IndonesianaUMKM

Merek Tertua di Indonesia Ada yang Bertahan 144 Tahun, Simak Sejarahnya

×

Merek Tertua di Indonesia Ada yang Bertahan 144 Tahun, Simak Sejarahnya

Sebarkan artikel ini
Kolase merk produk tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga kini (Grafis : Terasdepokcom)

Terasdepok.com — Sejumlah merek yang masih mudah ditemui di Indonesia ternyata telah melewati perjalanan panjang. Bahkan, beberapa di antaranya sudah hadir sejak masa Hindia Belanda dan tetap bertahan hingga lebih dari satu abad kemudian.

Hingga Indonesia berdiri selama 81 tahun hari ini,merk-merk tersebut masih menemani dan menjadi andalan masyarakat.

Menariknya, merek-merek tersebut lahir dari berbagai jenis usaha, mulai dari kecap, rokok, jamu, susu, kopi, hingga minuman. Sebagian bermula dari usaha rumahan, sementara lainnya dibawa dari luar negeri dan kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Baca Juga : Kisah PT KAI dari Merugi Hingga Untung Triliunan Berkat Tangan Dingin Ignasius Jonan

Berikut merek produk tertua yang masih bertahan di Indonesia:

1. Kecap Cap Istana – 1882

Salah satu merek tertua di Indonesia ternyata berasal dari industri kecap di Tangerang. Mengutip situs Budaya Indonesia, Kecap tersebut dikenal sebagai Kecap Cap Istana, yang memiliki sejarah panjang sejak 1882 atau sudah berusia 144 tahun.

Pabriknya didirikan oleh Teng Hay Soey, seorang pedagang keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar Pasar Lama, Tangerang. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Teng Giok Seng dan hingga kini masih beroperasi.

Kecap yang diproduksi dikenal sebagai Kecap Benteng, merujuk pada sebutan kawasan Tangerang yang dahulu dikenal sebagai kota benteng. Sumber sejarah lokal mencatat pabrik tersebut telah berdiri sejak 1882 dan masih beroperasi hingga sekarang.

Baca Juga : Strategi Cerdas Djarum Grup, Dari Jual Rokok ke Produksi Susu Sapi

Kecap Cap Istana bahkan disebut sebagai merek kecap tertua di Indonesia. Selain Cap Istana, produk yang sama juga dikenal menggunakan label burung atau Kecap Benteng Tulen.

Hingga sekarang, proses pembuatannya masih mempertahankan cara lama. Produksi dilakukan dengan tenaga manusia dan tidak sepenuhnya mengandalkan mesin.

2. Djie Sam Soe – 1913

Jauh setelah industri kecap Tangerang berkembang, muncul merek rokok yang kemudian menjadi salah satu produk legendaris Indonesia. Dalam buku The Sampoerna Legacy (2017), pada 1913 Liem Seeng Tee mendirikan bisnis kecil-kecilan dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Nama produk awalnya adalah Dji Sam Soe.

Baca Juga : Simak Warung Makan Gratis di Depok, Tanpa Subsidi Negara Tetap Bertahan Melayani Meski Harga Bahan Pokok Naik

Kini bisnis kecil itu bernama Sampoerna. Dji Sam Soe diambil dari pelafalan angka 2, 3, dan 4 dalam bahasa China. Rokok tersebut dengan cepat mendapat sambutan pasar. Tingginya permintaan bahkan membuat perusahaan mempekerjakan ribuan orang untuk melinting rokok.

Puncak kejayaannya terjadi pada 1940. Saat itu, produksinya mencapai sekitar 3 juta batang rokok per minggu. Djie Sam Soe kemudian menjadi salah satu merek rokok yang mampu bertahan melewati berbagai zaman dan tetap dikenal hingga sekarang.

3. Jamu Jago – 1918

Tahun 1918 menjadi awal perjalanan salah satu merek jamu tertua di Indonesia, Jamu Jago. Merek ini dirintis oleh T.K. Suprana. Pada awalnya, jamu dibuat secara tradisional dan hanya dijual di sekitar tempat usaha.

Baca Juga : Jakarta dalam Dua Tata Surya

Dari usaha sederhana tersebut, Jamu Jago kemudian berkembang. Produk yang semula dijual di wilayah Wonogiri meluas ke Solo dan berbagai daerah di Pulau Jawa. Pada 1936, pemasaran Jamu Jago telah berkembang ke berbagai wilayah Nusantara.

Perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada 1945, pusat kegiatannya dipindahkan ke Semarang. Lebih dari satu abad kemudian, Jamu Jago masih bertahan dan memproduksi berbagai produk jamu. Sejumlah sumber menyebut 1918 sebagai tahun awal keberadaan merek ini.

4. Kapal Api – 1927

Kapal Api didirikan pada 1927 oleh perantau asal Fujian, China bernama Go Soe Loet. Awal mulanya terjadi saat dia tiba di Surabaya dan melihat besarnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi. Ia kemudian merintis usaha kopi dengan memilih biji berkualitas, menyangrai, menggiling, dan menjualnya ke pasar.

Untuk membedakan produknya dari pesaing, kopi tersebut dikemas menggunakan kertas berwarna cokelat dengan merek HAP Hootjan. Nama tersebut kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Kapal Api. Ternyata, nama Kapal Api terkait dengan pengalaman Go Soe Loet menaiki kapal uap ketika menuju Jawa.

Bisnis tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan Kapal Api adalah putranya, Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto.

Di tangan Soedomo, bisnis berkembang semakin besar. Ia melakukan berbagai pembaruan, termasuk mendatangkan mesin pengolahan kopi dari Jerman setelah sebelumnya mencoba membuat mesin sendiri.

Baca Juga : Judol, Mesin Penghapus Rejeki Paling Mematikan

Kapal Api kemudian memperluas distribusi ke berbagai wilayah Indonesia dan mulai mengekspor produknya pada 1985. Perusahaan juga mengembangkan berbagai merek lain, termasuk Kopi ABC dan Excelso.

5. Bango – 1928

Kecap juga menjadi bagian penting dalam sejarah merek di Indonesia. Salah satunya adalah Kecap Bango, yang telah ada sejak 1928.

Bango bermula dari industri rumahan di kawasan Benteng, Tangerang. Pasangan suami istri Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio membuat kecap di garasi rumah mereka.

Nama Bango dipilih dengan harapan produk tersebut dapat terbang hingga ke mancanegara. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Pada 1939-1947, produksi Bango sempat terhenti karena bahan baku sulit diperoleh akibat perang.

Setelah produksi kembali berjalan, kecap Bango dipasarkan dari pintu ke pintu. Pada periode 1950-1980, penjualannya meluas ke Jawa, Sumatera, hingga Manado. Seiring meningkatnya permintaan, pabrik kembali dikembangkan. Pada 1997-1998, Bango membuka pabrik di Subang.

Pada 2001, Unilever mengakuisisi Bango dan menjadikan merek tersebut bagian dari bisnisnya. Meski kepemilikannya berubah, nama Bango tetap bertahan sebagai salah satu merek kecap yang paling dikenal masyarakat Indonesia.

Baca Juga : Perusahaan Korea Selatan Melirik Program Energi Berbasis Agro Dengan Sinergi UMKM Indonesia

6. Bir Bintang – 1931

Minuman berikutnya memiliki sejarah yang bermula pada masa Hindia Belanda. Pada 1931, berdiri pabrik minuman beralkohol bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya.

Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan dikenal melalui produk Bir Bintang. Dalam perjalanannya, merek ini melewati berbagai perubahan dan perkembangan perusahaan. Bir Bintang kemudian menjadi salah satu merek minuman yang paling dikenal di Indonesia.

Seiring perubahan preferensi konsumen, perusahaan juga mengembangkan berbagai varian produk, termasuk produk tanpa alkohol. Meski sejarah awalnya berkaitan dengan perusahaan yang berdiri pada 1931, nama Bir Bintang kemudian menjadi identitas yang jauh lebih dikenal masyarakat dibanding nama perusahaan awalnya***

Sumber : CNBC Indonesia

(Rahsv/Dprs)

Tinggalkan Balasan