DEPOK, TERASDEPOK.COM – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan istilah “londo ireng” dengan sebagian wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Organisasi pers tersebut menilai narasi itu berpotensi memunculkan stigma negatif terhadap profesi wartawan serta berdampak pada iklim kebebasan pers di Indonesia.
Ketua PWI Surakarta terpilih, Sri Hartanto, menegaskan bahwa kerja jurnalistik dijalankan berdasarkan fakta, data, dan verifikasi di lapangan. Karena itu, menurutnya, sikap kritis media terhadap berbagai kebijakan pemerintah merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial dalam sistem demokrasi. Bukan bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing.
Ia menilai penggunaan istilah seperti “londo ireng” maupun “antek asing” untuk menggambarkan wartawan berpotensi membentuk persepsi keliru di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat profesi jurnalis dipandang sebagai pihak yang memusuhi negara, sehingga meningkatkan risiko ancaman terhadap keselamatan wartawan saat menjalankan tugas peliputan.
Sri Hartanto berharap Presiden sebagai kepala negara dapat memandang peran pers secara lebih proporsional. Menurutnya, pers merupakan mitra demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pers, bukan musuh pemerintah.
Pernyataan tersebut merupakan respons atas pidato Presiden Prabowo Subianto dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dalam pidatonya, Prabowo menyebut istilah “londo ireng” masih ada hingga kini dan mengaitkannya dengan sebagian wartawan, jurnalis, pengamat, serta LSM. Ia juga menegaskan pemerintah tidak antikritik, tetapi meminta kritik disampaikan secara proporsional.
Di sisi lain, pernyataan Presiden tersebut memicu beragam tanggapan dari kalangan pers. Sejumlah organisasi kewartawanan menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari fungsi pers dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, dan kualitas demokrasi.
Sumber: Fokus Jateng, RRI, Media Indonesia.












Respon (1)