Daerah

Pegawai SPPG Bantul Bikin Video Candaan soal Korban MBG, BGN Turun Tangan

×

Pegawai SPPG Bantul Bikin Video Candaan soal Korban MBG, BGN Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

BANTUL — TERAS DEPOK.COM  – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan hanya terkait makanan yang diterima siswa, tetapi juga perilaku personel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tengah berbagai persoalan keamanan pangan yang muncul di sejumlah daerah.

Seorang pegawai SPPG Muntuk, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi perhatian setelah video yang dibuatnya viral di media sosial. Dalam video tersebut, pria yang disebut bernama Gerardus Permanaditya terlihat menyantap chicken katsu sembari melontarkan candaan mengenai kehilangan ingatan hingga 70 persen.

Ucapan tersebut kemudian dikaitkan warganet dengan kasus Febiona Purba, siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya diberitakan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.

Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) DIY Wirandita Gagat Widyatmoko membenarkan bahwa pria dalam video tersebut merupakan pegawai SPPG Muntuk, Dlingo, Bantul yang menjabat sebagai pengawas keuangan.

BGN DIY kemudian memanggil dan melakukan klarifikasi terhadap pegawai tersebut. SPPG Muntuk dan pegawai yang bersangkutan juga telah diberikan teguran.

Baca Juga : P2G : Guru Menolak MBG Adalah Sikap yang Dilindungi UU No 14 Tahun 2005

BGN: Persoalan Keamanan Pangan Harus Disikapi Serius

BGN DIY menegaskan, setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan dan berdampak terhadap penerima manfaat harus disikapi secara serius.

“Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” kata Gagat.

BGN juga mengingatkan agar kejadian yang menimpa penerima manfaat tidak dijadikan bahan candaan, olok-olok, maupun komentar yang dapat melukai pihak yang sedang menghadapi kondisi sulit.

Menurut BGN, kejadian di satu daerah semestinya menjadi pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG untuk memperbaiki pelayanan sekaligus memperkuat pencegahan.

Baca Juga :Rekor Baru Keracunan MBG Pecah di SMAN 1 Lasem

Pegawai SPPG Beri Klarifikasi dan Minta Maaf

Di tengah polemik tersebut, muncul pula klarifikasi dari pegawai yang bersangkutan.

Dalam video klarifikasi yang beredar, Gerardus menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul akibat konten sebelumnya. Ia membantah video tersebut dibuat untuk menyindir atau menyinggung korban MBG tertentu.

Ia mengatakan video itu dibuat ketika dirinya sedang menyantap chicken katsu yang merupakan makanan dari hari sebelumnya. Menurut pengakuannya, ucapan mengenai kehilangan ingatan 70 persen dimaksudkan sebagai candaan pribadi dan tidak ditujukan kepada korban tertentu.

Ia juga menyatakan dalam video tersebut tidak menyebut nama korban maupun program MBG.

Namun, terlepas dari penjelasan tersebut, konteks unggahan dan waktu kemunculannya membuat video itu mendapat sorotan publik karena beredar ketika persoalan dugaan gangguan kesehatan akibat MBG tengah menjadi perhatian masyarakat.

Baca Juga : 96 Siswa SMPN 6 Boyolali Diduga Keracunan MBG, PKS Desak SPPG Dievaluasi

Pembanding: Bantul Juga Tengah Menghadapi Persoalan MBG

Sorotan terhadap video tersebut semakin sensitif karena Bantul sendiri tengah menghadapi persoalan terkait pelaksanaan program MBG.

Sebelumnya, terdapat laporan dugaan gangguan kesehatan yang melibatkan penerima MBG di sejumlah sekolah di Bantul. Hasil pemeriksaan laboratorium dan penelusuran terhadap makanan menjadi bagian dari proses untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Kondisi itu membuat isu keamanan pangan MBG bukan sekadar perdebatan di media sosial. Ada persoalan nyata mengenai bagaimana makanan diproduksi, diperiksa, didistribusikan, dikonsumsi, dan bagaimana pemerintah merespons apabila penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan.

Karena itu, perilaku personel yang bekerja di lingkungan SPPG ikut menjadi sorotan. Mereka bukan hanya berhadapan dengan persoalan administrasi dan distribusi makanan, tetapi juga membawa nama lembaga yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan gizi masyarakat.

Baca Juga : Dari Mana Indonesia Membiayai Program MBG Pasca Putusan MK ?

Kasus Karo Menjadi Latar Sensitif

Kasus yang kemudian dikaitkan dengan video tersebut adalah kejadian di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Nama Febiona Purba mencuat setelah diberitakan mengalami gangguan kesehatan pasca-konsumsi MBG. Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan publik, termasuk terkait laporan gangguan daya ingat yang dialaminya.

Namun, hubungan langsung antara video pegawai SPPG Bantul dengan korban tersebut merupakan interpretasi yang muncul di media sosial, bukan pernyataan eksplisit dari pegawai dalam video. Pegawai yang bersangkutan justru membantah memiliki maksud menyindir korban tertentu.

Fakta inilah yang penting dipisahkan: video tersebut memang dibuat oleh pegawai SPPG dan telah ditegur BGN, tetapi tudingan mengenai sasaran candaan harus tetap ditempatkan sebagai dugaan atau interpretasi publik sampai ada keterangan yang membuktikannya.

Bukan Sekadar Soal Satu Video

Kasus ini pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai satu video berdurasi singkat.

Program MBG merupakan program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan anak-anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya. Ketika muncul persoalan keamanan pangan, kepercayaan masyarakat menjadi salah satu aspek yang ikut dipertaruhkan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Bantul Hermawan Setiaji juga menyayangkan beredarnya video tersebut. Menurutnya, kejadian itu dapat mengganggu upaya pemerintah daerah membantu BGN membangun kepercayaan masyarakat terhadap program MBG di Bantul.

Karena itu, teguran BGN terhadap pegawai dan SPPG Muntuk tidak berhenti pada persoalan etika bermedia sosial. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa setiap personel yang berada di dalam ekosistem MBG membawa tanggung jawab yang lebih besar: menjaga profesionalitas, menghormati penerima manfaat, dan tidak meremehkan persoalan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.

Di tengah program berskala nasional, kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui makanan yang dibagikan, tetapi juga melalui sikap orang-orang yang berada di balik pelayanan tersebut.

Sumber : antara.com

(Srt/Dprs)

Tinggalkan Balasan