Bojonegoro — Terasdepok.com — Kabupaten Bojonegoro menjadi daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Terutama sektor minyak dan gas bumi (migas) yang menjadi salah satu penopang utama kebutuhan energi nasional.
Berpenduk sekitar 1.439.100 jiwa dengan kondisi geografis perbukitan kapur setiap tahun rawan bencana kekeringan di musim kemarau. Pendapatan asli daerah sebagian besar didapat dari investasi asing pertambangan migas. Menjadikan kabupaten yang berbatasan dengan propinsi Jawa tengah meraup APBD Rp6,49 Triliun per tahun.
Masuk dalam 10 besar kabupaten terkaya di di Indonesia, namun data BPS mencatatkan angka kemiskinan di Kab Bojonegoro sebesar 12,21%. Sebanyak 144.900 orang masih hidup di bawah garis kemiskinan, menggambarkan besarnya ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih terjadi.
Bahksos Air PNIB
Bencana kekeringan dan kelangkaan air di Kecamatan Ngraho yang luput dari perhatian pemerintah setempat, mengetuk kepedulian ormas Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) untuk melakukan Bhaksos bantuan air bersih di beberapa desa, Selasa (1/9/26)
Sebanyak 99.999 liter air bersih diserahkan gratis ke wilayah Desa Nganti, meliputi Dukuh Tukbuntung, Dukuh Jati dan Dukuh Jeding; Desa Sugihwaras di Dukuh Sambirobyong; Desa Jumok di Dukuh Banyu Urip, serta Desa Ngraho. 11 truk tanki yang dikawal langsung oleh Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) disambut sukacita warga yang berhari-hari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
“Ini potret ironis di sebuah kabupaten kaya minyak namun miskin air. ExxonMobil yang menguras kekayaan alam pada faktanya hanya berpikir investasi saja, tidak memperdulikan bagaimana caranya memperbaiki hidup warga sekitar yang hanya dijadikan penonton eksplorasi hasil bumi” ungkap Gus Wal usai membagikan air bersih kepada warga.
Air sebagai kebutuhan dasar hidup warga setiap tahun mengalami persoalan kelangkaan. Menurut Gus Wal itu menjadi PR lama yang belum pernah tuntas terselesaikan.
“Untuk persoalan air saja Pemerintah Bojonegoro dan ExxonMobil tidak bisa menyelesaikan sejak bertahun-tahun. Warga selalu berharap kepedulian dari elemen masyarakat lain untuk datang sekedar berbagi air. Permohonan bantuan kepada pihak yang berlimpah dana hanya mentok di meja birokasi dan pos satpam perusahaan” kata Gus Wal.
Baca Juga : Kirab Merah Putih Bandar Lampung, PNIB : Jaga Persatuan dengan JASMERAH dan JASHIJAU
99.999 Liter, Bukan Sekadar Angka
Angka 99.999 liter sengaja dipilih PNIB bukan tanpa alasan. Gus Wal menyebut angka tersebut memiliki makna simbolik karena NU identik dengan simbol bintang sembilan. Bantuan air bersih itu sekaligus menjadi doa dan harapan usai merayakan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
“Wujud nyata rasa bersyukur kami atas usainya gelaran Muktamar dan menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW kami wujudkan bukan dengan pesta atau tabligh akbar. Namun dengan berbagi air secara gratis. Ke depannya kami akan desak kepedulian Pemkab dan ExxonMobil untuk menyelesaikan persoalan air. Kedzoliman pada warga miskin tidak bisa dibiarkan terus terjadi dan harus segera diatasi. “ tegas Gus Wal yang disepakati oleh puluhan warga lainnya.***
(Dprs/Erl)










Respon (2)