Jakarta – Terasdepok.com | Nama Cinta Laura sudah tidak asing di dunia hiburan. Selama enam tahun terakhir menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia ini membawa banyak pelajaran hidup dari berbagai daerah yang ia kunjungi. Pengalaman-pengalaman itu membentuk Cinta Laura sebagai sosok yang vokal terhadap isu kemanusiaan, terutama yang berada di pelosok.
Kali ini Cinta kembali mendapatkan pelajaran berharga di wilayah Masohi, Maluku Tengah. Di tempat tersebut terdapat sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi perempuan korban kekerasan atau pelecehan. Di satu sisi, keberadaan fasilitas ini menjadi angin segar untuk melindungi perempuan.
Akan tetapi, rumah aman tersebut belum berjalan optimal. Infrastruktur dan sistem pendukungnya masih terbatas, bahkan kerap tidak ada pendamping yang siaga untuk membantu perempuan yang membutuhkan.

Gayung bersambut, Cinta Laura bertemu dengan seorang anak yang mengalami kekerasan dari anggota keluarganya sendiri. Keterbatasan ruang aman membuat sang anak kehilangan semangat dalam menjalani hari-harinya.
“Berbeda dengan anak yang aku temui di Bondowoso dan Jember, anak (di Masohi) ini mulai kehilangan semangat hidupnya dan merasa tidak ada jalan keluar,” ujar Cinta Laura.
Cinta Laura mengaku merasa sedih karena tidak dapat terus mendampingi anak tersebut secara langsung—mengingat domisilinya berada di Jakarta. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa aksi kemanusiaan tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kolaborasi yang kuat, baik dari pemerintah daerah maupun para relawan, agar misi sosial dapat berjalan.
Kedua cerita di atas merupakan bagian kecil dari perjalanan Cinta Laura menjelajahi wilayah pelosok. Menariknya, sejak kecil—Cinta Laura memang telah akrab dengan perjalanan ke desa-desa terpencil bersama sang ibu

“Sebenarnya dari kecil aku sangat sering blusukan. Banyak orang lupa atau tidak percaya, mungkin karena kemasan aku—mereka berpikir oh Cinta pasti selalu nyaman,” ujarnya.
Ia mengaku merasa beruntung memiliki privilese untuk dapat mengunjungi desa-desa terpencil. Dari pengalaman tersebut, pandangannya menjadi lebih terbuka—bahwa masih ada wilayah yang kesulitan mengakses listrik dan air bersih. Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap realitas kehidupan yang sangat berbeda dari yang selama ini ia temui di perkotaan.
Berangkat dari pengalaman itu, Cinta Laura juga kerap mengajak orang-orang di sekitarnya—terutama mereka yang memiliki privilese serupa—untuk melihat langsung kondisi di wilayah terpencil.
Ketika aku berbicara dengan orang-orang yang berprivilese, aku selalu bilang kalau kalian ingin mengenal dunia sesungguhnya dan mengerti masalah-masalah yang ada di dunia ini—penting sekali kalian turun gunung dan melihat keadaan dan kehidupan orang sesungguhnya di luar kota besar, terutama di daerah terpencil atau terisolasi,” ungkap Cinta Laura. (Dpras)
Sumber : Kumparan.com












Respon (1)