Grobogan — Terasdepok — Kabupaten Grobogan menjadi salah satu daerah terdampak kekeringan ekstrem di Jawa Tengah. Tidak hanya area persawahan yang gagal tanam, namun juga berdampak pada kehidupan masyarakat. Kelangkaan air bersih menjadi keluhan warga beberapa desa di Kab Grobogan. Air yang menjadi sumber penghidupan warga menjadi barang yang mahal untuk didapat.
Kondisi yang cukup memprihatinkan tersebut memanggil elemen masyarakat untuk peduli kepada sesama. Ormas Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), Banser dan Pagar Nusa berinisiatif melakukan aksi bhakti sosial penyaluran air bersih untuk warga.
“Tanpa menunggu solusi Pemerintah Daerah yang terkesan tidak peduli warganya, kami berinisiatif gotong-royong menyalurkan air bersih kepada warga Grobogan. Bukan untuk mencari viral atau pujian, tetapi ini menjadi wujud nyata aksi kemanusiaan yang tidak hanya omon omon” ungkap AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) selaku ketua umum PNIB mewakili ormas lain.
Keterbatasan Sarana Bhaksos
Sebanyak lebih dari 100 ribu liter air bersih disalurkan kepada warga Soko, Bendoharjo, Gabus Kradenan Grobogan Jawa Tengah. 2 unit truk dimodifikasi tandon air dan mesin pompa hilir mudik dari subuh hingga siang hari ini. Dalam keterbatasan sarana, aksi bhaksos tersebut disambut antusias warga yang datang mengantri dengan ember, galon dan penampungan air.
“Jarak sumber mata air sekitar 10 kilometer, sarana truk yang ada hanya 2 unit itupun bukan truk tanki, tapi dimodifikasi untuk mengambil, mengangkut sekaligus menyalurkan air bersih. Jika Pemerintah setempat sibuk dengan urusan birokrasi, biarkan kami yang melakukan secara gotong royong semampunya demi warga yang kesulitan air” imbuh Gus Wal di tengah kesibukan membagikan air ke beberapa warga.
Baca Juga : Aksi Sosial PNIB Sambut Muktamar NU ke 35 dan HUT RI ke 81, Berbagi Air di Bantul dan Gunungkidul
PNIB, Banser dan Pagar Nusa berharap aksi bhakti sosial ini bisa menjadi pesan kepada para pemangku kebijakan, bahwa kondisi darurat tidak butuh birokrasi, prosedur atau seremonial. Suatu kondisi yang selalu terjadi tiap tahun seharusnya sudah bisa diantisipasi secara sistemik.
“Warga disini para pembayar pajak juga, tapi urusan hak memperoleh layanan dan fasilitas hidup masih belum adil. Sumber mata air ada seharusnya bisa diantisipasi dengan pembuatan pipa saluran permanen oleh pemerintah. Dana pemerintah ada, tapi untuk membiayai truk tangki penyalur saja sepertinya harus berhitung untung rugi dulu baru dilaksanakan. Kondisi ini sungguh memprihatinkna bagi kami dan warga terdampak” imbuh Gus Wal.
Baca Juga : Kirab Merah Putih Bandar Lampung, PNIB : Jaga Persatuan dengan JASMERAH dan JASHIJAU
Harapan Warga
PNIB berharap pemerintah setempat menetapkan kondisi darurat kekeringan ekstrem. Dengan demikian bisa mendorong instansi yang ada untuk bersama-sama menyikapinya.
“Jangan hanya melihat dari kondisi di kota, Grobogan sudah darurat kekeringan, itu real terjadi di banyak dusun dan desa. Kepercayaan publik kepada para pemangku kebijakan bisa dibangun dari hal-hal kecil seperti ini. Keadilan itu hak masyarakat, pemerintah hanya perlu bijaksana membaginya. Jangan hanya sibuk mengejar setoran pajak warga, tapi tutup mata saat warga membutuhkan air” pungkas Gus Wal.***
(Dprs/Srt)










Respon (3)