Jombang — Terasdepok.com — Polisi telah menetapkan Aji Cahyono Putra sebagai tersangka dalam kasus pembubaran ibadah di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten. Aji merupakan pria yang membawa golok dan memaksa ibadah tersebut berhenti.
Sebelumnya peristiwa tersebut viral di media dan berujung permintaan maaf dari pelaku. Namun pihak berwenang tetap memeriksanya dan menetapkannya sebagai tersangka pengancaman.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal mengapresisi langkah tegas aparat dalam menindak aksi intoleransi.
“Aksi intoleransi sudah termasuk pelanggaran hukum, apalagi ada pengancaman dengan golok. Pelaku sudah ada bibil radikalisme dan apabila dibiarkan bisa menjadi pelaku teroris. Ini bukan asal tuduh, bahwa pelaku teroris selalu berawal dari aksi radikalisme dan anarkisme yang dibiarkan” kata Gus Wal.
Baca Juga : PNIB Apresiasi Kapolri Baru dengan Slogan Polisi Bersama Rakyat
Menurut Gus Wal, kehadiran Kapolri baru Jendral Suyudi Ario Seto diharapkan lebih responsif menindak aksi-aksi pelaku pemecah belah kerukunan hidup beragama.
“Kapolri baru dengan slogan “Polisi bersama Rakyat” kami harap sejalan dengan implementasi di lapangan. Warga jangan pernah takut intimidasi karena, medsos selalu berpihak pada oknum intoleran. Dan aparat segera menindak tanpa harus ada yang melaporkan karena pengancaman sudah masuk delik umum” lanjut Gus Wal.
Hari Toleransi Nasional
Di sisi lain PNIB terus mendorong pemerintah untuk segera menetapkan Hari Toleransi Nasional di bulan November. Menurut Gus Wal dengan adanya penetapan tersebut menjadi wujud negara hadir melawan aksi intoleransi.
“Penetapan 16 November sebagai hari Toleransi Nasional itu bagi kami harga mati. Menjadi penegasan bahwa siapapun yang mendukung Hari Toleransi Nasional pasti menolak aksi-aksi intoleransi dimanapun” jelasnya.
Gus Wal bersama PNIB menjadi salah satu ormas yang konsisten bergerak di jalur aksi toleransi keberagaman. Tidak hanya dengan berbagai statemen di media, aksi kirab merah putih dan bhaksos air bersih menunjukkan bahwa masyarakat harus diberi bukti nyata, bukan hanya janji.
“Toleransi ibarat lem perekat yang menyatukan pluralisme yang ada di Indonesia. Tanpa itu negara kita sudah terpeccah belah sejak dulu. dan nilai toleransi itu yang selalu kita gaungkan tidak hanya bicara tapi berujud aksi nyata” imbuhnya.
“Disaat ormas lain sibuk mendukung sana sini, menjilat kepentingan untuk jabatan, kami tidak iri karena PNIB fokus perjuangan di garis akar rumput. Tanpa imbalan apalagi penghargaan karena bagi kami masyarakat yang kesusahan rentan terprovokasi. Tugas kami memprovokasi masyarakat di jalan kebangsaan dan menolak diam saat ditindas intoleransi” pungkas Gus Wal***
(Dprs/erl)









