LAMPUNG — TERASDEPOK.COM _ Perbedaan agama, suku, dan latar belakang sosial tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti menolong sesama. Pesan itulah yang coba disampaikan Pdt. Dr. Daniel F., M.A., M.Th., D.Th., melalui film Ageman, karya sinema yang mengangkat isu toleransi, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat di tengah keberagaman.
Film yang disutradarai Jasper Lance Piscasio dan diproduseri Ken Setiawan tersebut dijadwalkan tayang perdana pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Pesan tentang kemanusiaan itu disampaikan Pdt. Daniel melalui perannya sebagai seorang pendeta dalam film. Ia tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi membawa refleksi tentang ajaran kasih yang menempatkan manusia sebagai sesama tanpa sekat identitas.
Pdt. Daniel diketahui merupakan Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Provinsi Lampung. Selain aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Agape, ia juga terlibat dalam berbagai dialog lintas agama bersama Kementerian Agama dan sejumlah tokoh nasional.
Dalam cerita Ageman, Pdt. Daniel beradu akting dengan dua tokoh utama, Aluna dan Zaskia. Keduanya dikisahkan menjalani perjalanan spiritual untuk mencari pencerahan diri ketika berhadapan dengan ujian berupa sikap intoleransi.
Di tengah konflik tersebut, pesan yang dibawa Pdt. Daniel menempatkan kasih sebagai nilai yang tidak mengenal batas identitas.
Ia menekankan bahwa ketika seseorang mengulurkan tangan dan membantu orang lain, pertanyaan mengenai agama, suku, maupun latar belakang sosial seharusnya tidak menjadi penghalang.
“Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu, menghormati dan menolong sesama tanpa melihat perbedaan adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Pencipta,” demikian pesan yang disampaikan Pdt. Daniel melalui perannya.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam narasi Ageman, terutama dalam menggambarkan bagaimana toleransi tidak berhenti pada sikap saling menghormati, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata terhadap sesama.
Film ini juga melibatkan berbagai unsur masyarakat. Selain talenta muda, jajaran pemerannya mencakup sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Lampung, akademisi, tokoh budaya, serta pemimpin lintas agama.
Keterlibatan berbagai elemen tersebut menjadi bagian dari pendekatan Ageman dalam membawa isu keberagaman ke dalam medium sinema.
Eksekutif Produser Ageman sekaligus Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, menilai film tersebut dapat menjadi media untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kerukunan dan toleransi.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan saling menghargai di tengah keberagaman suku, budaya, serta agama. Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” ujar Firsada.
Melalui kisah dan keterlibatan tokoh lintas agama, Ageman mencoba membawa pesan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada jarak. Sebaliknya, kasih, kepedulian, dan kemanusiaan dapat menjadi titik temu ketika identitas yang berbeda berdiri dalam ruang kehidupan yang sama.
Film tersebut dijadwalkan tayang perdana pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila.**









