Depok — Terasdepok.com — Pemandangan tak biasa terlihat di salah satu sudut jalan protokol Kota Depok. Di tengah keriuhan kendaraan dan pedagang kaki lima, sebuah billboard raksasa berdiri mencolok.
Namun, kali ini, tidak sekadar wajah tersenyum seorang politisi yang mendominasi, melainkan sebuah sandi hitam-putih raksasa—sebuah QR code berukuran kolosal dengan tulisan instruktif “SCAN ME” di bawahnya.
Baca Juga : Sambut HUT RI ke 81 DPD PSI Demak Gelar Jalan Sehat
Pemasangan media kampanye berteknologi ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah representasi fisik dari strategi pergerakan “gerilya digital” yang sedang dilancarkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di tingkat akar rumput.
Pendekatan Milenial
Sebuah pendekatan yang dinilai “keren” dan relevan di era di mana ponsel pintar telah menjadi perpanjangan tangan bagi sebagian besar masyarakat urban, termasuk warga Depok.
Dari billboard tersebut, terlihat jelas identitas Yunius Suwantoro, S.Sos. Namun, yang menarik perhatian adalah foto figur Yunius yang dipajang. Alih-alih berjas formal, ia tampil mengenakan helm bersepeda lengkap dan kacamata hitam, memberikan kesan politisi yang aktif, bugar, dan dekat dengan gaya hidup sehat generasi muda.
Baca Juga : Joko Wahyono : Safari Politik Jokowi Targetkan 7000 Kecamatan Berdiri Kepengurusan PSI
Citra ini mempertegas persona PSI sebagai partainya anak muda dan mereka yang berjiwa muda. Menghadirkan wajah politik energik dan sportif.
Komunikasi Langsung
Tak jauh dari lokasi billboard, pergerakan di lapangan justru lebih terasa hidup. Yunius Suwantoro sendiri, mengenakan jersey sepeda dan jaket, terlihat sedang bersepeda santai melintasi area tersebut. Di beberapa titik, ia berhenti untuk berinteraksi langsung dengan warga yang melintas
Interaksi yang terjadi bukanlah komunikasi searah. Yunius dan tim sukarelawan PSI terlihat aktif mengajak warga untuk memindai QR code raksasa di billboard. Saat warga berhasil memindai, mereka tidak hanya melihat profil Yunius, tetapi langsung diarahkan ke platform digital interaktif.
Di sanalah pergerakan lapangan dan strategi digital menyatu secara cerdas, menciptakan pengalaman keterlibatan langsung yang sebelumnya jarang ditemui dalam politik konvensional.
Salah satu fokus utama dari gerakan “gerilya digital” ini terangkum dalam pesan yang tertulis di billboard: “Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka Kita Bangun Jakarta: Kerja Kerasmu, Kita Kawal Bersama di TPS!”
Narasi ini dengan cerdik mengaitkan semangat Hari Kemerdekaan dengan kewajiban berdemokrasi. PSI memosisikan diri bukan hanya sebagai peserta pemilu, melainkan sebagai “pengawal” suara kemerdekaan di tempat pemungutan suara.
Kawal Kedaulatan Suara
Konsep “Kawal Bersama di TPS” yang diusung melalui platform digital tersebut bertujuan untuk memberikan akses transparansi dan partisipasi aktif bagi pemilih. Melalui pemindaian QR code, warga dapat mendaftarkan diri sebagai saksi sukarela, melaporkan dugaan pelanggaran, atau sekadar memantau hasil perhitungan suara di wilayah mereka secara real-time.
Baca Juga : Dugaan Gratifikasi Menhut, Kader PSI : Pengakuan Bupati Suhardiman Sarat Kepentingan Politis
Ini adalah bentuk pergerakan politik yang memberdayakan, tidak sekadar meminta suara, tetapi mengajak untuk menjaga kedaulatan suara itu sendiri.
Bagi Yunius Suwantoro, strategi ini adalah cara PSI untuk “menjemput bola” dan memberikan makna baru bagi kata ‘merdeka’ dalam konteks politik. Dengan pergerakan lapangan yang aktif dan pendekatan akses digital, ia berharap dapat merangkul kelompok pemilih yang selama ini apatis. Memperkuat basis pendukung yang sudah ada dengan platform keterlibatan yang nyata.
Transformasi Gerakan Politik
Gerakan ini merupakan bukti bahwa politik di tingkat lokal bisa bertransformasi menjadi lebih “keren” dan “gaul” tanpa kehilangan substansi. PSI Depok dengan caleg bersepeda dan billboard QR raksasa ini seakan ingin menyampaikan pesan bahwa politik bukan lagi soal bagi-bagi sembako, melainkan soal gagasan, partisipasi digital, dan pengawalan demokrasi yang cerdas.
Pergerakan politik yang dinamis di Depok ini tentu akan menjadi sorotan. Apakah pendekatan “gerilya digital” ini mampu diterjemahkan menjadi perolehan suara yang signifikan? Waktu yang akan menjawab.
Namun, satu hal yang pasti: PSI Depok telah berhasil menciptakan percakapan yang menarik dan segar, serta membuktikan bahwa politik di Indonesia masih bisa hadir dengan wajah yang modern, inklusif, dan—tentu saja—keren.***
(Dprs/Erl)










Respon (1)