se-populis ini.

Perseteruan Politik tidak selalu berakhir dengan menang atau kalah. Tetapi merubah arah militan menjadi apatis di tubuh PDI Perjuangan sudah dirintis Jokowi dengan merobek kontrak politik dengan partai berlogo moncong putih.

Dendam keluarga Jokowi atas penyematan status ‘Petugas Partai’ sudah bergeser ke arah ‘Penghancur Partai’. Di titik inilah militansi kader PDI Perjuangan sedang diuji.

Jokowi sedang memetakan strata kelompok yang ada di tubuh PDI Perjuangan. Mana yang militan, siapa yang acuh dan seberapa banyak yang siap diajak bermain duak kaki.

Namun barangkali Jokowi lupa, bahwa kecerdasan agitasi politiknya akan berhadapan dengan hukum kausalitas dan karma politik.

Cerita legenda Malin Kundang di tanah Minang dihidupkan lagi di tanah Lampung. Jokowi yang durhaka kepada rahim partai tempat dia dilahirkan, pada suatu saat akan menanggung karma.

Sebagai seorang Ibu, Megawati tidak lantas mengutuk Jokowi menjadi batu. Namun dia akan hancur di puncak keangkuhannya sendiri.

Kapan itu terjadi? Yang pasti akumulasi kesombongan Jokowi akan mempercepat proses kehancurannya. Dan hari ini dia mengkoleksi satu lagi kesombongan dengan menempatkan kepala kerbau di atas kakinya.

Keangkuhan tidak selalu menang karena ia lebih kuat. Kadang-kadang ia menang karena mereka yang terdzolimi memilih berhenti melawan.

Penulis : Dahono Prasetyo – Litbang Demokrasi

Tinggalkan Balasan