Boyolali — Terasdepok.com — Kemarau menjadi siklus musiman di negara sub tropis seperti Indonesia. Dampak yang dirasakan masyarakat di beberapa daerah adalah kelangkaan air bersih untuk kebutuhan hidup.
Bagi petani kemarau bisa menghentikan aktifitasnya karena sawah dan kebun yang tandus tanpa air. Saluran irigasi kering entah karena rusak atau sumber air terhenti.
Kondisi yang berlangsung tiap tahun ini seharusnya menjadi bahan evaluasi Kementrian khususnya PU dengan Dirjen Sumber Daya Air. Tata kelola air selalu terkendala sarana yang tidak terbangun dengan perencanaan matang.
“Berita petani di Bekasi membeli pompa air sendiri untuk mengairi sawahnya menjadi contoh tata kelola air di Kemetrian PU masih berantakan. Kemarau yang terjadi tiap tahun seharusnya menjadi bahan evaluasi dan antisipasi demi kepentingan masyarakat. Mentri marah-marah mencopot pejabatnya tidak lebih penting dari perbaikan sistem irigasi. Hanya mengejar viral di satu tempat” papar Gus Wal Ketua Umum PNIB menanggapi video virak Menteri PU kepada bawahannya marah-marah di depan petani.
Ormas Peduli Kekeringan
PNIB bersama elemen masyarakat lain yang sedang gencar mekakukan aksi bhaksos menyalurkan air bersih untuk warga, memahami persoalan kelangkaan air langsung dari warga. Menurutnya sumber air ada namun tidak terdistribusikan dengan baik melalui saluran irigasi.
“Era Presiden Jokowi sudah dibangun 61 bendungan dan lebih 5000 embung. Tapi manfaatnya tidak sampai ke warga karena tidak dibangun saluran irigasi. Hanya menghabiskan proyek anggaran, tidak ketahuan korupsi dianggap pekerjaan selesai. Padahal itu semua dibangun dengan uang pajak rakyat” imbuh Gus Wal.
Antisipasi Bencana Kekeringan
Pemerintah daerah disebut Gus Wal juga selalu terlambat mengantisipasi bencana kekeringan. Warga yang sulit mendapatkan air membutuhkan solusi permanen, tidak hanya bantuan truk tanki air saja.
“Membangun saluran pipa air seharusnya menjadi solusi permanen. Mengirim puluhan truk tanki ke daerah kekeringan hanya solusi sementara. Warga butuh air setiap hari, bukan hanya ketika bantuan air datang. Uang hasil sitaan korupsi triliunan yang dipamerkan kemarin lebih dari cukup jika digunakan untuk membangun fasilitas publik. Dana itu harus kembali ke rakyat, bukan disimpan untuk diambil bunganya” jelasnya.
Gus Wal dan PNIB menghimbai semua pihak untuk lebih memperhatikan persoalan kelangkaan air. Manajemen tata kelola irigasi harus dievaluasi total.
“Tehnologi AIR jangan sampai kalah dengan tehnologi AI. Tanpa air manusia tidak bisa menciptakan AI. Jangan sampai kepercayaan masyarakat turun hanya karena mereka kehausan dan pemerintah terkesan pasif. Bangsa ini semakin terpuruk jika hanya fokus memburu korupsi, tapi persoalan air tidak punya solusi” pungkas Gus Wal.









