Entertainment

Dunia Perfilman Berkabung, Sutradara dan Penulis Skenario Legendaris Imam Tantowi Tutup Usia

×

Dunia Perfilman Berkabung, Sutradara dan Penulis Skenario Legendaris Imam Tantowi Tutup Usia

Sebarkan artikel ini
Sutradara dan penulis skenario Imam Tantowi tutup usia (Foto : Intimate.co.id)

Jakarta — Terasdepok.com — Dunia perfilman Indonesia berkabung. Sutradara sekaligus penulis skenario H. Imam Tantowi meninggal dunia pada Hari Jumat(21/8) pukul 18.00 WIB. Kabar berpulangnya Sutradara di usia 80 tahun ini diterima dari salah seorang putranya, Satria Pinandita.

“Almarhum tadi waktu Asar untuk wudu dibantu sama abang saya, tapi untuk salat beliau masih bisa sendiri. Nah habis Magrib abang saya menghubungi saya kalau Bapak sudah pergi,” jelas Satria.

Sebelum mengembuskan napas terakhir sang ayah memang mengidap komplikasi penyakit jantung.

“Jadi sebelum mengembuskan napas terakhir, Bapak itu ada komplikasi penyakit jantung. Selain jantung, paru-parunya juga terkena. Tapi tidak dirawat di rumah sakit, di rumah abang saya di Karawaci,” terangnya.

Rencananya jenazah akan dimakamkan Sabtu, (22/8) pukul 12..00 WIB di TPU Islamic Village, Kampung Asem, Tangerang. Diberangkatkan dari rumah duka Islamic Village Jl. Mawardah X Blok J8 No. 13, Karawaci, Tangerang

Awal Perjalanan Karir

Imam Tantowi lahir di Slawi, Tegal, pada 13 Agustus 1946. Sepanjang perjalanan kariernya, ia dikenal sebagai salah satu sutradara yang banyak menggarap film berlatar sejarah, laga, dan kolosal.

Beberapa film yang pernah disutradarainya antara lain Soerabaia 45 (1989), Saur Sepuh IV (1991), dan Fatahillah (1997). Kiprahnya tidak hanya berlangsung di layar lebar, tetapi juga berlanjut ke dunia sinetron.

Perjalanan Imam Tantowi di dunia seni sebenarnya telah dimulai jauh sebelum menjadi sutradara. Pada 1966-1969, ia aktif dalam lakon sandiwara sebagai pemeran sekaligus sutradara.

Ia kemudian sempat bekerja sebagai pembuat poster film sebelum pindah ke Jakarta. Kariernya di industri perfilman berkembang ketika mendapat kesempatan terlibat dalam film Biarkan Musim Berganti (1971) sebagai penata artistik.

Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi penata artistik film Si Rano. Pengalamannya terus bertambah hingga ia menjadi asisten sutradara dalam Tukang Kawin (1977), sebelum mulai menulis skenario untuk Dang Ding Dong (1978). Imam Tantowi kemudian memulai debutnya sebagai sutradara pada 1982.

Kemampuannya sebagai penulis skenario juga mendapat pengakuan. Ia beberapa kali masuk nominasi Festival Film Indonesia, di antaranya melalui Lebak Membara dan Carok.

Film Nakalnya Anak-Anak tahun 1980 yang mengorbitkan nama Dian Mariana, Ria Irawan, Ira Maya Sopha, Ryan Hidayat dan Tino Sidin adalah buah karya skenario Imam Tantowi.

Sukses Raih Dua Piala Citra

Sepanjang kariernya, Imam Tantowi meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Ia memenangkan Piala Citra untuk kategori Penulis Cerita Asli Terbaik melalui film Si Badung pada Festival Film Indonesia (FFI) 1989.

Selaanjutnya pada 2 tahun kemudian, ia kembali meraih Piala Citra dengan membawa piala kemenangan sebagai Sutradara Terbaik melalui film Soerabaia ’45 pada FFI 1991. Film tersebut juga membawanya masuk nominasi untuk kategori penulis skenario dan penyunting terbaik

Tak hanya aktif di layar lebar, Imam Tantowi juga berkarya di dunia sinetron. Ia terlibat dalam sejumlah produksi televisi dan meraih penghargaan dalam Festival Sinetron Indonesia, termasuk melalui Jejak Sang Guru dan Suami-Suami Takut Istri.

Sebagai penulis skenario, sejumlah film-film terkenal melibatkan Imam Tantowi. Mulai dari film box office Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Penulis Cerita Sinetron

Ketika industri film nasional menghadapi masa sulit akibat dominasi film impor dan melemahnya produksi film dalam negeri, Imam Tantowi beralih memperluas kiprahnya ke televisi.

Ia juga aktif menulis cerita dan skenario sinetron. Di ajang Festival Sinetron Indonesia, namanya kembali muncul sebagai nominasi sekaligus peraih penghargaan.

Pada 1994, Imam Tantowi meraih Piala Vidia sebagai penulis cerita asli terbaik melalui Madu Racun dan Anak Singkong. Setahun kemudian, ia kembali mendapat penghargaan untuk Jejak Sang Guru.

Pada 1996, ia meraih penghargaan sebagai penulis skenario komedi terbaik melalui Suami-suami Takut Istri. Karya tersebut juga membawanya meraih penghargaan sebagai penulis cerita asli komedi terbaik.

Kreativitas Imam Tantowi terus berlanjut melalui berbagai karya televisi, termasuk Bang Jagur dan Maha Kasih. Salah satu karyanya yang paling dikenang adalah kisah Tukang Bubur Naik Haji.

Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the Series pada 2012. Serial yang dibintangi Almarhum Mat Solar, Nani Wijaya, Uci Bing Slamet, Abdel Achrian dan Citra Kirana saat ini masih memegang rekor jumlah episode terpanjang. Yaitu 3125 episode yang tayang setiap hari di RCTI selama 4 tahun.

Atas perjalanan panjang dan kontribusinya terhadap perfilman Indonesia, Imam Tantowi menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Indonesia (FFI) 2024.

Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam perfilman Indonesia, terutama melalui karya-karya laga, kolosal, dan cerita televisi yang menjadi bagian dari perjalanan industri hiburan Tanah Air.

Selamat jalan Mas Towi***

(Dprst/Erl)

Tinggalkan Balasan