Bandung — Terasdepok.com – Kekeringan dan kesulitan air bersih yang melanda ratusan desa dan kelurahan di Jawa Barat pada musim kemarau 2026 dinilai tidak semata-mata disebabkan faktor cuaca. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS), berkurangnya kawasan resapan, serta meningkatnya kebutuhan air masyarakat turut menjadi persoalan yang memperparah krisis air.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 21 September 2026, kekeringan dan kesulitan air bersih telah berdampak pada 688 desa/kelurahan di 247 kecamatan. Jumlah warga terdampak mencapai 1.018.922 jiwa dari 307.295 kepala keluarga.
Data tersebut juga menunjukkan pemerintah telah menyalurkan sekitar 27,63 juta liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak. Kabupaten Bekasi menjadi salah satu daerah dengan distribusi air terbesar.
Penyebab Kekeringan Menurut Pakar Hidrologi
Kondisi kekeringan tersebut mendapat perhatian dari Pakar Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo.
Hatma menilai persoalan kekeringan di Jawa Barat tidak bisa hanya dikaitkan dengan musim kemarau. Menurut dia, secara karakteristik iklim, Jawa Barat relatif lebih basah dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Karena itu, ketika wilayah yang memiliki curah hujan relatif tinggi tetap mengalami kekurangan air, perlu dilihat faktor lain, termasuk meningkatnya kebutuhan air dan kondisi DAS.
Baca Juga : Gubernur Jabar Larang Pemda Bangun Wisata di Kawasan Perkebunan
“Kalau sampai wilayah yang menerima atau memiliki input hujan yang lebih banyak saja kekurangan air, berarti ada dua kemungkinan besar. Satu, memang kebutuhannya semakin lama semakin tinggi. Sehingga ketika ketersediaan itu terbatas, muncul krisis air, atau memang ada kerusakan sistem DAS,” ujar Hatma, dikutip dari laman UGM.
Daerah Resapan Makin Berkurang
Menurut Hatma, kawasan hulu DAS semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung sekaligus daerah resapan air. Namun, pertumbuhan penduduk, pembangunan permukiman, dan aktivitas produksi dapat mengubah fungsi kawasan tersebut.
Ketika kawasan resapan berkurang, air hujan tidak tersimpan secara optimal di dalam tanah. Sebagian air justru menjadi aliran permukaan dan mengalir menuju sungai sehingga cadangan air yang dapat digunakan ketika musim kemarau ikut berkurang.
Persoalan berkurangnya daerah resapan juga disampaikan Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat.
Kepala DSDA Jawa Barat Dikky Achmad Sidik mengatakan alih fungsi lahan dapat memengaruhi kemampuan tanah menyerap air hujan. Pembangunan yang menutup permukaan tanah dengan beton, misalnya, mengubah pola resapan air.
“Terjadi perubahan tata bangunan lahan akan berpengaruh terhadap resapan,” ujar Dikky dalam keterangan DSDA Jawa Barat.
Dengan demikian, kekeringan yang terjadi saat musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya hujan, tetapi juga dengan kemampuan lingkungan dalam menyimpan air untuk menghadapi periode kering.
BMKG Sudah Ingatkan Risiko Kemarau 2026
Faktor cuaca tetap menjadi bagian penting dalam melihat kondisi kekeringan Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan pemerintah daerah mengenai potensi musim kemarau 2026 yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026. Puncak musim kemarau umumnya terjadi pada Agustus dan sebagian wilayah masih berlanjut hingga September.
BMKG juga memperkirakan curah hujan di sejumlah wilayah berada pada kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan di bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III September 2026, BMKG menempatkan sejumlah wilayah Jawa Barat dalam kategori awas, antara lain Kabupaten Bekasi, Cirebon, Indramayu, Karawang, Kota Bekasi, Kuningan, Majalengka, Subang, Sukabumi, Sumedang, dan Kota Cirebon. Kabupaten Pangandaran berada dalam kategori siaga.
Artinya, faktor meteorologis memang berkontribusi terhadap kondisi kekeringan. Namun, kemampuan lingkungan menyimpan air juga menjadi bagian penting dalam menentukan seberapa besar dampak musim kemarau dirasakan masyarakat.
Lebih dari Satu Juta Warga Terdampak
Luasnya dampak kekeringan membuat persoalan air bersih menjadi perhatian serius.
Data BPBD Jawa Barat yang dikutip berbagai media menunjukkan lebih dari satu juta warga terdampak hingga 21 September 2026. Kabupaten Bogor tercatat sebagai salah satu daerah dengan jumlah warga terdampak terbesar, disusul sejumlah wilayah seperti Purwakarta, Bekasi, dan Tasikmalaya.
ANTARA juga melaporkan kondisi kekeringan di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Bekasi dan Karawang. Warga di sejumlah daerah terpaksa memanfaatkan sumur dan sumber air yang masih tersedia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Distribusi Air Dibutuhkan, Pemulihan DAS Harus Berjalan
Hatma mengatakan distribusi air menggunakan mobil tangki tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kondisi darurat.
Namun, langkah tersebut merupakan solusi jangka pendek. Dalam jangka panjang, kemampuan DAS menyimpan air harus dipulihkan.
Pemulihan daerah resapan, perlindungan kawasan hulu, pengendalian alih fungsi lahan, serta penggunaan air secara bijak menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan air.
DSDA Jawa Barat juga mengimbau masyarakat yang sumber airnya mengering agar segera melapor kepada pemerintah setempat atau BPBD untuk memperoleh bantuan air bersih. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air selama kondisi kekeringan berlangsung.
Hatma menekankan pengelolaan DAS tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat, sektor pertanian, industri, dan berbagai pengguna air lainnya perlu terlibat dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Krisis air di Jawa Barat pada musim kemarau 2026 menunjukkan bahwa ketahanan air tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak hujan yang turun. Kemampuan tanah, hutan, dan kawasan resapan dalam menyimpan air juga menjadi faktor penting agar masyarakat tetap memiliki cadangan air ketika musim kemarau datang.**(S.Ragil)
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
(Srt/Dprs)









